Beritabanten.com — Transformasi media digital mendorong perubahan besar dalam pola komunikasi Islam. Perkembangan media sosial, platform video, podcast hingga kecerdasan buatan (AI) dinilai perlu direspons melalui penguatan akademik, literasi digital, dan pembaruan kurikulum pendidikan komunikasi Islam.
Hal tersebut disampaikan Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, dalam forum akademik yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi media, serta pengelola Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan mancanegara, Jakarta, 12 Agustus 2026.
Dalam pemaparannya, Prof. Tholabi mengatakan media digital saat ini tidak lagi sebatas menjadi sarana penyampaian informasi. Media digital telah berkembang menjadi ruang pembentukan identitas, medium dakwah, arena ekonomi kreatif, sekaligus wadah pertukaran gagasan di tengah masyarakat.
Menurutnya, perubahan tersebut membuat komunikasi Islam harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan landasan keilmuan dan nilai-nilai keislaman.
“Komunikasi Islam harus mampu hadir secara adaptif di tengah perubahan teknologi, tetapi tetap memiliki landasan akademik yang kuat, etika publik, serta literasi digital yang memadai,” ujar Prof. Tholabi.
Ia menilai tema forum akademik bertajuk “Media, the Contemporary Muslim World, and Digital Network Society: Authority, Identity, and Social Transformation” sangat relevan dengan dinamika masyarakat Muslim saat ini.
Menurutnya, perkembangan teknologi telah memengaruhi cara masyarakat memperoleh informasi, membangun identitas, berinteraksi, hingga memahami otoritas keagamaan.
Karena itu, kajian komunikasi Islam perlu terus dikembangkan melalui pendekatan ilmiah agar mampu membaca perubahan sosial sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Prof. Tholabi juga menyoroti peran strategis Asosiasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (ASKOPIS) dalam memperkuat jejaring akademik antarperguruan tinggi.
ASKOPIS dinilai dapat menjadi wadah untuk mendorong kolaborasi riset, publikasi ilmiah, pertukaran dosen dan mahasiswa, hingga memperluas kerja sama internasional.
“Forum seperti ini jangan berhenti pada pertemuan akademik, tetapi harus menghasilkan kolaborasi konkret dan berkelanjutan antarperguruan tinggi,” katanya.
Selain memperkuat jejaring akademik, Prof. Tholabi juga mendorong pembaruan kurikulum Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam agar lebih relevan dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, perkembangan kecerdasan buatan, ekonomi kreator digital, perubahan budaya komunikasi, serta transformasi media global harus menjadi bagian dari perhatian dalam pengembangan pendidikan KPI.
Lulusan KPI, kata dia, tidak cukup hanya memiliki kemampuan komunikasi. Mereka juga dituntut memiliki pemahaman keislaman yang mendalam, kemampuan riset, literasi digital, serta integritas moral.
Dengan kompetensi tersebut, lulusan KPI diharapkan mampu menghadapi perubahan industri media sekaligus tetap memiliki fondasi keislaman yang kuat.
Forum akademik tersebut juga diisi dengan berbagai kegiatan ilmiah, di antaranya workshop penulisan artikel untuk jurnal internasional, forum pengelola jurnal KPI dan dakwah, serta presentasi makalah dari para peneliti muda.
Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat budaya akademik berbasis riset sekaligus meningkatkan kualitas publikasi ilmiah di tingkat global.
Kehadiran akademisi dan peserta dari berbagai negara juga dinilai menjadi peluang untuk memperluas jejaring keilmuan sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat kajian komunikasi Islam di kawasan Asia Tenggara.
Prof. Tholabi berharap forum tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama akademik dan menghasilkan berbagai program kolaboratif yang memberikan manfaat lebih luas.
“Melalui kerja sama yang kuat, kita dapat membangun masa depan komunikasi Islam yang lebih inklusif, adaptif, dan berdaya saing global,” pungkasnya. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan