Beritabanten.com — Perasaan selalu kekurangan uang, waktu, kesempatan, perhatian, atau sumber daya lainnya dapat memengaruhi cara seseorang melihat keadaan dan mengambil keputusan. Ketika rasa kekurangan terus memenuhi pikiran, seseorang dapat menjadi terlalu fokus pada sesuatu yang dianggap tidak cukup. Fenomena tersebut dikenal sebagai scarcity mentality atau scarcity mindset.

Secara sederhana, scarcity mentality merupakan pola pikir yang muncul ketika seseorang merasa tidak memiliki cukup sesuatu yang dianggap penting. Kelangkaan tidak selalu berkaitan dengan kondisi ekonomi. Waktu, makanan, perhatian, kesempatan, hingga hubungan sosial juga dapat menjadi sumber daya yang dirasakan terbatas.

Kajian mengenai scarcity theory menjelaskan bahwa ketika sebuah sumber daya terasa sangat terbatas, perhatian seseorang cenderung tersedot kepada kekurangan tersebut. Akibatnya, hal-hal lain yang sebenarnya juga penting dapat menjadi kurang diperhatikan. Kondisi ini dapat terjadi ketika seseorang sedang menghadapi tekanan keuangan, keterbatasan waktu, atau persoalan lain yang membutuhkan perhatian segera.

Misalnya, seseorang yang sedang mengalami masalah keuangan mungkin terus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan hari ini. Dalam keadaan tersebut, membuat perencanaan untuk enam bulan atau satu tahun ke depan dapat terasa jauh lebih sulit. Bukan berarti orang tersebut tidak mampu berpikir panjang, tetapi pikirannya sedang dipenuhi persoalan yang dianggap mendesak.

Dalam penelitian mengenai kelangkaan, kondisi tersebut sering dikaitkan dengan istilah tunneling. Perhatian menjadi sangat terfokus pada sesuatu yang sedang langka atau mendesak, sementara informasi dan kebutuhan lain dapat terabaikan. Sejumlah kajian menemukan bahwa kelangkaan memang dapat mengarahkan perhatian pada masalah yang berkaitan dengan kekurangan, meskipun dampaknya terhadap seluruh kapasitas kognitif manusia masih menjadi bahan penelitian.

Karena itu, scarcity mentality tidak seharusnya disederhanakan menjadi anggapan bahwa orang yang mengalami kesulitan ekonomi memiliki pola pikir yang buruk. Kondisi lingkungan dan tekanan terhadap sumber daya juga dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan. Kekurangan uang, waktu, makanan, atau bahkan hubungan sosial dapat menyita mental bandwidth atau kapasitas mental yang seharusnya digunakan untuk memikirkan persoalan lainnya.

Namun, scarcity mentality tidak hanya dialami oleh orang yang sedang menghadapi masalah ekonomi. Seseorang yang secara finansial berkecukupan tetap dapat merasa tidak memiliki cukup waktu. Ada pula orang yang merasa kekurangan perhatian, pengakuan, koneksi, atau kesempatan dibandingkan orang lain.

Ketika perasaan “tidak cukup” menjadi pusat perhatian, seseorang dapat terus mengejar sesuatu tanpa pernah merasa benar-benar memiliki cukup. Dalam kondisi tertentu, fokus terhadap sesuatu yang langka memang dapat membuat seseorang lebih memperhatikan kebutuhan tersebut dan menggunakannya secara lebih efisien. Namun, fokus yang terlalu sempit juga dapat membuat kebutuhan lain terabaikan.

Contohnya, seseorang yang terus merasa kekurangan uang mungkin menjadi sangat berhati-hati terhadap pengeluaran hari ini, tetapi kesulitan memikirkan perencanaan keuangan jangka panjang. Seseorang yang merasa kekurangan waktu mungkin bekerja semakin cepat, tetapi justru mengabaikan kebutuhan untuk beristirahat. Begitu pula orang yang merasa kurang mendapat perhatian dapat terus mencari validasi hingga kehilangan kesempatan membangun hubungan yang lebih sehat.

Masalahnya bukan semata-mata karena seseorang memiliki sumber daya yang sedikit. Persoalan dapat muncul ketika rasa kekurangan mengambil terlalu banyak ruang dalam pikiran. Karena itu, penting membedakan antara “saya memang sedang kekurangan” dan “saya selalu merasa kekurangan”. Kondisi pertama membutuhkan solusi terhadap persoalan nyata, sedangkan kondisi kedua dapat berkembang menjadi pola pikir yang membuat seseorang melihat hampir segala sesuatu dari sudut kekurangan.

Kondisi tersebut juga menjadi alasan mengapa seseorang tidak selalu dapat menyelesaikan masalah hanya dengan diminta berpikir positif. Orang yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, misalnya, tetap membutuhkan solusi nyata terhadap persoalan yang dihadapinya. Memahami bagaimana kelangkaan memengaruhi perhatian dan pengambilan keputusan justru dapat membantu seseorang lebih berempati kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

Kita juga perlu berhati-hati ketika menilai seseorang yang dianggap ceroboh, tidak mampu membuat perencanaan, atau mengambil keputusan yang buruk. Bisa jadi terdapat tekanan dan persoalan kelangkaan yang sedang memenuhi pikirannya. Pada saat yang sama, kita juga dapat bertanya kepada diri sendiri mengenai apa yang sebenarnya sedang kita kekurangan dan apakah semua hal yang terasa kurang memang benar-benar tidak kita miliki.

Pada akhirnya, tidak semua masalah kehidupan dapat diselesaikan hanya dengan mengubah pola pikir. Kondisi ekonomi, lingkungan, dan berbagai persoalan nyata tetap membutuhkan solusi nyata. Namun, memahami scarcity mentality dapat menjadi langkah awal untuk melihat masalah dengan lebih jernih.

Sebab ketika hidup terus dilihat melalui kacamata kekurangan, kita bisa lupa menghitung apa yang masih kita miliki. Terkadang, yang membuat seseorang sulit bergerak bukan hanya karena sumber dayanya terbatas, tetapi juga karena seluruh perhatiannya telah habis untuk memikirkan apa yang tidak dimiliki. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com