Beritabanten.com — Tabel pengelompokan pengeluaran yang beredar di media sosial perlu dibaca dengan hati-hati. Label seperti “kaya”, “sangat kaya”, atau “super kaya” bukanlah kategori resmi yang digunakan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk menyatakan seseorang kaya secara finansial.
BPS menjelaskan bahwa desil merupakan pemeringkatan relatif yang membagi keluarga ke dalam 10 kelompok berdasarkan posisi kesejahteraan relatifnya. Desil 1 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 berada pada posisi relatif paling tinggi.
Yang lebih penting, desil bukan sekadar angka pengeluaran bulanan. Dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), pemeringkatan keluarga mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial-ekonomi secara bersama-sama, antara lain kondisi rumah, sumber air, energi untuk memasak, kepemilikan aset, listrik, komposisi keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, hingga kondisi disabilitas.
BPS menggunakan pendekatan Proxy Means Test (PMT) dalam proses pemeringkatan tersebut.
Karena itu, misalnya seseorang mempunyai pengeluaran Rp3 juta per bulan, tidak otomatis berarti orang tersebut “super kaya”. Apalagi jika angka tersebut merupakan pengeluaran per kapita.
Sebagai ilustrasi, pengeluaran Rp3 juta per kapita pada keluarga yang terdiri dari empat orang berarti total pengeluaran rumah tangga sekitar Rp12 juta per bulan. Angka tersebut tetap harus dilihat dalam konteks jumlah anggota keluarga, lokasi tempat tinggal, harga kebutuhan, serta karakteristik sosial-ekonomi rumah tangga tersebut.
Di sinilah konsep standar hidup dan daya beli menjadi penting. Nominal yang sama dapat memiliki daya beli yang berbeda tergantung lokasi, tingkat harga kebutuhan, biaya perumahan, pendidikan, transportasi, kesehatan, dan berbagai kebutuhan lainnya.
BPS juga mengingatkan bahwa pengeluaran per kapita tidak sama dengan desil. Desil menunjukkan posisi relatif seseorang atau keluarga dalam distribusi kesejahteraan, bukan batas nominal tunggal yang menentukan seseorang kaya atau miskin.
Dengan kata lain, tidak tepat jika angka pengeluaran tertentu langsung diterjemahkan menjadi label “kaya” atau “miskin” tanpa melihat konteks statistik yang melatarbelakanginya.
Ada pula perbedaan mendasar antara pengeluaran, pendapatan, kekayaan, dan kesejahteraan. Orang yang memiliki pengeluaran Rp3 juta per bulan belum tentu memiliki pendapatan Rp3 juta. Begitu pula orang dengan pengeluaran tinggi belum tentu memiliki kondisi finansial yang sehat.
Pengeluaran tersebut bisa berasal dari pendapatan, tabungan, pencairan aset, bantuan, bahkan utang. Sebaliknya, seseorang dengan pengeluaran relatif rendah juga belum tentu memiliki tingkat kesejahteraan yang rendah apabila memiliki aset, tempat tinggal sendiri, atau karakteristik sosial-ekonomi lain yang diperhitungkan dalam pemeringkatan.
Karena itu, menyebut masyarakat dengan tingkat pengeluaran tertentu sebagai “kaya”, “sangat kaya”, atau “super kaya” dapat menyesatkan apabila konteks statistiknya dihilangkan.
Desil pada dasarnya digunakan sebagai alat pemetaan sosial-ekonomi untuk membantu pemerintah menentukan sasaran kebijakan dan program bantuan secara lebih tepat. Fungsinya bukan untuk menentukan siapa yang pantas disebut kaya.
Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap tabel yang beredar di media sosial apabila tabel tersebut menyederhanakan desil menjadi sekadar batas nominal pengeluaran. Angka yang ditampilkan bisa saja benar dalam konteks tertentu, tetapi kesimpulan yang ditarik dari angka tersebut belum tentu benar.
Pada akhirnya, statistik kesejahteraan seharusnya digunakan untuk memahami kondisi sosial-ekonomi masyarakat, bukan menjadi ukuran gengsi.
Desil menunjukkan posisi relatif dalam distribusi kesejahteraan. Ia bukan rapor kekayaan seseorang. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan