Beritabanten.com – Pernyataan Rocky Gerung bahwa tidak memilih Makan Bergizi Gratis (MBG) sekarang dapat membuat anak mengalami stunting 15 tahun mendatang menarik perhatian bukan hanya karena substansinya, tetapi juga karena cara hubungan sebab-akibat dibangun dalam pernyataan tersebut.

Persoalannya bukan apakah makanan bergizi penting bagi pertumbuhan anak. Tentu saja asupan gizi merupakan salah satu faktor penting dalam tumbuh kembang. Persoalan utamanya adalah apakah dari fakta tersebut otomatis dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak memilih atau tidak mendukung MBG hari ini akan membuat seorang anak mengalami stunting 15 tahun kemudian.

Di titik inilah logika argumen perlu diuji.

Stunting bukan persoalan yang lahir dari satu penyebab tunggal. Kondisi tersebut berkaitan dengan banyak faktor, mulai dari kecukupan gizi, kesehatan ibu dan anak, infeksi berulang, pola pemberian makanan, sanitasi, air bersih, akses terhadap layanan kesehatan hingga kondisi sosial-ekonomi keluarga.

Dengan demikian, MBG dapat dipahami sebagai salah satu instrumen intervensi untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi. Namun, menyebut MBG sebagai penentu tunggal masa depan status gizi anak membutuhkan pembuktian yang jauh lebih kuat.

Ada perbedaan besar antara mengatakan MBG dapat membantu mencegah masalah gizi dan mengatakan tanpa MBG anak akan mengalami stunting. Kalimat pertama merupakan hubungan yang masih dapat diuji melalui penelitian mengenai efektivitas program. Kalimat kedua sudah membawa hubungan tersebut ke tingkat kepastian yang membutuhkan bukti kausal jauh lebih kuat.

Di sinilah muncul apa yang dalam logika disebut non sequitur atau lompatan kesimpulan. Premis awalnya mungkin benar: anak membutuhkan makanan bergizi. Tetapi kesimpulan yang kemudian ditarik tidak otomatis mengikuti premis tersebut.

Anak bisa memperoleh makanan bergizi dari keluarga, sekolah, layanan kesehatan, program sosial lainnya, maupun sumber pangan yang tersedia di lingkungan. Sebaliknya, mengikuti program pemberian makanan juga tidak otomatis membuat seorang anak terbebas dari seluruh risiko stunting.

Masalah berikutnya muncul ketika persoalan tersebut seolah hanya memiliki dua pilihan. Mendukung MBG ditempatkan sebagai pilihan yang menjaga masa depan anak, sementara tidak mendukungnya seolah identik dengan membiarkan anak menuju stunting.

Padahal realitas kebijakan publik tidak sesederhana itu.

Seorang anak bisa memperoleh manfaat dari MBG dan tetap memiliki faktor risiko stunting. Sebaliknya, seorang anak yang tidak menerima MBG bisa tumbuh sehat apabila kebutuhan gizinya terpenuhi melalui sumber lain. Karena itu, keberadaan MBG tidak dapat begitu saja diposisikan sebagai satu-satunya garis pemisah antara anak sehat dan anak stunting.

Ini pula yang membuat istilah “15 tahun mendatang” perlu mendapat perhatian khusus.

Dalam kesehatan masyarakat, dampak intervensi biasanya dibicarakan melalui risiko, probabilitas, dan perubahan indikator kesehatan. Jarang sebuah intervensi dapat diterjemahkan menjadi hubungan deterministik: melakukan A hari ini pasti menghasilkan B 15 tahun kemudian.

Jika klaimnya adalah bahwa tidak memilih MBG hari ini akan menyebabkan anak stunting 15 tahun mendatang, maka pertanyaan ilmiahnya sederhana tetapi berat: apa mekanisme kausalnya? Seberapa besar pengaruh MBG dibandingkan faktor lain? Bagaimana hubungan tersebut diukur? Dan mengapa konsekuensinya harus muncul secara spesifik 15 tahun kemudian?

Tanpa jawaban atas pertanyaan tersebut, angka 15 tahun berpotensi lebih berfungsi sebagai perangkat retoris untuk menggambarkan ancaman masa depan ketimbang sebagai prediksi ilmiah yang sudah terbukti.

Ancaman terhadap masa depan anak memang mudah menggugah emosi orang tua. Ketika isu stunting dikaitkan dengan pilihan kebijakan hari ini, publik dapat terdorong untuk melihat MBG sebagai sesuatu yang tidak boleh dipersoalkan.

Padahal justru di situlah kebijakan publik harus diuji secara lebih kritis.

Pertanyaan yang lebih produktif bukan sekadar apakah seseorang mendukung atau menolak MBG. Pertanyaannya adalah seberapa efektif program tersebut meningkatkan kecukupan gizi, siapa yang menjadi penerima manfaat, apakah sasaran program tepat, bagaimana kualitas makanan dijaga, bagaimana pelaksanaannya diawasi, berapa biaya yang diperlukan, serta seberapa besar dampaknya dibandingkan dengan intervensi gizi lainnya.

Dengan cara pandang seperti itu, kritik terhadap pernyataan Rocky Gerung tidak harus diterjemahkan sebagai penolakan terhadap tujuan menyediakan makanan bergizi bagi anak.

MBG boleh saja dipilih pemerintah sebagai instrumen kebijakan. Publik juga berhak mendukung atau mengkritisi desain dan pelaksanaannya. Tetapi dukungan terhadap tujuan tidak boleh membuat proses penalaran kehilangan standar pembuktian.

Apalagi jika argumen tersebut datang dari seorang tokoh yang dikenal kerap berbicara tentang logika, filsafat, dan cara berpikir kritis.

Premis harus mampu menopang kesimpulan. Korelasi tidak boleh begitu saja diubah menjadi kausalitas. Kemungkinan tidak boleh disulap menjadi kepastian. Dan kekhawatiran terhadap masa depan tidak dapat menggantikan bukti ilmiah.

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah MBG baik atau buruk. Persoalannya adalah apakah sebuah program yang bertujuan memperbaiki gizi boleh dijadikan dasar untuk membuat klaim deterministik tentang nasib seorang anak 15 tahun kemudian.

Sebab, mengatakan “gizi penting bagi masa depan anak” adalah satu hal. Mengatakan “jika Anda tidak memilih MBG sekarang, anak Anda akan stunting 15 tahun mendatang” adalah klaim yang jauh lebih besar.

Di antara dua kalimat itu terdapat jurang pembuktian yang tidak bisa ditutup hanya dengan retorika. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com