Beritabanten.com — Ketika seseorang membutuhkan pertolongan di tempat umum, orang-orang di sekitarnya tidak selalu langsung bertindak. Ada yang hanya memperhatikan, menunggu, atau menganggap orang lain akan mengambil tindakan terlebih dahulu. Situasi ketika seseorang cenderung tidak segera memberikan pertolongan karena ada orang lain yang juga hadir tersebut dikenal dalam psikologi sosial sebagai bystander effect.

Bystander effect bukan berarti orang-orang yang berada di sekitar sebuah kejadian tidak memiliki empati. Keberadaan banyak orang justru dapat membuat rasa tanggung jawab seseorang terasa terbagi. Ketika hanya satu orang yang melihat seseorang membutuhkan bantuan, ia mungkin merasa harus melakukan sesuatu. Namun ketika banyak orang hadir, muncul pikiran bahwa pasti ada orang lain yang akan membantu.

Masalahnya, orang lain mungkin juga memiliki pikiran yang sama.

Fenomena ini mulai banyak diteliti setelah kasus pembunuhan Kitty Genovese di New York pada 1964. Peristiwa tersebut kemudian mendorong psikolog sosial John Darley dan Bibb Latané melakukan penelitian mengenai perilaku orang yang menyaksikan keadaan darurat. Dalam penelitian yang diterbitkan pada 1968, keduanya menemukan bahwa keberadaan orang lain dapat memengaruhi kemungkinan seseorang memberikan pertolongan.

Salah satu penjelasan utama yang dikemukakan adalah diffusion of responsibility, yaitu kondisi ketika tanggung jawab untuk bertindak terasa tersebar di antara banyak orang. Semakin banyak orang yang berada di sekitar sebuah kejadian, seseorang dapat merasa bahwa dirinya tidak secara khusus bertanggung jawab untuk mengambil tindakan.

Bayangkan seseorang tiba-tiba jatuh di sebuah ruangan. Jika hanya kita yang berada di sana, kemungkinan kita akan langsung menghampiri dan menanyakan kondisinya. Namun jika terdapat banyak orang di sekitar, kita mungkin justru melihat reaksi mereka terlebih dahulu. Jika tidak ada yang bergerak, kita dapat menganggap situasinya tidak terlalu serius atau berpikir bahwa orang lain lebih tepat untuk membantu.

Dalam psikologi sosial, kondisi tersebut juga berkaitan dengan pluralistic ignorance. Seseorang sebenarnya merasa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi karena orang-orang di sekitarnya terlihat tenang, ia menganggap keadaan tersebut mungkin tidak separah yang dibayangkan. Orang lain dapat melakukan hal yang sama. Akibatnya, semua orang menunggu respons dari orang lain sementara orang yang membutuhkan bantuan tetap tidak mendapatkan pertolongan.

Namun, bystander effect tidak berarti bahwa semakin banyak orang yang hadir, semakin kecil kemungkinan seseorang akan menolong dalam setiap situasi. Penelitian berikutnya menunjukkan bahwa perilaku menolong jauh lebih kompleks. Kejelasan keadaan darurat, tingkat bahaya, kemampuan seseorang untuk membantu, hubungan dengan korban, serta konteks sosial dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk bertindak.

Karena itu, seseorang yang tidak langsung bertindak juga tidak selalu berarti tidak peduli. Bisa saja ia tidak yakin apakah keadaan tersebut benar-benar darurat. Ia mungkin takut mengambil tindakan yang salah, merasa orang lain lebih mampu membantu, atau bahkan khawatir membahayakan dirinya sendiri jika ikut campur.

Pemahaman mengenai bystander effect justru penting agar kita menyadari bahwa kecenderungan untuk menunggu orang lain bertindak dapat terjadi pada siapa saja. Kesadaran tersebut dapat membantu seseorang mengenali situasi ketika dirinya mulai berpikir bahwa orang lain pasti akan mengambil langkah terlebih dahulu.

Tindakan yang diperlukan juga tidak selalu besar. Ketika melihat seseorang membutuhkan pertolongan, kita dapat bertanya, “Kamu tidak apa-apa?” atau meminta bantuan kepada orang tertentu dengan jelas, seperti, “Tolong hubungi petugas.” Memberikan tanggung jawab secara langsung kepada seseorang dapat mengurangi kebingungan mengenai siapa yang harus bertindak.

Satu orang yang mulai bergerak juga dapat menjadi sinyal bagi orang lain bahwa memang ada sesuatu yang perlu dilakukan. Ketika seseorang mengambil langkah pertama, orang-orang di sekitarnya dapat lebih mudah memahami bahwa situasi tersebut membutuhkan perhatian.

Fenomena yang sama juga dapat muncul dalam kehidupan sosial sehari-hari. Ketika melihat seseorang dirundung, kita mungkin berpikir bahwa teman dekatnya yang harus membela. Ketika menyaksikan ketidakadilan di tempat kerja, kita menganggap atasan yang seharusnya turun tangan. Ketika melihat seseorang mengalami kesulitan, kita berpikir bahwa keluarganya pasti sudah mengetahui.

Namun, jika semua orang berpikir demikian, siapa yang akan memulai?

Pada akhirnya, bystander effect mengajarkan bahwa kehadiran banyak orang tidak selalu berarti seseorang akan mendapatkan lebih banyak pertolongan. Dalam kondisi tertentu, tanggung jawab justru menjadi semakin kabur karena setiap orang menunggu orang lain mengambil langkah pertama.

Kita tidak harus selalu menjadi orang yang paling berani. Terkadang, cukup menjadi orang yang pertama kali bertanya, mendekat dengan aman, atau mencari bantuan ketika memang diperlukan. Kita juga tidak harus menyelesaikan semuanya sendirian. Tindakan sederhana untuk memulai dapat menjadi pemicu agar orang lain ikut bergerak.

Sebab ketika semua orang menunggu orang lain bertindak, keadaan tidak akan berubah. Dan mungkin, dalam situasi tertentu, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah, “Mengapa tidak ada yang membantu?”, melainkan, “Kalau semua orang sedang menunggu, mungkinkah kali ini saya yang memulai?”(Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com