Beritabanten.com – Kebakaran yang melanda Desa Adat Sade, Lombok Tengah, pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, menjadi peringatan penting bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan pariwisata. Peristiwa tersebut tidak boleh berhenti sebagai kabar duka dan kerugian semata. Ada pelajaran penting yang harus segera diambil, yakni mitigasi kebakaran harus menjadi standar operasional prosedur (SOP) wajib di kawasan adat sekaligus destinasi wisata.
Sade bukan sekadar kampung tradisional. Kawasan ini merupakan bagian dari identitas budaya Lombok yang hidup melalui masyarakat, tradisi, dan arsitektur khas yang diwariskan secara turun-temurun. Ketika kebakaran terjadi, yang dipertaruhkan bukan hanya bangunan, tetapi juga keberlangsungan warisan budaya. Karena itu, upaya pemulihan harus dibarengi dengan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan kawasan.
Karakter bangunan tradisional yang menggunakan material seperti kayu, bambu, dan alang-alang membuat kawasan tersebut memiliki kerentanan terhadap api. Dalam kondisi seperti itu, keterlambatan penanganan beberapa menit saja dapat membuat api berkembang dan merembet ke bangunan lain.
Jangan menunggu api membesar untuk mencari alat pemadam, sumber air, jalur evakuasi, atau akses kendaraan pemadam. Semua perangkat tersebut harus tersedia dan siap digunakan sebelum keadaan darurat terjadi.
Setiap kawasan adat yang menjadi destinasi wisata idealnya memiliki sistem peringatan dini, alat pemadam yang mudah dijangkau, sumber air yang memadai, jalur evakuasi, titik kumpul, serta akses yang memungkinkan petugas pemadam bergerak cepat. Instalasi listrik juga harus diperiksa secara berkala untuk memastikan tidak ada sambungan atau perangkat yang berpotensi menjadi sumber kebakaran.
Namun, perangkat saja tidak cukup. Masyarakat harus menjadi bagian utama dari sistem mitigasi. Warga, pengelola wisata, pemandu, pedagang, dan petugas keamanan perlu mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika kebakaran terjadi.
Siapa yang memberikan peringatan? Siapa yang menghubungi petugas? Ke mana wisatawan diarahkan? Di mana titik kumpul? Bagaimana melakukan pemadaman awal? Semua pertanyaan tersebut harus memiliki jawaban yang jelas dalam SOP.
Karena itu, simulasi kebakaran perlu dilakukan secara berkala. Simulasi bukan sekadar formalitas, melainkan cara untuk memastikan seluruh sistem benar-benar bekerja ketika keadaan darurat terjadi. Skenario kebakaran pada malam hari juga perlu diperhitungkan karena situasinya berbeda ketika sebagian besar masyarakat sedang beristirahat.
Pasca kebakaran 22 Agustus 2026, perhatian tentu tertuju pada pemulihan Desa Adat Sade. Namun, pembangunan kembali jangan hanya mengembalikan bangunan yang hilang. Sade perlu dibangun kembali dengan sistem keselamatan yang lebih baik.
Nilai adat dan karakter arsitektur tradisional tetap harus dipertahankan, tetapi aspek keselamatan juga harus menjadi bagian dari perencanaan sejak awal. Pemerintah, masyarakat adat, pemadam kebakaran, ahli bangunan, pengelola pariwisata, dan seluruh pihak terkait perlu duduk bersama mencari solusi terbaik.
Bagaimana mempertahankan keaslian Sade tanpa mengorbankan keselamatan? Ini bukan pilihan antara budaya atau keselamatan. Keduanya harus berjalan bersama.
Kebakaran Sade semestinya menjadi momentum untuk mengevaluasi kawasan adat dan destinasi wisata lain di Lombok yang memiliki risiko serupa. Jangan sampai setiap kebakaran hanya melahirkan kepanikan sesaat, kemudian persoalan dilupakan ketika kondisi kembali normal.
Mitigasi harus menjadi kebiasaan, bukan reaksi.
Pada akhirnya, keberhasilan menjaga Desa Adat Sade tidak hanya diukur dari seberapa cepat bangunan yang terbakar dibangun kembali. Lebih penting adalah seberapa serius semua pihak memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang.
Sade harus tetap menjadi simbol budaya Lombok, sekaligus menjadi contoh bahwa warisan budaya dapat dilestarikan dengan standar keselamatan yang kuat. Sebab menjaga budaya bukan hanya mempertahankan bangunannya. Menjaga budaya berarti menjaga manusia, kehidupan, dan masa depan yang ada di dalamnya. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan