Beritabanten.com — Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan turun langsung mengecek pembangunan turap dan bronjong di tiga titik rawan banjir dan longsor di wilayah Pamulang dan Ciputat. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai desain, spesifikasi teknis, sekaligus dapat diselesaikan sebelum persoalan musim hujan kembali menjadi ancaman bagi warga.
Tiga lokasi yang menjadi perhatian yakni kawasan Vila Pamulang di Kecamatan Pamulang, Grand Serpong, serta Perumahan Bukit Nusa Indah di Kecamatan Ciputat. Ketiganya memiliki karakter persoalan berbeda, mulai dari longsor, pergeseran tanah akibat erosi aliran sungai, hingga genangan dan banjir yang berulang ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
Pilar mengatakan pembangunan tidak boleh sekadar mengejar penyelesaian fisik. Kualitas konstruksi harus menjadi perhatian agar infrastruktur yang dibangun benar-benar mampu memberikan perlindungan bagi masyarakat dalam jangka panjang.
“Alhamdulillah hari ini saya mengunjungi tiga titik pembangunan yang ada di wilayah Tangsel. Kita mengecek langsung pembangunan turap dan bronjong yang ada di tiga titik lokasi ini,” kata Pilar saat meninjau proyek tersebut.
Dalam pengecekan itu, Pilar meminta konsultan pengawas dan penyedia jasa memastikan pekerjaan dilakukan sesuai spesifikasi dan ketentuan yang berlaku. Ia secara khusus menyoroti mutu beton, campuran agregat, tulangan, serta metode pelaksanaan konstruksi.
Pekerjaan di sejumlah titik saat ini telah mencapai sekitar 30 persen. Pilar meminta proses pembangunan dipercepat agar tidak berhadapan dengan kendala ketika musim penghujan tiba.
“Supaya pekerjaan diselesaikan secepatnya, jangan sampai nanti masuk musim penghujan, lalu terkendala sama waktu,” tegasnya.
Pembangunan turap dan bronjong tersebut bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Di Vila Pamulang, misalnya, longsor berpotensi mengancam badan jalan apabila tidak segera ditangani. Sementara di Grand Serpong, persoalan yang dihadapi mencakup longsor dan genangan. Adapun di Bukit Nusa Indah, turap dibangun untuk memperkuat sisi aliran sungai sekaligus mendukung pengendalian banjir.
Di Vila Pamulang, penanganan dilakukan menggunakan bronjong batu kali karena lokasi berada di aliran Sungai Angke yang menjadi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC). Pembangunan dilakukan secara semi permanen dengan batu kali yang disusun dan diikat menggunakan kawat.
Bronjong tersebut dibangun sepanjang 164 meter dengan parapet sepanjang 145 meter. Ketinggian konstruksi mencapai sekitar lima meter dari pondasi hingga bagian atas.
Pilar menjelaskan metode tersebut telah mendapatkan izin dari BBWSCC. Karena berada di kawasan sungai yang menjadi kewenangan pemerintah pusat, Pemkot Tangsel harus menyesuaikan metode penanganan dengan ketentuan yang ditetapkan otoritas terkait.
Sementara di Grand Serpong, pembangunan mencakup pemasangan turap baru setinggi empat meter sepanjang 165 meter. Selain itu, turap eksisting sepanjang 132 meter akan ditinggikan dan dilengkapi saluran pembuangan sepanjang 429 meter.
Adapun di Bukit Nusa Indah, turap dibangun pada sisi kiri dan kanan aliran kali dengan total panjang sekitar 204 meter. Proyek tersebut juga mencakup parapet sepanjang 90 meter, pedestrian sekaligus jalan inspeksi sepanjang 204 meter, pintu air, serta sejumlah bangunan pelengkap untuk mendukung pengaturan aliran.
Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kota Tangsel Robbi Cahyadi mengatakan karakter penanganan di masing-masing lokasi memang berbeda. Namun, ketiganya memiliki tujuan yang sama, yakni mengurangi risiko banjir dan longsor yang mengancam kawasan permukiman maupun infrastruktur.
Menurut Robbi, seluruh proyek ditargetkan rampung sekitar Desember 2026. Durasi pengerjaan masing-masing proyek berkisar lima hingga enam bulan sesuai kontrak.
“Rampungnya kalau kontrak sebetulnya Desember. Ada yang 150 hari kalender, lima bulan. Ada yang enam bulan, 160. Rata-rata Desember,” ujar Robbi.
Namun, target penyelesaian pada akhir tahun juga berhadapan dengan tantangan yang tidak kalah penting: musim hujan. Karena itu, percepatan pekerjaan menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan administratif.
Selain pembangunan fisik, normalisasi aliran sungai juga dinilai perlu segera dilakukan. Infrastruktur pengendali banjir akan kehilangan efektivitas apabila kapasitas aliran sungai tetap terganggu oleh sedimentasi, material konstruksi, sampah, maupun bangunan yang berdiri di sekitar sempadan sungai.
Persoalan bangunan di bantaran sungai bahkan menjadi perhatian khusus Pilar. Ia meminta kecamatan dan kelurahan aktif berkomunikasi dengan masyarakat untuk mencari solusi terhadap bangunan yang berpotensi menghambat penataan kawasan.
“Ini kepentingan bersama, dan apalagi bangunan yang tidak bersertifikat harus diserahkan untuk pembangunan bronjong. Jangan sampai kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan publik,” tegas Pilar.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penanganan banjir tidak cukup hanya dengan membangun turap. Pemerintah juga harus berhadapan dengan persoalan tata ruang, sempadan sungai, normalisasi aliran, serta kepentingan warga yang berada di sekitar lokasi pembangunan.
Di sinilah tantangan Pemkot Tangsel menjadi lebih kompleks. Turap memang dapat memperkuat tebing dan bronjong dapat menahan erosi, tetapi persoalan banjir membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Infrastruktur harus berjalan beriringan dengan normalisasi sungai, pengendalian bangunan di sempadan, pemeliharaan saluran, serta kesiapan menghadapi curah hujan tinggi.
Pilar pun meminta jajaran terkait tidak bekerja secara parsial. Kecamatan dan kelurahan diminta membangun komunikasi dengan warga, sementara tim teknis memastikan pekerjaan konstruksi berjalan sesuai target dan spesifikasi.
Langkah turun langsung ke lapangan menjadi penting karena persoalan banjir dan longsor tidak selalu dapat dibaca hanya melalui laporan administratif. Kondisi tebing, aliran sungai, kualitas konstruksi, hingga bangunan di sekitar bantaran membutuhkan pengamatan langsung agar keputusan yang diambil tidak meleset dari persoalan sebenarnya.
Jika seluruh pekerjaan berjalan sesuai rencana, tiga proyek tersebut diharapkan mampu memperkuat perlindungan kawasan rawan dan mengurangi risiko kerugian warga ketika musim hujan datang. Namun, ukuran keberhasilannya bukan semata-mata berapa meter turap yang berhasil dibangun atau berapa panjang bronjong yang terpasang.
Ukuran sesungguhnya adalah apakah setelah proyek selesai, warga benar-benar lebih aman dari longsor, genangan dan banjir.
Karena itu, percepatan pembangunan yang didorong Pilar harus dibarengi pengawasan ketat, kualitas konstruksi yang terjaga, normalisasi sungai, serta penataan kawasan sempadan. Jika seluruh unsur tersebut berjalan bersama, proyek turap dan bronjong tidak berhenti sebagai pembangunan fisik, tetapi menjadi bagian dari strategi perlindungan warga Tangsel menghadapi ancaman banjir dan longsor yang terus berulang. (Adv)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan