Beritabanten.com — Kalimat “Saya benci hari Senin” mungkin terdengar sebagai keluhan sederhana yang kerap muncul setelah libur akhir pekan. Namun, bagi sebagian pekerja, Senin bukan sekadar hari pertama dalam pekan kerja, melainkan momentum kembalinya berbagai tuntutan, target, tenggat waktu, hingga tekanan pekerjaan.
Fenomena tersebut dikenal sebagai “Monday blues”, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami penurunan suasana hati atau motivasi saat menghadapi awal pekan kerja. Penelitian menunjukkan adanya efek Monday blues yang kecil tetapi konsisten terhadap suasana hati pekerja.
Perubahan ritme dari akhir pekan menuju hari kerja menjadi salah satu alasan mengapa Senin terasa lebih berat. Selama akhir pekan, seseorang memiliki keleluasaan lebih besar untuk mengatur waktu, beristirahat, berkumpul dengan keluarga, atau melakukan aktivitas yang menyenangkan. Memasuki Senin, rutinitas kembali berubah. Alarm berbunyi lebih pagi, perjalanan menuju tempat kerja dimulai, sementara berbagai pekerjaan dan target sudah menunggu.
Penelitian mengenai dinamika emosi selama sepekan menunjukkan bahwa antisipasi terhadap pekerjaan berperan dalam perubahan suasana hati pekerja. Kondisi tersebut semakin terasa pada pekerja yang menghadapi beban kerja kronis dan tinggi.
Psikolog dan peneliti kesehatan kerja menilai bahwa rasa berat menghadapi Senin perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. American Psychological Association (APA) menyebut sejumlah faktor yang dapat menjadi sumber stres kerja, seperti beban kerja berlebihan, rendahnya dukungan sosial, minimnya kesempatan berkembang, pekerjaan yang tidak menarik, serta rendahnya kendali pekerja terhadap pekerjaannya.
Karena itu, ungkapan “Saya benci hari Senin” tidak selalu berarti seseorang membenci hari tersebut. Bisa jadi yang sebenarnya dirasakan adalah ketidaksukaan terhadap tekanan, beban, suasana, atau pengalaman kerja yang menunggu di balik hari Senin.
Penelitian dalam Journal of Occupational Health Psychology juga menunjukkan bahwa struktur pekan kerja dan tingkat beban kerja kronis dapat memengaruhi antisipasi pekerja terhadap pekerjaan. Semakin berat beban pekerjaan yang dirasakan, semakin kuat pula perubahan suasana hati dan antisipasi ketika memasuki awal pekan.
Selain faktor pekerjaan, pola tidur pada akhir pekan juga dapat berpengaruh. Perubahan jam tidur antara hari kerja dan akhir pekan dapat membuat tubuh membutuhkan waktu untuk kembali menyesuaikan diri. Akibatnya, Senin pagi bisa terasa lebih berat, terutama bagi mereka yang tidur terlalu larut selama akhir pekan.
Persoalan juga dapat muncul ketika pekerja membawa pekerjaan hingga ke rumah. Pekerjaan yang belum selesai dapat memicu kondisi ketika seseorang terus memikirkan persoalan pekerjaan secara emosional meskipun sudah berada di luar jam kerja. Kondisi ini bahkan dapat mengganggu kualitas tidur.
Pakar kesehatan kerja menilai, Monday blues tidak seharusnya selalu dianggap sebagai bentuk kemalasan. Jika seseorang terus merasa enggan bekerja setiap awal pekan, perlu dilihat apakah terdapat persoalan mendasar seperti beban kerja berlebihan, konflik di tempat kerja, kurangnya dukungan dari atasan atau rekan kerja, maupun rendahnya kendali terhadap pekerjaan.
Di sisi lain, pekerja dapat melakukan sejumlah langkah sederhana untuk membuat transisi menuju Senin lebih ringan, seperti menjaga pola tidur, mengatur kembali rutinitas sejak akhir pekan, menentukan prioritas pekerjaan, serta memberikan waktu istirahat yang cukup.
Namun, jika rasa tidak nyaman terhadap pekerjaan berlangsung terus-menerus dan disertai kelelahan berkepanjangan, gangguan tidur, kecemasan, sulit berkonsentrasi, atau hilangnya motivasi, kondisi tersebut tidak lagi tepat dianggap sekadar Monday blues.
Pada akhirnya, “Saya benci hari Senin” mungkin hanya sebuah candaan yang akrab di kalangan pekerja. Tetapi jika kalimat itu muncul setiap pekan dengan tekanan psikologis yang semakin berat, yang perlu diperiksa bukan hanya harinya, melainkan kondisi pekerjaan yang membuat seseorang enggan kembali bekerja.
Sebab, Senin hanyalah satu hari dalam kalender. Yang menentukan apakah ia menjadi momok atau awal yang baru adalah pengalaman manusia di balik pekerjaan tersebut. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan