Beritakalbar.com – Presiden Prabowo Subianto menyebut investasi di Indonesia telah menciptakan jutaan lapangan kerja. Pernyataan tersebut tentu menjadi kabar menggembirakan di tengah kebutuhan masyarakat terhadap pekerjaan dan meningkatnya tuntutan agar pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat nyata bagi rakyat.
Dalam pidato kenegaraan pada 14 Agustus 2026, Prabowo menyinggung kontribusi investasi terhadap penciptaan lapangan kerja.
Data pemerintah menunjukkan realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp1.931,2 triliun dengan penyerapan sekitar 2,71 juta tenaga kerja.
Sementara pada semester I 2026, realisasi investasi mencapai sekitar Rp1.010,6 triliun dengan penyerapan sekitar 1,45 juta tenaga kerja.
Secara angka, memang terdapat jutaan tenaga kerja yang tercatat terserap melalui kegiatan investasi.
Namun, muncul pertanyaan berikutnya: apakah jutaan tenaga kerja yang terserap tersebut otomatis berarti jutaan lapangan kerja berkualitas telah tercipta?
Jutaan Pekerja Belum Tentu Pekerjaan Berkualitas
Angka penyerapan tenaga kerja memang penting untuk menunjukkan dampak investasi.
Namun, angka tersebut belum cukup untuk menggambarkan kualitas pekerjaan yang tercipta.
Data penyerapan tenaga kerja tidak secara otomatis menjelaskan berapa banyak pekerja yang mendapatkan status permanen, berapa yang masih berstatus kontrak, berapa tingkat upah yang diterima, serta apakah seluruh pekerja memperoleh perlindungan sosial yang memadai.
Karena itu, klaim mengenai jutaan lapangan kerja perlu dibaca secara lebih kritis.
Pertanyaannya bukan hanya berapa banyak masyarakat yang bekerja setelah investasi masuk, tetapi juga apakah pekerjaan tersebut memberikan penghasilan yang layak dan meningkatkan kesejahteraan pekerja.
Angka besar memang penting.
Namun, kualitas pekerjaan jauh lebih penting bagi kehidupan masyarakat.
Investasi Harus Meningkatkan Kualitas Tenaga Kerja
Dalam teori human capital, investasi yang baik tidak hanya menciptakan pekerjaan.
Investasi juga seharusnya meningkatkan kemampuan dan produktivitas tenaga kerja melalui pendidikan, pelatihan, teknologi, serta pengalaman kerja.
Jika investasi hanya menyerap pekerja dengan upah rendah tanpa meningkatkan keterampilan mereka, manfaat jangka panjangnya menjadi lebih terbatas.
Karena itu, ukuran keberhasilan investasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan berapa banyak orang yang bekerja.
Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa banyak pekerja yang memperoleh keterampilan baru dan mengalami peningkatan kelas ekonomi.
Pekerja yang sebelumnya berada pada pekerjaan berproduktivitas rendah idealnya dapat memperoleh kesempatan untuk masuk ke pekerjaan yang lebih produktif dengan pendapatan yang lebih baik.
Efek Pengganda Investasi
Investasi juga dapat memberikan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian.
Dalam teori Keynesian multiplier, masuknya investasi dapat menciptakan efek pengganda.
Ketika sebuah perusahaan membangun pabrik, misalnya, muncul kebutuhan terhadap tenaga kerja, pemasok, transportasi, makanan, jasa, hingga berbagai kegiatan ekonomi lainnya.
Artinya, satu investasi dapat menciptakan aktivitas ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan nilai investasi awal.
Namun, efek tersebut sangat bergantung pada seberapa besar investasi menggunakan tenaga kerja dan rantai pasok dalam negeri.
Jika bahan baku, mesin, teknologi, maupun tenaga ahli sebagian besar berasal dari luar negeri, maka sebagian manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat kembali mengalir ke luar Indonesia.
Karena itu, besarnya investasi belum tentu selalu sebanding dengan besarnya manfaat ekonomi yang tinggal di dalam negeri.
Hilirisasi Tidak Selalu Padat Karya
Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena pemerintah mendorong investasi melalui hilirisasi.
Hilirisasi dapat meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dan membuka kesempatan kerja.
Namun, sejumlah industri hilirisasi juga memiliki karakter padat modal.
Artinya, investasi bernilai sangat besar belum tentu menghasilkan jumlah lapangan kerja yang sebanding.
Sebuah proyek dengan nilai investasi triliunan rupiah bisa saja hanya membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah relatif terbatas karena menggunakan teknologi dan mesin dalam skala besar.
Karena itu, keberhasilan investasi tidak cukup diukur dari berapa triliun rupiah modal yang masuk.
Pemerintah juga perlu melihat berapa banyak pekerjaan berkualitas yang tercipta dan seberapa besar nilai tambah yang benar-benar tinggal di Indonesia.
Pertumbuhan Ekonomi Harus Dirasakan Pekerja
Dalam teori trickle-down economics, keuntungan dari investasi diharapkan pada akhirnya mengalir kepada masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, konsumsi, dan pertumbuhan ekonomi.
Namun, manfaat tersebut tidak otomatis terbagi secara merata.
Jika keuntungan perusahaan meningkat jauh lebih cepat dibandingkan pendapatan pekerja, pertumbuhan ekonomi dapat terjadi tanpa peningkatan kesejahteraan yang sebanding.
Karena itu, investasi perlu disertai perlindungan pekerja, peningkatan keterampilan, penguatan UMKM, serta kebijakan yang memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh pemilik modal.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan kehilangan sebagian maknanya apabila pekerja yang berada di dalam mesin pertumbuhan tersebut tidak mengalami peningkatan kesejahteraan.
Persoalan Pemerataan
Tantangan lainnya adalah pemerataan manfaat investasi.
Dalam konsep inclusive growth, pertumbuhan ekonomi baru benar-benar bermakna apabila manfaatnya dirasakan oleh masyarakat secara luas.
Jika investasi hanya terkonsentrasi di kawasan industri tertentu, masyarakat di daerah lain belum tentu mendapatkan manfaat yang sama.
Karena itu, pemerintah perlu memastikan investasi juga memperkuat ekonomi lokal.
UMKM harus mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari rantai pasok, pemasok domestik perlu diperkuat, dan masyarakat di sekitar kawasan investasi harus memperoleh peluang kerja.
Dengan demikian, investasi tidak hanya menciptakan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi baru di daerah.
Pemerintah Perlu Buka Data Kualitas Pekerjaan
Karena itu, angka jutaan tenaga kerja yang terserap sebaiknya tidak ditolak begitu saja.
Namun, angka tersebut juga tidak cukup diterima secara mentah.
Pemerintah perlu membuka data yang lebih rinci mengenai kualitas pekerjaan yang tercipta.
Berapa pekerja yang menjadi pegawai tetap?
Berapa yang masih berstatus kontrak?
Berapa rata-rata upah yang diterima?
Berapa pekerja yang mendapatkan jaminan sosial?
Dan berapa banyak pekerja yang memperoleh peningkatan keterampilan setelah masuk ke industri hasil investasi?
Data tersebut penting agar masyarakat dapat menilai apakah investasi benar-benar menciptakan decent work, bukan sekadar membuat angka penyerapan tenaga kerja terlihat besar.
Investasi Bukan Tujuan Akhir
Indonesia memang membutuhkan investasi.
Investasi diperlukan untuk meningkatkan produktivitas, membangun industri, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan penerimaan negara, dan memperkuat pertumbuhan ekonomi.
Namun, investasi bukan tujuan akhir pembangunan.
Investasi adalah alat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, ukuran keberhasilannya tidak boleh berhenti pada angka Rp1.931 triliun investasi sepanjang 2025 dan jutaan tenaga kerja yang terserap.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah jutaan pekerja tersebut benar-benar hidup lebih sejahtera.
Apakah pendapatan mereka meningkat?
Apakah keterampilan mereka bertambah?
Apakah mereka memperoleh perlindungan sosial?
Dan apakah pekerjaan tersebut mampu memberikan masa depan ekonomi yang lebih baik bagi keluarga mereka?
Klaim Prabowo Punya Dasar, Tetapi Perlu Dilihat Lebih Dalam
Klaim Prabowo bahwa investasi telah menciptakan jutaan lapangan kerja memiliki dasar dalam data penyerapan tenaga kerja yang dilaporkan pemerintah.
Namun, makna dari angka tersebut tetap perlu ditempatkan secara proporsional.
Benar bahwa kegiatan investasi dikaitkan dengan penyerapan jutaan tenaga kerja.
Tetapi apakah seluruhnya merupakan pekerjaan baru yang permanen, layak, bergaji baik, memiliki perlindungan sosial, dan mampu meningkatkan kelas ekonomi masyarakat masih membutuhkan data serta analisis lebih lanjut.
Karena pada akhirnya, investasi yang baik bukan hanya investasi yang besar nilainya.
Investasi yang baik adalah investasi yang besar pula manfaatnya bagi rakyat.
Jutaan angka penyerapan tenaga kerja memang layak diapresiasi.
Tetapi ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika jutaan pekerja tersebut tidak hanya memiliki pekerjaan, melainkan juga memiliki kehidupan yang lebih sejahtera. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan