Beritabanten.com – Sebuah alun-alun bukan sekadar hamparan tanah di tengah kota. Di sana warga berjalan, anak-anak bermain, keluarga berkumpul, pedagang mencari penghasilan, dan wajah sebuah kota dipertontonkan kepada siapa saja yang datang.
Kini, wajah Alun-alun Kota Serang sedang dipersiapkan untuk berubah. Pemerintah Kota Serang mengalokasikan anggaran Rp48.227.815.000 dari APBD untuk revitalisasi kawasan tersebut.
Proyek itu mencakup Alun-alun Barat dan Timur, dibagi dalam empat zona, dengan rencana menghadirkan lapangan upacara, air mancur, ikon Golok Banten, ruang bermain, food court, lapangan tenis, area parkir, hingga fasilitas air siap minum.
Angka Rp48,2 miliar tentu bukan angka kecil.
Ia cukup besar untuk membuat publik berhenti sejenak dan bertanya: seberapa besar manfaat yang kelak dirasakan masyarakat dari pembangunan tersebut?
Pertanyaan itu bukan berarti menolak pembangunan ruang publik. Kota memang membutuhkan ruang terbuka yang layak, indah, aman, dan mampu menjadi pusat interaksi masyarakat. Identitas budaya seperti Golok Banten pun penting dihadirkan agar pembangunan fisik tidak kehilangan akar sejarah dan kebudayaan daerah.
Namun, setiap rupiah APBD juga membawa cerita tentang kebutuhan warga yang belum seluruhnya selesai.
Di balik angka puluhan miliar itu ada keluarga yang masih berjuang memenuhi kebutuhan pangan. Ada anak-anak yang membutuhkan perhatian gizi. Ada persoalan stunting yang masih menjadi pekerjaan rumah. Data Pemerintah Provinsi Banten mencatat prevalensi stunting Kota Serang sebesar 22,9 persen pada 2024. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pembangunan manusia masih membutuhkan perhatian serius.
Di sinilah Rp48 miliar menjadi lebih dari sekadar angka dalam papan proyek.
Nilai tersebut juga perlu dilihat berdampingan dengan besarnya kebutuhan penanganan stunting, kesehatan, pendidikan, sanitasi, kemiskinan, hingga pelayanan dasar lainnya. Perbandingan itu bukan berarti seluruh anggaran revitalisasi harus dialihkan untuk stunting, karena setiap program memiliki fungsi dan perencanaan masing-masing. Namun, angka tersebut tetap layak menjadi bahan perenungan mengenai skala prioritas pembangunan.
Sebab pembangunan kota pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana kota terlihat dari luar, tetapi bagaimana warganya hidup di dalamnya.
Alun-alun yang cantik tentu membanggakan. Patung Golok Banten dapat menjadi simbol identitas Banten. Air siap minum menjadi fasilitas yang menarik. Ruang bermain dan ruang interaksi publik juga penting bagi kehidupan sosial masyarakat.
Tetapi kota yang benar-benar maju mestinya mampu menghadirkan keduanya sekaligus: ruang publik yang membanggakan dan pelayanan dasar yang semakin kuat.
Warga tentu berharap revitalisasi tidak berhenti pada bangunan yang indah ketika proyek selesai. Jangan sampai kemegahan fisik hanya menjadi latar belakang foto, sementara persoalan kesehatan, gizi, pendidikan, kemiskinan, lapangan pekerjaan, sanitasi, jalan lingkungan, dan kebutuhan dasar lainnya masih berjalan tertatih.
Di sinilah tantangan terbesar pemerintah daerah: memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan bukan hanya menghasilkan bangunan, tetapi menghasilkan manfaat.
Ruang publik dapat menjadi simbol kemajuan. Namun, anak yang tumbuh sehat, keluarga yang keluar dari kemiskinan, pendidikan yang semakin baik, lingkungan yang bersih, serta pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau adalah simbol kemajuan yang jauh lebih dalam.
Kota Serang sedang memilih wajah barunya. Pertanyaannya bukan sekadar seperti apa alun-alun setelah Rp48 miliar digelontorkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah seperti apa kehidupan warga Serang setelah anggaran sebesar itu dibelanjakan.
Jika alun-alun kelak menjadi tempat warga berkumpul, semoga ia juga menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak boleh hanya memperindah ruang kota. Pembangunan harus memperindah kehidupan manusia yang tinggal di dalamnya.
Karena APBD bukan sekadar angka. Di dalamnya ada uang rakyat, ada kebutuhan rakyat, dan ada janji pemerintah untuk menghadirkan kesejahteraan.
Maka, Rp48 miliar untuk alun-alun seharusnya tidak berhenti menjadi cerita tentang patung Golok dan wajah baru kota. Ia harus menjadi bagian dari pertanyaan yang lebih besar: sudahkah setiap rupiah anggaran benar-benar ditempatkan pada kebutuhan masyarakat yang paling mendesak dan paling memberi manfaat bagi masa depan? (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan