Beritabanten.com — Dua peristiwa, dua tahun berturut-turut, sama-sama terjadi di bulan Agustus, sama-sama melibatkan demonstrasi dan kekerasan, sama-sama memakan korban jiwa. Namun respons negara dan perhatian publik terhadap korban menunjukkan perbedaan yang mencolok. Inilah yang membuat perbandingan antara demo Agustus 2025 dan kerusuhan 27 Agustus 2026 menjadi penting untuk dibaca sebagai cermin perubahan sikap kekuasaan.

Pada Agustus 2025, gelombang demonstrasi terjadi secara masif di berbagai kota di Indonesia. Data dari lembaga bantuan hukum mencatat sedikitnya 10 orang meninggal dunia, lebih dari 1.000 luka-luka, dan lebih dari 3.300 orang ditangkap. Kematian-kematian itu tidak berlalu begitu saja. Salah satu yang paling menyulut kemarahan publik adalah tewasnya seorang pengemudi ojek online yang diduga terlindas kendaraan aparat, yang kemudian memicu eskalasi nasional. Peristiwa ini menjadi simbol—bahwa negara dianggap hadir secara represif, dan publik merespons dengan tekanan besar.

Dampaknya nyata. Demonstrasi 2025 memaksa munculnya reaksi politik: kritik luas, tekanan masyarakat sipil, bahkan perubahan di tingkat elite, termasuk perombakan kebijakan dan pejabat. Negara tidak bisa diam karena skalanya besar, tekanannya masif, dan narasinya jelas: ada korban, ada pelaku yang diduga, dan ada tuntutan yang mengarah langsung ke kekuasaan.

Bandingkan dengan 2026. Kerusuhan 27 Agustus memang lebih terbatas secara skala, tetapi tetap memakan korban jiwa—seorang warga sipil bernama Bambang Setiyawan yang meninggal di tengah bentrokan. Ratusan orang ditangkap, puluhan jadi tersangka, namun satu hal yang mencolok: tidak ada gelombang respons politik sebesar tahun sebelumnya. Bahkan hingga kini, penyebab pasti kematian dan siapa yang bertanggung jawab masih belum terang sepenuhnya. Di sinilah perbedaan paling tajam muncul.

Pada 2025, korban menjadi pusat narasi. Mereka disebut, dibela, dijadikan simbol perjuangan. Negara didorong untuk menjawab. Sementara pada 2026, korban justru tenggelam dalam narasi “kerusuhan”. Fokus bergeser ke pengendalian massa, penangkapan pelaku lapangan, dan stabilitas keamanan. Korban menjadi angka—bukan lagi simbol. Mengapa ini bisa terjadi?

Pertama, skala menentukan tekanan. Tahun 2025 adalah gelombang nasional yang sulit diabaikan. Tahun 2026 lebih lokal dan fragmentaris. Dalam logika kekuasaan, tekanan kecil lebih mudah diredam tanpa respons besar.

Kedua, kejelasan narasi. Pada 2025, ada figur korban yang jelas terkait dengan tindakan aparat, sehingga memicu kemarahan publik. Pada 2026, narasi masih kabur—apakah korban tewas karena aparat, karena massa, atau karena pihak lain. Ketidakjelasan ini membuat negara memiliki ruang untuk menunda sikap.

Ketiga, kemungkinan adanya aktor non-negara dalam 2026. Jika benar ada keterlibatan kelompok sipil atau ormas dalam kerusuhan, maka kasus menjadi lebih sensitif. Negara tidak hanya berhadapan dengan demonstran, tetapi juga dengan jaringan sosial-politik yang lebih kompleks. Akibatnya, respons menjadi lebih hati-hati—atau terlihat dingin.

Keempat, perubahan pola pengelolaan krisis. Jika 2025 dihadapi dengan respons terbuka (meski represif), maka 2026 menunjukkan kecenderungan berbeda: meredam, meminimalkan, dan menghindari eskalasi narasi. Ini bukan berarti lebih baik, tetapi menunjukkan perubahan strategi—dari konfrontasi ke kontrol senyap.

Namun apa pun perbedaannya, satu hal tetap sama: korban adalah warga biasa. Bukan elite, bukan pengambil keputusan, melainkan rakyat yang berada di ruang yang salah pada waktu yang salah. Dan di sinilah persoalan moral muncul. Mengapa satu korban bisa mengguncang negara, sementara korban lain nyaris hilang dari perhatian?

Perbandingan ini pada akhirnya bukan soal angka korban, tetapi soal nilai sebuah nyawa di mata kekuasaan. Jika respons negara berbeda tergantung konteks politiknya, maka yang dipertanyakan bukan hanya kebijakan, tetapi prinsip dasar keadilan itu sendiri. Apakah semua nyawa memiliki nilai yang sama di hadapan negara? Atau nilai itu berubah tergantung seberapa besar tekanan yang muncul? Pertanyaan ini belum dijawab. Dan selama belum dijawab, peristiwa Agustus 2026 akan selalu terlihat sebagai bayangan sunyi dari tragedi yang lebih besar di tahun sebelumnya. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com