Beritabanten.com — Keberhasilan seseorang tidak selalu mendapat respons positif dari lingkungan sekitarnya. Ada kalanya seseorang justru menjadi sasaran kritik, sindiran, atau upaya untuk merendahkan hanya karena dianggap terlalu menonjol. Ketika seseorang mendapatkan penghargaan, membangun usaha, memperoleh jabatan, atau mencapai sesuatu yang lebih tinggi, keberhasilannya terkadang justru dipandang sebagai sesuatu yang mengganggu.

Fenomena tersebut dikenal sebagai Tall Poppy Syndrome, istilah yang menggambarkan kecenderungan untuk merendahkan, mengkritik, atau menjatuhkan seseorang karena dianggap terlalu sukses atau terlalu menonjol dibandingkan orang-orang di sekitarnya. Istilah ini menggunakan metafora bunga poppy yang tumbuh lebih tinggi daripada bunga lainnya. Dalam analoginya, bunga yang tumbuh terlalu tinggi justru dipotong agar kembali sejajar dengan yang lain.

Fenomena ini berkaitan dengan kecenderungan manusia membandingkan dirinya dengan orang lain. Ketika seseorang di sekitar kita mencapai keberhasilan, pencapaian tersebut dapat menjadi cermin yang membuat kita melihat posisi diri sendiri. Bagi sebagian orang, keberhasilan orang lain dapat menjadi inspirasi. Namun, bagi sebagian lainnya, pencapaian tersebut justru menimbulkan rasa tidak nyaman karena membuat perbedaan kemampuan, status, atau pencapaian menjadi semakin terlihat.

Penelitian mengenai Tall Poppy Syndrome menunjukkan bahwa fenomena tersebut tidak hanya berkaitan dengan rasa iri. Dalam konteks tertentu, fenomena ini juga dapat berhubungan dengan norma sosial, persepsi mengenai kesetaraan, identitas kelompok, serta pandangan suatu lingkungan terhadap orang yang dianggap terlalu berhasil.

Karena itu, seseorang terkadang tidak dikritik karena melakukan kesalahan, tetapi karena dianggap “terlalu tinggi”. Ia dapat disebut terlalu ambisius, terlalu percaya diri, terlalu sukses, atau terlalu berbeda. Kritik tersebut dapat muncul melalui candaan, sindiran, gosip, hingga komentar yang perlahan membuat seseorang merasa tidak nyaman dengan pencapaiannya sendiri.

Kalimat seperti “Sekarang sudah sukses, masih ingat kita?”, “Jangan terlalu tinggi, nanti jatuhnya sakit,” atau “Dia cuma beruntung” memang tidak selalu berarti Tall Poppy Syndrome. Kritik terhadap seseorang juga dapat menjadi hal yang sehat dan diperlukan. Persoalannya muncul ketika yang dipermasalahkan bukan lagi perilaku atau kesalahan seseorang, melainkan keberhasilannya itu sendiri.

Di sinilah pentingnya membedakan kritik dengan upaya menjatuhkan. Kritik yang sehat berfokus pada tindakan, keputusan, atau kinerja yang memang perlu diperbaiki. Sementara itu, Tall Poppy Syndrome dapat muncul ketika pencapaian atau posisi seseorang dianggap sebagai masalah hanya karena membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Misalnya, seseorang mendapatkan promosi karena kompetensinya. Kritik yang sehat dapat mempertanyakan bagaimana ia menjalankan tanggung jawab baru. Namun, jika orang-orang justru menyerangnya hanya karena ia mendapatkan promosi, menyebutnya tidak pantas tanpa dasar, atau berusaha mempermalukannya karena pencapaiannya, persoalannya bukan lagi tentang kinerja. Yang menjadi masalah adalah ketidaknyamanan terhadap keberhasilan orang tersebut.

Fenomena ini juga dapat berdampak pada orang yang menjadi sasaran. Jika seseorang terus-menerus mendapat respons negatif setiap kali menunjukkan pencapaian, ia dapat belajar menyembunyikan keberhasilannya. Ia mungkin takut dianggap sombong, takut dikatakan berubah, atau bahkan mulai mengecilkan dirinya sendiri agar tetap diterima oleh lingkungan.

Pada kondisi tertentu, seseorang bahkan dapat merasa harus meminta maaf karena berhasil. Padahal, memiliki pencapaian bukanlah sebuah kesalahan. Keberhasilan memang tidak memberikan seseorang hak untuk merendahkan orang lain. Seseorang tetap perlu rendah hati dan bertanggung jawab atas tindakannya. Namun, rendah hati berbeda dengan mengecilkan diri sendiri.

Di sisi lain, lingkungan juga memiliki peran penting dalam menciptakan hubungan sosial yang lebih sehat. Ketika seseorang di sekitar kita berhasil, pencapaiannya tidak otomatis berarti kita gagal. Orang lain yang mendapatkan pekerjaan lebih baik, membangun usaha, memperoleh penghargaan, atau mencapai posisi tertentu tidak mengurangi nilai diri kita.

Tidak semua orang akan tumbuh dengan kecepatan yang sama. Ada yang lebih dahulu berhasil, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang, dan ada pula yang menemukan jalannya setelah berkali-kali mengalami kegagalan. Perbedaan tersebut bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Karena itu, ketika melihat seseorang mulai bersinar, kita tidak harus buru-buru mencari cara untuk memadamkannya. Kita dapat memilih untuk mengakui pencapaiannya, belajar dari prosesnya, atau sekadar ikut merasa senang atas keberhasilannya.

Pada akhirnya, dunia tidak menjadi lebih adil ketika semua orang dipaksa tumbuh pada ketinggian yang sama. Kehidupan justru menjadi lebih sehat ketika seseorang dapat berkembang tanpa harus dijatuhkan hanya agar orang lain merasa nyaman.

Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Mengapa dia bisa setinggi itu?” melainkan, “Mengapa keberhasilan orang lain terasa mengancam bagi kita?” (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com