Beritabanten.com— Kasus dugaan keracunan setelah menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Ratusan santri dan santriwati mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG pada Selasa (1/9/2026). Keluhan yang dilaporkan antara lain pusing, mual, lemas, hingga membutuhkan penanganan medis.

Pada laporan awal, sebanyak 431 santri harus dievakuasi untuk mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan. Namun, jumlah korban kemudian bertambah dan dalam perkembangan terbaru mencapai 566 orang.

Menu yang dikonsumsi para santri diketahui berasal dari SPPG Kalitengah, Tanggulangin, bukan diproduksi oleh pihak pesantren.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Manba’ul Hikam Tanggulangin, KH Abdul Wachid Harun, menegaskan bahwa pesantren hanya berstatus sebagai penerima manfaat program.

“Soal SPPG bukan ditangani pesantren, tapi dari Kalitengah. Kami hanya menerima manfaat saja,” ungkapnya, dilihat AWnews.id, Rabu, 2 September 2026.

Bukan Kasus Pertama

Kasus di Sidoarjo menambah daftar panjang insiden dugaan gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan pelaksanaan program MBG di sejumlah daerah.

Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sepanjang 2025 tercatat 219 dugaan Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan (KLB KP) yang berkaitan dengan program MBG, dengan total korban mencapai 21.084 orang. Sementara hingga 12 Maret 2026, BPOM mencatat kembali 69 dugaan KLB keracunan pangan dengan 6.383 korban.

Sejumlah kejadian dengan jumlah korban besar juga tercatat pada 2026.

Di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, kasus dugaan keracunan MBG pada Januari 2026 dilaporkan melibatkan sedikitnya 261 peserta didik dan tenaga pendidik.

Sementara di Kota Semarang, pada 31 Juli 2026, Dinas Kesehatan setempat melaporkan sebanyak 707 orang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG yang dibagikan di sekolah.

Di Jakarta Timur, dugaan keracunan pada April 2026 juga berdampak terhadap siswa dari empat sekolah. Sebanyak 72 siswa dilaporkan menjalani perawatan setelah diduga terdampak makanan dari SPPG Pondok Kelapa II.

Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa keamanan pangan menjadi salah satu tantangan penting dalam pelaksanaan program MBG.

SPPG Kalitengah Disuspend

Setelah muncul dugaan keracunan massal di Sidoarjo, operasional SPPG Kalitengah untuk sementara dihentikan atau disuspend.

Langkah tersebut dilakukan sembari pemerintah dan pihak terkait melakukan pemeriksaan serta penyelidikan terhadap sumber gangguan kesehatan yang dialami para penerima manfaat.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo juga melakukan penanganan terhadap para korban dengan membuka posko medis di lingkungan pesantren. Sebagian korban menjalani rawat inap, sementara korban lainnya mendapatkan penanganan medis dan diperbolehkan menjalani perawatan jalan.

Penyebab Masih Diselidiki

Meski dugaan keracunan berkaitan dengan makanan MBG menjadi perhatian utama, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para santri di Sidoarjo masih menunggu hasil pemeriksaan.

Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah persoalan berkaitan dengan bahan baku, proses pengolahan, kebersihan, penyimpanan, distribusi, waktu konsumsi, atau faktor lainnya.

Karena itu, dugaan keterkaitan antara makanan MBG dengan kondisi kesehatan para korban perlu tetap ditempatkan sebagai bagian dari proses penyelidikan sampai hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi resmi diumumkan.

Kasus Sidoarjo sekaligus kembali menyoroti pentingnya pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG. Dengan jumlah korban yang telah mencapai 566 orang, pemerintah dan pihak terkait diharapkan segera mengungkap penyebab kejadian serta memastikan langkah pencegahan agar insiden serupa tidak kembali terjadi.

Keamanan makanan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberlanjutan program MBG, terlebih penerima manfaatnya didominasi anak-anak dan kelompok yang membutuhkan asupan gizi yang aman(Red)

 

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com