Beritabanten.com – KH Baharudin, Pimpinan Pesantren Daal El Hikam, dalam kajiannya membahas kitab Nuruzh Zholam karya Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, khususnya halaman 32–33 mengenai ru’yatullah atau melihat Allah SWT.

Ini mengemuka dalam pengajian MUI Kota Tangerang Selatan yang digelar di Islamic Center Baiturahmi BSD, Tangerang Selatan, Rabu 19 Agustus 2026.

Dalam kajiannya, KH Baharudin menjelaskan bahwa melihat Allah SWT merupakan kenikmatan paling agung yang akan diberikan kepada orang-orang beriman di akhirat, melebihi seluruh kenikmatan surga yang lain.

Salah satu dalil yang menjadi dasar pembahasan tersebut adalah firman Allah SWT dalam QS. Al-Qiyamah ayat 22–23, وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ ۝ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (Wujūhun yauma’idzin nāḍirah, ilā rabbihā nāẓirah), yang berarti, “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat.”

KH Baharudin menerangkan bahwa ayat tersebut menjadi salah satu dalil yang digunakan ulama Ahlussunnah wal Jamaah dalam menetapkan adanya ru’yatullah, yakni orang-orang beriman akan mendapatkan kenikmatan melihat Allah SWT di akhirat.

Menurut penjelasan KH Baharudin, kenikmatan melihat Allah SWT begitu agung sehingga kenikmatan surga berupa istana, makanan, minuman, bidadari dan berbagai kesenangan lainnya akan terasa kecil dibandingkan dengan kemuliaan memandang Allah SWT.

Ketika hijab atau penghalang dibukakan dan orang-orang beriman memperoleh kenikmatan melihat Allah SWT, akan terbuka perbedaan yang sangat mencolok antara kenikmatan tersebut dengan seluruh kenikmatan lainnya sehingga perhatian hati tidak lagi tertuju kepada kenikmatan surga sebagaimana sebelumnya.

Untuk menggambarkan suasana batin tersebut, KH Baharudin mengibaratkannya dengan kisah klasik Arab tentang seorang laki-laki yang mencintai seorang perempuan bernama Fatimah yang datang ke rumahnya dan disuguhi berbagai hidangan lezat.

Ketika Fatimah datang menghampiri dengan kecantikan dan keanggunannya, laki-laki tersebut seakan lupa terhadap kelezatan hidangan yang sebelumnya berada di hadapannya karena perhatian dan hatinya telah tertuju kepada perempuan yang sangat dicintainya.

Perumpamaan itu menggambarkan bahwa kecintaan yang mendalam kepada Allah SWT dapat mengalahkan perhatian terhadap seluruh kenikmatan lainnya, sebagaimana kecantikan Fatimah dalam kisah tersebut membuat seseorang melupakan hidangan yang lezat.

Dengan demikian, mencintai Allah SWT merupakan kenikmatan yang lebih tinggi daripada sekadar mencintai surga, sebab ketika seorang hamba memperoleh kenikmatan melihat Allah SWT, seluruh kenikmatan surga lainnya menjadi tidak sebanding dengan keagungan perjumpaan tersebut.

KH Baharudin juga menegaskan bahwa melihat Allah SWT tidak berarti Allah menyerupai makhluk atau dapat dibayangkan bentuk dan keadaan-Nya karena Allah SWT berbeda dengan seluruh makhluk dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.

Pembahasan ru’yatullah tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kerinduan kepada Allah SWT dalam hati para santri sehingga ibadah tidak hanya dilakukan karena mengharapkan surga, tetapi juga sebagai wujud cinta, penghambaan dan kerinduan kepada Allah SWT.

Melalui kajian kitab Nuruzh Zholam, KH Baharudin mengajak para santri untuk memperkuat tauhid, menjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah, meningkatkan kualitas ibadah dan menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT sebagai tujuan tertinggi kehidupan seorang mukmin. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com