Beritabanten.com – Politik sering kali berbicara tentang kursi, kekuasaan, dan pertarungan pengaruh. Namun di sebuah hotel di Kota Cilegon, Sabtu 8 Agustus 2026, percakapan itu diarahkan ke sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: buruh, anak muda, dan aspirasi masyarakat.

Pelantikan Depidar dan Depicab SOKSI se-Provinsi Banten menjadi titik awal bagi Robinsar untuk menerima amanah sebagai Ketua Depidar SOKSI Banten. Di balik seremoni organisasi, terselip pekerjaan yang tidak ringan. Ia diminta membangun jaringan hingga lapisan bawah dan menjadikan kelompok pekerja sebagai bagian penting dari konsolidasi.

Ketua Umum SOKSI Mukhamad Misbakhun secara terbuka menyebut tugas tersebut sebagai pekerjaan besar. Banten, terutama Cilegon, memiliki karakter sebagai kawasan industri dengan jumlah pekerja dan buruh yang besar. Karena itu, SOKSI didorong tidak hanya hadir sebagai organisasi, tetapi mampu mendengar suara kelompok pekerja.

“Tugas beratnya adalah melakukan penggalangan. Karena Cilegon ini adalah basis industri dan beliau wali kota,” ujar Misbakhun.

Menurut dia, karakter SOKSI memang tidak dapat dilepaskan dari dunia kekaryawanan. Karena itu, pekerja dan buruh diharapkan dapat dirangkul untuk menjadi bagian dari organisasi, kemudian menyalurkan aspirasi politik melalui Partai Golkar.

Di titik inilah perjalanan Robinsar memasuki babak yang berbeda. Ia tidak hanya membawa posisi sebagai wali kota muda di Cilegon, tetapi juga memperoleh tanggung jawab memperluas ruang organisasi di tengah masyarakat yang kehidupannya bersentuhan langsung dengan industri.

Bagi Robinsar, pekerjaan pertama bukan sekadar mencari anggota baru. Ia menyebut konsolidasi hingga tingkat bawah sebagai fondasi utama. Aspirasi dari kabupaten dan kota di Banten harus dapat dihimpun agar tidak berhenti menjadi keluhan, tetapi mempunyai saluran untuk diperjuangkan.

“Kita menyerap aspirasi daerah. Kita membutuhkan jaringan. Harapannya, SOKSI juga bisa menjadi alternatif sarana untuk menyampaikan aspirasi dari Provinsi Banten maupun kabupaten dan kota agar bisa terinformasi dan tersampaikan dengan baik,” katanya.

Kalimat itu menjadi penting karena politik di tingkat lokal sering kali berjarak dengan kehidupan masyarakat. Buruh berbicara soal upah, kepastian kerja, transportasi, perumahan dan biaya hidup. Anak muda berbicara tentang lapangan pekerjaan, pendidikan dan ruang kreativitas. Sementara pemerintah berbicara tentang pembangunan dan investasi.

Jarak itulah yang hendak dipersempit melalui jaringan organisasi.

Misbakhun melihat Robinsar memiliki modal untuk menjalankan tugas tersebut. Kemampuan, kemauan dan dedikasi disebut menjadi bekal penting untuk menggerakkan organisasi. Bahkan, proses Musda, Rakerda hingga pelantikan yang berlangsung relatif cepat dinilai menunjukkan kemampuan Robinsar dalam melakukan konsolidasi.

“Pak Robinsar ini mempunyai kemampuan, punya kemauan, dan punya dedikasi. Semua modal ini tentunya menjadi sebuah kekuatan tersendiri,” kata Misbakhun.

Namun tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah panggung pelantikan ditutup. Konsolidasi organisasi membutuhkan lebih dari sekadar struktur kepengurusan. Ia membutuhkan kepercayaan masyarakat.

Bagi organisasi politik yang ingin bertahan panjang, masyarakat bukan sekadar angka dalam daftar anggota. Mereka adalah sumber legitimasi. Karena itu, program yang benar-benar dirasakan menjadi ukuran penting apakah organisasi mampu hadir atau hanya sibuk dengan urusan internal.

Robinsar menyadari hal tersebut. Ia menegaskan pendekatan kepada masyarakat harus dibangun melalui kerja nyata.

“Yang penting kita bekerja dan membuat program yang memang dirasakan langsung oleh masyarakat. Itu yang harus kita lakukan,” ujarnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi dirinya sendiri. Mengajak buruh dan generasi muda masuk ke ruang politik tidak cukup dengan ajakan menjadi kader. Mereka harus diyakinkan bahwa politik mampu menjadi jalan untuk memperjuangkan kepentingan mereka.

Robinsar juga mendapat mandat membangun komunikasi politik dengan Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Banten Andika Hazrumy. Misbakhun menilai keduanya yang sama-sama berasal dari generasi muda memiliki energi untuk memperkuat konsolidasi SOKSI dan Partai Golkar.

Tetapi di balik seluruh agenda tersebut, ada satu pekerjaan yang jauh lebih penting: memastikan politik tidak kehilangan manusia yang hendak diperjuangkannya.

Buruh bukan sekadar basis massa. Anak muda bukan sekadar target kaderisasi. Mereka adalah warga yang memiliki persoalan, harapan dan masa depan. Ketika organisasi politik mampu menjadikan aspirasi mereka sebagai bahan utama kerja, politik akan menemukan kembali maknanya sebagai ruang pengabdian.

Robinsar kini berada di persimpangan itu. Jabatan sebagai wali kota memberinya ruang untuk bekerja di pemerintahan, sementara kepemimpinan di SOKSI membawanya ke ruang politik dan organisasi yang lebih luas.

Dua ruang tersebut tentu memiliki tantangan berbeda. Namun keduanya bertemu pada satu kata: kepercayaan.

Jika konsolidasi hanya berhenti pada struktur, SOKSI akan menjadi sekadar organisasi dengan kepengurusan lengkap. Tetapi jika konsolidasi berhasil turun hingga ke pabrik, kampung, komunitas dan ruang anak muda, maka organisasi itu bisa menjadi jembatan antara suara masyarakat dan pengambil kebijakan.

Di Cilegon, kota industri yang denyut kehidupannya sangat dipengaruhi dunia kerja, pekerjaan tersebut tentu bukan perkara kecil.

Dari panggung pelantikan, Robinsar kini ditantang membuktikan bahwa politik tidak harus selalu dimulai dari atas. Ia bisa tumbuh dari bawah, dari suara buruh, keresahan anak muda, dan harapan masyarakat yang ingin didengar.

Sebab pada akhirnya, kekuatan sebuah organisasi politik bukan hanya diukur dari seberapa banyak orang yang berhasil dikumpulkan, tetapi seberapa banyak suara masyarakat yang benar-benar mampu diperjuangkan. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com