Beritabanten.com — Ada kalanya hidup membawa seseorang ke persimpangan yang tidak pernah ia rencanakan. Pilihannya terbatas, keadaan tidak berpihak, sementara masa depan terasa seperti pintu yang belum jelas ke mana membukanya. Dalam situasi semacam itulah mimpi sering kali menemukan maknanya.

Kisah Merry Riana dalam buku Mimpi Sejuta Dolar, karya Alberthiene Endah dan diterbitkan Gramedia, bukan semata-mata cerita tentang ambisi meraih satu juta dolar. Di balik angka tersebut terdapat kisah tentang keberanian seorang anak muda menghadapi ketidakpastian, keterbatasan ekonomi, kegagalan, penolakan, dan kesepian di negeri orang.

Merry datang ke Singapura dalam situasi yang tidak mudah. Krisis yang melanda Indonesia menjadi salah satu latar yang mendorongnya melanjutkan pendidikan di negeri itu. Namun kehidupan sebagai mahasiswa tidak serta-merta menjadi jalan menuju kesuksesan. Ada kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, pendidikan yang harus diselesaikan, dan masa depan yang harus diperjuangkan.

Dalam kondisi seperti itu, mimpi satu juta dolar lahir.

Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin terdengar terlalu besar. Tetapi justru karena besar, ia menjadi sebuah tujuan yang memaksa Merry untuk bergerak. Mimpi tidak lagi berhenti sebagai keinginan yang disimpan dalam kepala, tetapi diterjemahkan menjadi tindakan-tindakan nyata.

Di sinilah kisah Merry menjadi relevan. Kesuksesan tidak datang sebagai hadiah yang tiba-tiba jatuh dari langit. Ia tumbuh dari keberanian mencoba, kesediaan menerima penolakan, kemampuan bangkit setelah gagal, dan ketekunan menjalani proses yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain.

Salah satu kalimat motivasi Merry Riana yang paling dikenal adalah, “Dream, believe, and make it happen.”

Bermimpi, percaya, lalu mewujudkannya.

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan persoalan besar. Banyak orang mampu bermimpi. Tidak sedikit yang mampu membayangkan kehidupan yang lebih baik. Persoalannya adalah apa yang dilakukan setelah mimpi itu muncul.

Sebab antara mimpi dan kenyataan selalu ada jarak.

Dan jarak itu harus ditempuh.

Merry menempuhnya dengan caranya sendiri. Ia menghadapi dunia penjualan, menawarkan produk, berhadapan dengan penolakan, dan terus mencoba. Tidak semua pintu terbuka. Tidak semua orang menerima tawarannya. Tetapi setiap penolakan menjadi bagian dari proses belajar.

Dalam konteks zaman sekarang, perjuangan semacam itu mungkin memiliki wajah yang berbeda.

Gen Z tidak harus mengulang persis perjalanan Merry Riana.

Dunia yang mereka hadapi sudah berubah. Jika dahulu seseorang harus mengetuk pintu rumah atau kantor untuk menawarkan sesuatu, hari ini pintu itu bisa berupa layar telepon. Penawaran bisa dikirim melalui pesan digital. Produk bisa dijual melalui marketplace. Karya bisa dipasarkan melalui media sosial. Seorang anak muda bahkan bisa bekerja untuk perusahaan di belahan dunia lain tanpa harus meninggalkan kamarnya.

Namun satu hal tidak berubah: penolakan tetap menyakitkan dan perjuangan tetap membutuhkan ketekunan.

Video pertama mungkin hanya ditonton puluhan orang. Produk pertama mungkin hanya terjual beberapa buah. Lamaran pekerjaan mungkin berkali-kali tidak mendapatkan jawaban. Proposal freelance bisa saja tidak dibalas. Sebuah ide bisnis bisa gagal sebelum sempat berkembang.

Tetapi kegagalan pada hari ini tidak otomatis menjadi kegagalan untuk selamanya.

Justru di tengah dunia digital yang serba cepat, pesan dari perjalanan Merry Riana terasa semakin penting. Generasi muda hidup dalam situasi ketika keberhasilan orang lain dapat dilihat setiap hari melalui layar. Ada yang terlihat sukses pada usia muda, memiliki bisnis, membeli rumah, mendapatkan pekerjaan impian, atau mempunyai jutaan pengikut.

Masalahnya, media sosial lebih sering memperlihatkan hasil daripada proses.

Yang terlihat adalah panggung, bukan latihan.

Yang terlihat adalah keberhasilan, bukan kegagalan.

Yang terlihat adalah angka pendapatan, bukan malam-malam panjang ketika seseorang bertanya kepada dirinya sendiri apakah perjuangannya akan berhasil.

Karena itu, membandingkan perjalanan hidup dengan kehidupan orang lain dapat menjadi jebakan.

Mimpi satu juta dolar tidak harus menjadi mimpi semua orang.

Bagi seorang anak muda, kesuksesan mungkin berarti memiliki perusahaan. Bagi yang lain, bisa berarti mendapatkan pekerjaan yang layak. Ada yang bermimpi membangun rumah untuk orang tua. Ada yang ingin menjadi seniman, guru, dokter, programmer, jurnalis, atlet, pengusaha, atau kreator digital.

Bahkan bagi sebagian orang, keberhasilan mungkin sesederhana mampu hidup mandiri dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.

Artinya, yang penting bukan angka satu juta dolarnya, melainkan keberanian menetapkan tujuan dan kesediaan memperjuangkannya.

Merry pernah menyampaikan gagasan bahwa orang sukses bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang tidak menyerah ketika kegagalan datang.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi generasi yang tumbuh dalam perubahan teknologi begitu cepat.

Gen Z memiliki alat yang berbeda dengan generasi Merry Riana. Mereka memiliki kecerdasan buatan, ekonomi kreator, pekerjaan jarak jauh, perdagangan digital, berbagai platform pendidikan, dan akses informasi yang nyaris tanpa batas.

Peluangnya jauh lebih luas.

Tetapi peluang yang luas juga membawa tantangan baru. Persaingan menjadi semakin terbuka. Semua orang dapat menunjukkan karya mereka. Semua orang dapat membangun bisnis. Semua orang dapat menjadi kreator. Artinya, kemampuan untuk bertahan, belajar, beradaptasi, dan terus menciptakan sesuatu menjadi semakin penting.

Karena itu, Gen Z tidak perlu menjadi Merry Riana.

Mereka hanya perlu mengambil semangat dari perjalanan tersebut dan menerapkannya sesuai zamannya.

Kalau Merry mengetuk pintu dari satu tempat ke tempat lain, generasi sekarang mungkin mengetuk pintu melalui dunia digital.

Kalau Merry harus menghadapi penolakan secara langsung, Gen Z mungkin menghadapinya melalui email yang tidak dibalas atau konten yang tidak mendapatkan perhatian.

Kalau dahulu seseorang membutuhkan modal besar untuk membuka bisnis, sekarang sebuah ide dapat diuji terlebih dahulu melalui internet dengan biaya yang jauh lebih kecil.

Cara berubah.

Medan berubah.

Teknologi berubah.

Tetapi keberanian untuk memulai tetap menjadi modal pertama.

Pada akhirnya, Mimpi Sejuta Dolar bukan hanya cerita mengenai bagaimana seseorang mengejar kekayaan. Ia adalah cerita tentang daya tahan manusia ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan.

Perjuangan hidup memang tidak pernah benar-benar berkesudahan.

Setelah satu mimpi tercapai, akan muncul mimpi berikutnya. Setelah mendapatkan pekerjaan, ada tantangan untuk mempertahankannya. Setelah memiliki bisnis, ada tanggung jawab untuk mengembangkannya. Setelah mencapai keberhasilan, ada tantangan untuk tetap relevan.

Maka kesuksesan bukan garis akhir.

Ia adalah perjalanan yang terus berubah.

Merry Riana telah menempuh zamannya dengan segala keterbatasan yang ada. Generasi Z kini memiliki zaman mereka sendiri dengan tantangan dan peluang yang berbeda.

Mereka tidak harus menempuh jalan yang sama.

Sebab setiap generasi mempunyai pintu yang berbeda untuk diketuk.

Yang terpenting adalah jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa masa depan akan sama buruknya dengan keadaan hari ini.

Mimpi boleh berbeda. Caranya boleh berbeda. Bahkan ukuran keberhasilannya pun boleh berbeda.

Tetapi satu hal tetap sama: seseorang harus berani memulai sebelum mengetahui dengan pasti bagaimana akhirnya.

Merry telah membuktikan bahwa keadaan sulit bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Kini, tantangannya berada di tangan generasi berikutnya.

Bukan untuk menjadi Merry Riana yang kedua, melainkan menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri—dengan mimpi mereka, zaman mereka, dan cara mereka sendiri untuk mewujudkannya. ((Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com