Beritabanten.com — Menyeberangi Selat Sunda menggunakan kapal feri tidak menghalangi penumpang untuk tetap menjalankan ibadah. Di atas kapal veri PT Dharma Lautan Utama, tersedia mushola yang dapat digunakan penumpang selama perjalanan.

Mushola tersebut memiliki luas sekitar 4 x 8 meter. Ruangan berada di bagian kapal yang mudah dijangkau penumpang sehingga dapat digunakan ketika waktu salat tiba.

Suasana di dalam mushola cukup sederhana, tetapi tertata rapi. Salah satu sisi ruangan dilengkapi jendela yang menghadap langsung ke laut sehingga penumpang dapat melihat hamparan perairan Selat Sunda selama berada di dalam mushola.

Keberadaan jendela tersebut juga memberikan suasana berbeda saat beribadah. Gemuruh mesin kapal berpadu dengan pemandangan laut yang terbentang luas di luar jendela.

Fasilitas tempat wudhu juga tersedia bagi penumpang. Dengan adanya fasilitas tersebut, penumpang tidak harus kembali ke area utama kapal untuk mengambil air wudhu sebelum melaksanakan salat.

Untuk kebutuhan buang air kecil, tersedia dua toilet portable berbentuk kotak. Fasilitas tersebut menjadi salah satu penunjang bagi penumpang selama perjalanan berlangsung.

Perlengkapan ibadah juga telah disediakan. Penumpang dapat menggunakan sarung, mukena, maupun Al-Qur’an yang ditata secara rapi di dalam mushola.

Penumpang yang tidak membawa perlengkapan ibadah dari rumah tetap dapat memanfaatkan fasilitas tersebut. Kondisi perlengkapan yang tertata membuat ruang ibadah terlihat lebih terawat.

Selain digunakan untuk salat, mushola tersebut terkadang dimanfaatkan untuk kegiatan pengajian oleh rombongan jemaah. Hal itu dimungkinkan karena di dalam ruangan juga tersedia mimbar.

Keberadaan mimbar membuat fungsi ruangan tidak hanya sebagai tempat salat individual, tetapi juga dapat digunakan untuk kegiatan keagamaan tertentu selama perjalanan.

Meski menjadi tempat ibadah, petugas kebersihan mengingatkan bahwa mushola tidak diperbolehkan digunakan sebagai tempat tidur. Penumpang diharapkan menjaga fungsi dan kenyamanan ruangan bagi pengguna lainnya.

Aturan tersebut juga penting mengingat ruang mushola digunakan secara bergantian oleh penumpang. Dengan menjaga kebersihan dan ketertiban, fasilitas dapat tetap nyaman digunakan sepanjang perjalanan.

Untuk arah kiblat, penumpang perlu menyesuaikan dengan posisi kapal dan rute perjalanan. Sebab, kapal terus bergerak selama berada di tengah Selat Sunda.

Penyesuaian arah kiblat menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh penumpang yang hendak melaksanakan salat di atas kapal. Kondisi tersebut merupakan bagian dari pengalaman beribadah ketika melakukan perjalanan melalui jalur laut.

Di tengah perjalanan, suasana mushola dapat menjadi tempat bagi penumpang untuk sejenak menjadikan badan tetap bugar dan sehat. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com