Beritabanten.com – Penurunan angka kemiskinan nasional tidak serta-merta mencerminkan seluruh masyarakat telah memiliki kondisi ekonomi yang kuat. Di balik data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan tingkat kemiskinan Indonesia turun menjadi 8,25 persen atau sekitar 23,36 juta jiwa pada September 2025, masih terdapat kelompok masyarakat yang rentan kembali jatuh miskin ketika menghadapi guncangan ekonomi.
Dibandingkan Maret 2025 yang mencatat angka kemiskinan 8,47 persen atau sekitar 23,85 juta jiwa, terjadi penurunan sekitar 490 ribu penduduk miskin. Namun, para ekonom menilai tantangan pembangunan saat ini tidak lagi hanya mengurangi jumlah penduduk miskin, melainkan memperkuat kelompok masyarakat yang berada sedikit di atas garis kemiskinan.
Dalam kajian ekonomi pembangunan, kelompok tersebut dikenal sebagai vulnerable group atau kelompok rentan. Mereka tidak lagi dikategorikan miskin berdasarkan ukuran BPS, tetapi belum memiliki pendapatan yang stabil, tabungan yang memadai, maupun perlindungan ekonomi yang cukup. Kenaikan harga pangan, kehilangan pekerjaan, sakit, atau perlambatan ekonomi dapat dengan cepat mendorong mereka kembali ke bawah garis kemiskinan.
Fenomena ini menjelaskan mengapa di satu sisi angka kemiskinan terus menurun, tetapi di sisi lain sebagian masyarakat masih merasakan tekanan ekonomi. Statistik BPS mengukur siapa yang berada di bawah garis kemiskinan, sedangkan rasa aman ekonomi dipengaruhi pula oleh kepastian pekerjaan, kemampuan menabung, dan daya tahan menghadapi risiko.
Perspektif Bank Dunia juga menunjukkan bahwa tantangan Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kemiskinan, tetapi juga besarnya kelompok masyarakat yang belum mencapai tingkat kesejahteraan sesuai standar negara berpendapatan menengah atas. Perbedaan ukuran tersebut bukan menunjukkan mayoritas masyarakat hidup dalam kemiskinan ekstrem, melainkan menggambarkan masih besarnya kelompok yang kondisi ekonominya relatif rentan.
Kelompok rentan di Indonesia sebagian besar berasal dari pekerja sektor informal, seperti pedagang kecil, buruh harian, petani, nelayan, pengemudi transportasi, pekerja lepas, hingga pelaku usaha mikro. Mereka memiliki penghasilan, tetapi pendapatannya cenderung tidak tetap dan sangat dipengaruhi kondisi ekonomi.
Selain itu, tekanan juga mulai dirasakan kelompok kelas menengah bawah. Kenaikan biaya perumahan, pendidikan, kesehatan, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari membuat sebagian masyarakat mengalami penurunan daya beli meskipun pendapatannya meningkat secara nominal. Kondisi ini mendorong munculnya kekhawatiran terhadap menyusutnya kelas menengah dan membesarnya kelompok rentan.
Para pengamat ekonomi menilai persoalan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya diikuti peningkatan kualitas pekerjaan. Sebagian besar lapangan kerja baru masih berada di sektor informal atau sektor dengan produktivitas yang relatif rendah, sehingga belum mampu memberikan kepastian pendapatan bagi pekerja.
Karena itu, strategi pengentasan kemiskinan dinilai perlu berkembang dari sekadar memberikan bantuan sosial menjadi memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat. Penciptaan lapangan kerja yang produktif, peningkatan keterampilan tenaga kerja, akses pembiayaan bagi usaha mikro, serta perlindungan sosial yang lebih luas menjadi faktor penting agar masyarakat tidak mudah kembali jatuh miskin.
Dengan demikian, tantangan pembangunan Indonesia ke depan bukan hanya menurunkan angka kemiskinan, tetapi juga memperbesar jumlah masyarakat yang memiliki pekerjaan layak, pendapatan stabil, dan kemampuan menghadapi berbagai guncangan ekonomi. Keberhasilan pembangunan pada akhirnya tidak hanya diukur dari berkurangnya penduduk miskin, tetapi juga dari semakin kuatnya ketahanan ekonomi rumah tangga Indonesia. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan