Beritabanten.com— Menjelang pagi, usai salat Subuh, pada hari ini Selasa 25 Agustus 2026,suasana di kawasan Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Djati, Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, mulai hidup. Di tengah suasana kawasan yang lekat dengan tradisi ziarah, sebuah bangunan masjid tampak mencuri perhatian.
Masjid Syarif Abdurachman berdiri megah dengan bentuk bangunan yang memadukan kesan klasik dan modern. Saat fajar mulai menyingsing, cahaya pagi perlahan menerangi bangunan masjid yang menjadi salah satu ikon baru di kawasan wisata religi tersebut.
Masjid yang berada tidak jauh dari area parkir peziarah ini bukan hanya memperindah kawasan, tetapi juga memberikan ruang ibadah bagi masyarakat dan para peziarah yang datang dari berbagai daerah.
Dari luar, bentuk Masjid Syarif Abdurachman memperlihatkan karakter arsitektur yang cukup berbeda. Bangunan utamanya memiliki atap bertingkat dengan kemuncak di bagian paling atas. Di bagian depan terdapat menara yang menjadi salah satu elemen visual yang mudah dikenali.
Desain masjid mengadopsi kearifan lokal Kesultanan Cirebon dengan sentuhan arsitektur klasik-modern. Material batu bata, marmer, unsur kayu, serta sejumlah ornamen khas Cirebon dipadukan dalam bangunan tersebut.
Pelataran masjid juga dibuat cukup terbuka. Area tersebut dilengkapi taman, lampu penerangan, kolam, tempat duduk, serta gazebo. Keberadaan ruang terbuka itu membuat kawasan masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang singgah bagi masyarakat dan peziarah.
Saat fajar mulai menyingsing, suasana masjid terasa lebih tenang. Para jamaah yang selesai menunaikan salat Subuh dapat menikmati suasana pagi sebelum melanjutkan aktivitas maupun perjalanan ziarah.
Salah satu alasan keberadaan masjid ini terasa penting adalah lokasinya yang berada di kawasan Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Djati.
Selama ini kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu tujuan wisata religi yang ramai didatangi peziarah. Dengan adanya masjid yang berada dekat area parkir, rombongan peziarah memiliki tempat yang lebih mudah dijangkau untuk melaksanakan salat berjamaah.
Masjid ini memiliki kapasitas sekitar 1.750 jamaah. Fasilitas pendukung juga menjadi bagian dari kawasan masjid. Tempat wudu laki-laki dan perempuan dibuat terpisah. Tersedia pula fasilitas wudu untuk penyandang disabilitas serta area yang ramah bagi pengguna kursi roda.
Gazebo dan area istirahat berada di sekitar pelataran, tidak jauh dari lokasi parkir dan pusat oleh-oleh.
Kelengkapan tersebut membuat masjid tidak hanya menjadi tempat singgah untuk salat, tetapi juga bagian dari pengalaman para peziarah ketika berada di kawasan Sunan Gunung Djati.
Di balik berdirinya masjid megah tersebut terdapat sebuah cerita yang berawal dari pengalaman pribadi Jenderal TNI Dudung Abdurachman.
Ketika masih berpangkat kapten, Dudung mengaku kerap diajak orang tuanya berziarah ke makam Sunan Gunung Djati setiap malam Jumat. Saat hendak melaksanakan salat, ia melihat masjid yang tersedia saat itu relatif sempit.
Pengalaman tersebut kemudian melahirkan sebuah cita-cita. Jika suatu saat dipercaya menjadi pimpinan TNI Angkatan Darat, ia ingin membangun masjid yang lebih besar di kawasan Gunungjati.
Cita-cita itu akhirnya terwujud ketika Dudung menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Pembangunan Masjid Syarif Abdurachman dimulai melalui peletakan batu pertama pada 24 Mei 2022.
Pembangunan berlangsung sekitar 18 bulan sebelum masjid tersebut diresmikan pada Jumat, 25 Agustus 2023. Peresmian dilakukan Wakil Presiden RI saat itu, KH Ma’ruf Amin, sekaligus ditandai dengan pelaksanaan salat Jumat perdana.
Nama Syarif Abdurachman juga memiliki cerita tersendiri.
Menurut keterangan Dudung saat peresmian, nama tersebut diambil dari dua sosok yang memiliki pengaruh dalam perkembangan Islam di Pulau Jawa, khususnya Cirebon.
Kata “Syarif” merujuk kepada Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, sedangkan “Abdurachman” diambil dari nama Syekh Abdurachman. Penggabungan kedua nama tersebut kemudian menjadi identitas masjid yang berada di lingkungan makam Sunan Gunung Jati.
Nama tersebut sekaligus membuat keberadaan masjid memiliki keterkaitan simbolis dengan sejarah panjang penyebaran Islam di Cirebon.
Ada cerita menarik lainnya dalam proses pembangunan Masjid Syarif Abdurachman.
Perancang sekaligus pimpinan pembangunan masjid adalah Brigjen TNI I Nengah Wiraatmaja yang beragama Hindu. Penunjukan tersebut menjadi gambaran bahwa pembangunan rumah ibadah ini juga membawa pesan tentang kebinekaan dan toleransi.
Dudung menyebut Wiraatmaja dipilih karena memiliki pengalaman dalam merancang pembangunan masjid sebelumnya. Dalam proses pembangunannya, konsep arsitektur kemudian diarahkan untuk mengangkat kearifan lokal Kesultanan Cirebon.
Keberadaan unsur tersebut membuat Masjid Syarif Abdurachman bukan hanya menarik dari sisi fisik, tetapi juga menyimpan cerita tentang kerja bersama di tengah keberagaman.
Kini, Masjid Syarif Abdurachman berdiri berdampingan dengan denyut aktivitas wisata religi Sunan Gunung Djati.
Menjelang pagi, kawasan tersebut mulai dipenuhi aktivitas jamaah. Sebagian datang untuk menunaikan salat Subuh, sementara lainnya bersiap melanjutkan perjalanan ziarah menuju kompleks makam.
Ketika matahari mulai terbit, aktivitas di sekitar masjid semakin ramai. Bus-bus rombongan peziarah mulai berdatangan dan para jamaah memanfaatkan area masjid untuk beribadah, beristirahat, maupun bersiap melanjutkan perjalanan.
Bagi sebagian peziarah, masjid ini menjadi tempat untuk menunaikan salat sebelum atau sesudah berziarah. Bagi masyarakat sekitar, keberadaannya menambah fasilitas keagamaan sekaligus memperkuat daya tarik kawasan wisata religi Gunung Jati.
Lebih dari sekadar bangunan baru, Masjid Syarif Abdurachman kini menjadi bagian dari wajah baru kawasan Sunan Gunung Djati.
Kemegahan arsitekturnya berpadu dengan fungsi utamanya sebagai rumah ibadah. Di tempat yang sarat sejarah dan tradisi ziarah itu, masjid ini menghadirkan ruang baru bagi jamaah untuk berhenti sejenak, menunaikan kewajiban, dan melanjutkan perjalanan spiritual mereka.
Pada akhirnya, daya tarik Masjid Syarif Abdurachman bukan hanya terletak pada kemegahan bangunannya. Ada sejarah, cita-cita, pesan toleransi, kearifan lokal, serta kebutuhan para peziarah yang bertemu dalam satu tempat.
Itulah yang membuat masjid ini perlahan menjelma menjadi magnet baru di Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Djati Cirebon. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan