Beritabanten.com -Lagu “Oke Gas” yang menghiasi video antrean BBM di Makassar terasa seperti ironi yang sulit diabaikan.
Video yang dibagikan mrlalui fb @fajarmedia pada Sabtu 12 September 2026 menjadi tanda bahwa di tengah warga yang harus mengantre berjam-jam, lagu yang identik dengan Prabowo-Gibran itu justru berubah menjadi semacam satire: “Oke gas” untuk siapa, ketika rakyat bahkan harus berjuang mendapatkan bahan bakar untuk menjalankan aktivitas sehari-hari?
Antrean BBM di Makassar bukan sekadar satu video yang beredar di media sosial. Laporan lapangan menunjukkan antrean terjadi di sejumlah SPBU dan bahkan meluas dari kendaraan besar pengguna Solar ke sepeda motor dan mobil pribadi yang mencari Pertalite. Antrean juga terjadi hingga dini hari dan menyebabkan kemacetan di sejumlah ruas jalan.
Di SPBU BTP, Jalan Perintis Kemerdekaan KM 8, Makassar, pada Jumat, 11 September 2026, antrean kendaraan dilaporkan mengular hingga sekitar 7 kilometer. Angka tersebut tentu perlu ditempatkan sebagai laporan kondisi lapangan, bukan angka resmi hasil pengukuran pemerintah.
Yang lebih mengkhawatirkan, persoalan ini bukan muncul dalam hitungan jam. Laporan di lapangan menyebut antrean kendaraan besar untuk mendapatkan Solar telah berlangsung selama beberapa bulan di sejumlah SPBU Makassar dan sekitarnya. Bahkan ada sopir truk dan bus yang terpaksa menunggu lama untuk mendapatkan BBM.
Dalam beberapa hari terakhir, persoalan kemudian merembet kepada konsumen kendaraan pribadi. Motor dan mobil ikut mengantre untuk Pertalite sejak pagi bahkan dini hari. Artinya, persoalan yang awalnya terlihat sebagai masalah distribusi Solar mulai dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Pertamina menyatakan stok BBM di Makassar dalam kondisi aman dan mencukupi. Pertamina juga menyebut salah satu penyebab antrean adalah panic buying akibat informasi mengenai kelangkaan BBM yang beredar di media sosial. Sebagai langkah penanganan, 25 SPBU di Makassar dioperasikan 24 jam dan distribusi BBM ditingkatkan sekitar 15 persen dari penyaluran harian.
Tetapi di sinilah persoalannya.
Jika stok dikatakan aman, mengapa masyarakat tetap harus mengantre berjam-jam? Jika penyebab utamanya adalah panic buying, mengapa antrean Solar disebut telah berlangsung berbulan-bulan? Dan jika distribusi sudah ditambah 15 persen, mengapa antrean masih bisa mengular hingga sekitar 7 kilometer?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan berarti Pertamina pasti kehabisan BBM. Justru pemerintah perlu menjelaskan secara transparan titik persoalannya: apakah masalah berada pada stok, distribusi regional, kapasitas SPBU, pembatasan penyaluran, lonjakan permintaan, atau kombinasi dari beberapa faktor.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga turun tangan. Penambahan tenaga untuk mendukung operasional SPBU dan keputusan mengoperasikan puluhan SPBU selama 24 jam menunjukkan bahwa persoalan antrean memang membutuhkan penanganan serius.
Di sisi lain, masyarakat memiliki pengalaman yang berbeda dengan narasi “panic buying”. Sejumlah warga mengaku mengantre bukan karena panik, melainkan karena BBM memang dibutuhkan untuk bekerja dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Ada pula warga yang akhirnya membeli BBM dari pengecer dengan harga lebih mahal karena tidak sanggup terus berkeliling mencari SPBU.
Di titik ini, pemerintah tidak cukup hanya mengatakan stok aman.
Sebab ukuran “aman” bagi birokrasi dan ukuran “aman” bagi rakyat bisa sangat berbeda.
Bagi pemerintah, stok mungkin tersedia dalam sistem distribusi. Tetapi bagi pengendara yang mengantre berjam-jam dan belum tentu mendapatkan BBM, stok tersebut belum terasa aman.
Bagi pemerintah, tidak terjadi kelangkaan secara nasional. Tetapi bagi pekerja yang kehilangan waktu kerja karena harus mengantre, situasi itu tetap merupakan persoalan serius.
Dan bagi masyarakat kecil, membeli BBM eceran dengan harga lebih mahal karena tidak sanggup menunggu bukan sekadar persoalan harga. Itu adalah biaya tambahan yang langsung menggerus pendapatan mereka.
Karena itu, video dengan lagu “Oke Gas” menjadi menarik secara politik. Ia bukan bukti tunggal kegagalan pemerintahan Prabowo-Gibran. Tetapi ia menjadi simbol kegelisahan publik: ketika slogan politik bertemu dengan pengalaman rakyat di lapangan.
Apalagi tingkat kepuasan terhadap pemerintahan tidak berada dalam ruang hampa.
Survei kepuasan terhadap Presiden Prabowo sebelumnya memang berada pada level tinggi. Namun survei SMRC pada 5–19 Juli 2026 terhadap 749 responden mencatat kepuasan terhadap kinerja Prabowo sebesar 51,1 persen, menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Salah satu faktor yang mengemuka adalah persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi.
Angka 51,1 persen tidak berarti pemerintahan Prabowo-Gibran kehilangan seluruh dukungan. Sebaliknya, lebih dari separuh responden masih menyatakan puas. Tetapi angka tersebut juga menjadi pengingat bahwa modal politik bukan sesuatu yang permanen.
Kepuasan publik dapat berubah ketika persoalan ekonomi dan pelayanan publik mulai terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Maka, antrean BBM di Makassar seharusnya menjadi alarm, bukan sekadar bahan perang narasi antara pendukung dan oposisi.
Pemerintah tidak perlu alergi terhadap kritik. Justru kritik seperti “Buka matamu, Pak. Lihat rakyatmu saat ini” harus dijawab dengan data dan tindakan.
Berapa sebenarnya stok BBM di Sulawesi Selatan?
Berapa kebutuhan harian Makassar?
Berapa tambahan pasokan yang sudah dikirim?
Mengapa antrean Solar berlangsung berbulan-bulan?
Mengapa antrean kemudian merembet ke Pertalite?
Dan yang paling penting: kapan masyarakat bisa kembali mendapatkan BBM tanpa harus menghabiskan berjam-jam di jalan?
Sebab “Oke Gas” boleh menjadi lagu.
Tetapi bagi rakyat yang mengantre sampai berjam-jam, yang mereka butuhkan bukan slogan.
Mereka membutuhkan BBM yang tersedia, distribusi yang lancar, harga yang terjangkau, dan pemerintah yang hadir ketika rakyat membutuhkan.
Pada akhirnya, kepemimpinan tidak diuji ketika keadaan baik-baik saja.
Kepemimpinan diuji ketika rakyat mulai bertanya:
“Pak, kami sudah mengantre. Negara ada di mana?” (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan