Beritabanten.com – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menjadi panggung yang berbeda bagi KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.

Lima tahun lalu, pada Muktamar ke-34 NU di Lampung, Gus Yahya datang sebagai kandidat yang berhadapan dengan petahana KH Said Aqil Siroj. Dalam pertarungan tersebut, sejumlah tokoh ikut membantu konsolidasi dukungan, termasuk Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dan Nusron Wahid.

Usai terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2021-2026, Gus Yahya bahkan menyebut Gus Ipul dan Nusron sebagai “pendekar-pendekar” Muktamar. Sebutan tersebut menggambarkan peran keduanya dalam perjuangan memenangkan kontestasi kepemimpinan NU saat itu.

Kini situasinya berbeda. Gus Yahya datang ke Muktamar ke-35 sebagai petahana. Posisi tersebut memberikan modal berupa pengalaman memimpin, jaringan organisasi, serta rekam jejak selama satu periode. Namun, status sebagai petahana sekaligus membawa beban yang lebih berat, yakni mempertanggungjawabkan lima tahun kepemimpinannya di hadapan para muktamirin.

Sebagai petahana, Gus Yahya tidak lagi hanya menawarkan gagasan tentang apa yang akan dilakukan. Ia juga harus menjawab apa yang telah dikerjakan, apa yang berhasil, apa yang belum tercapai, dan mengapa kepemimpinannya layak dilanjutkan.

Karena itu, pertanyaan mengenai tim pemenangan Gus Yahya dalam Muktamar ke-35 menjadi menarik. Apakah ia masih membutuhkan “Pendekar Muktamar” seperti pada 2021?

Sebagai ketua umum petahana, konsolidasi dukungan dapat bergerak melalui jaringan pesantren, ulama, pengurus wilayah, pengurus cabang, tokoh NU, hingga berbagai simpul Nahdliyin. Tidak harus selalu hadir dalam bentuk tim sukses formal.

Namun, kuatnya jaringan belum otomatis menjadi dukungan dalam forum muktamar. Pada akhirnya, kekuatan tersebut akan diuji melalui sikap para muktamirin.

Di sisi lain, Gus Yahya menghadapi beban evaluasi terhadap perjalanan PBNU selama periode 2021-2026. Selama masa kepemimpinannya, organisasi tidak lepas dari dinamika internal dan perbedaan pandangan mengenai arah kepengurusan.

Situasi tersebut membuat Muktamar ke-35 bukan hanya menjadi arena memilih pemimpin baru, tetapi juga ruang untuk mengevaluasi perjalanan NU selama satu periode.

Persoalan lain yang ikut menjadi perhatian adalah kasus hukum yang menjerat adik Gus Yahya, Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut.

Secara hukum, perkara tersebut merupakan perkara individu dan tidak dapat otomatis dibebankan kepada Gus Yahya maupun PBNU. Namun dalam politik organisasi, hubungan keluarga tetap dapat memunculkan persepsi tersendiri.

Gus Yahya menghadapi tantangan untuk memastikan persoalan hukum yang menimpa adiknya tidak berubah menjadi persoalan kelembagaan NU. Pada saat yang sama, ia juga harus menjaga kepercayaan para muktamirin terhadap kepemimpinannya.

Beban tersebut berbeda dengan situasi pada Muktamar 2021. Ketika itu Gus Yahya datang sebagai penantang dan menawarkan perubahan. Kini ia datang sebagai pemimpin yang harus mempertanggungjawabkan hasil kepemimpinannya.

Di sinilah posisi petahana menjadi pedang bermata dua. Pengalaman lima tahun dapat menjadi modal untuk mendapatkan mandat kembali. Namun pengalaman yang sama juga membuka ruang evaluasi terhadap seluruh kebijakan dan keputusan yang telah dijalankan.

Jika pada 2021 pertanyaan utamanya adalah apakah Gus Yahya mampu memenangkan pertarungan dan memimpin NU, maka pada 2026 pertanyaannya berubah menjadi apakah kepemimpinannya selama satu periode cukup untuk mendapatkan kepercayaan kembali.

Gus Ipul dan Nusron Wahid yang dulu disebut sebagai “Pendekar Muktamar” juga kini berada dalam posisi berbeda. Gus Ipul bahkan menjadi bagian dari struktur penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa peta Muktamar 2026 tidak persis sama dengan Muktamar 2021. Sebagian tokoh masih berada di dalam arena, tetapi posisi dan tanggung jawabnya telah berubah.

Pada akhirnya, Muktamar ke-35 akan menjadi ujian bagi Gus Yahya sebagai petahana. Bukan lagi sekadar siapa yang mampu menggalang dukungan, melainkan siapa yang mampu meyakinkan para muktamirin bahwa arah kepemimpinan NU lima tahun ke depan perlu diteruskan atau diperbarui.

Dulu Gus Yahya datang sebagai penantang dengan dukungan para “Pendekar Muktamar”. Kini ia datang membawa pengalaman lima tahun kepemimpinan.

Pertanyaannya pun berubah: bukan lagi sekadar siapa yang berada di belakang Gus Yahya, tetapi seberapa kuat kepercayaan para muktamirin terhadap rekam jejak kepemimpinannya.

Jawabannya akan terlihat di arena Muktamar NU. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com