Beritabanten.com – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menjenguk seorang siswi SMK Negeri 1 Berastagi, Kabupaten Karo, yang menjadi korban dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Rumah Sakit Haji Medan, Jumat (15/8/2026).
Dalam kunjungannya, Sudaryono menyampaikan bahwa kondisi korban mulai menunjukkan perkembangan yang membaik meski masih menjalani perawatan intensif. Ia berharap siswi tersebut dapat segera pulih dan kembali beraktivitas. Sudaryono juga mengultimatum sekitar 27.000 dapur MBG di seluruh Indonesia agar menjadikan insiden ini sebagai peringatan keras. Menurutnya, program MBG menyangkut keselamatan anak-anak sehingga tidak boleh ada kelalaian dalam proses pengolahan maupun distribusi makanan. Ia mengaku merasakan kesedihan sekaligus kemarahan atas terjadinya peristiwa tersebut.
Namun, di balik langkah cepat Kepala BGN menjenguk korban, muncul pertanyaan yang lebih mendasar. Sampai kapan kasus dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis akan terus berulang? Apakah setiap kali terjadi insiden, Kepala BGN harus turun langsung menjenguk korban di rumah sakit? Kehadiran pimpinan memang menunjukkan kepedulian, tetapi yang lebih dibutuhkan masyarakat adalah sistem yang mampu mencegah kejadian serupa sejak awal.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program strategis nasional dengan dukungan anggaran negara yang sangat besar. Karena itu, pengawasan terhadap seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) seharusnya dilakukan secara ketat dan berkelanjutan. Tidak boleh ada pengelola dapur yang mengejar keuntungan dengan mengorbankan kualitas bahan baku, mengurangi standar kebersihan, atau mengabaikan prosedur keamanan pangan. Setiap rupiah yang berasal dari APBN harus digunakan untuk menyediakan makanan yang aman, sehat, dan bergizi bagi para siswa.
Kasus dugaan keracunan yang masih terus terjadi menunjukkan bahwa evaluasi terhadap SPPG perlu diperkuat. Pemerintah tidak cukup hanya memberikan teguran setelah muncul korban, tetapi harus melakukan audit rutin, inspeksi mendadak, pengujian laboratorium terhadap makanan, serta memberikan sanksi tegas kepada pengelola yang terbukti lalai. Jika ditemukan SPPG yang lebih mementingkan keuntungan daripada keselamatan penerima manfaat, maka kerja samanya harus dihentikan dan diganti dengan penyelenggara yang memenuhi standar.
Keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jutaan porsi makanan yang dibagikan setiap hari, tetapi dari jaminan bahwa setiap makanan tersebut aman dikonsumsi. Masyarakat tentu berharap tidak ada lagi anak yang menjadi korban keracunan, dan Kepala BGN tidak perlu lagi berulang kali datang ke rumah sakit untuk menjenguk korban. Yang dibutuhkan adalah sistem pengawasan yang kuat, akuntabel, dan konsisten sehingga program yang didanai dengan anggaran besar ini benar-benar memberikan manfaat tanpa mengorbankan keselamatan anak-anak. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan