Beritabanten.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sering kali dilihat dari dampaknya terhadap manusia. Asap mengganggu pernapasan, aktivitas masyarakat terganggu, kesehatan terancam, hingga kerugian ekonomi yang tidak sedikit.
Namun, ada sisi lain yang sering luput dari perhatian. Ketika api melahap hutan, kehidupan di dalamnya juga ikut terancam. Satwa kehilangan tempat tinggal, sumber makanan musnah, sementara habitat yang terbentuk selama bertahun-tahun dapat hancur dalam waktu singkat.
Bagi satwa liar, hutan bukan sekadar hamparan pepohonan. Hutan merupakan rumah untuk mencari makanan dan air, berlindung, berkembang biak, serta membesarkan anak.
Ketika api mulai menjalar, sebagian satwa mungkin masih mampu menyelamatkan diri. Namun, tidak semuanya memiliki kesempatan. Ada yang terjebak kepungan api, kehilangan induk atau anak, hingga mengalami luka akibat panas dan asap.
Kerusakan juga tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan.
Sarang yang terbakar tidak dapat langsung kembali. Sumber makanan yang musnah membutuhkan waktu untuk tumbuh. Habitat yang rusak membutuhkan proses panjang untuk pulih.
Bahkan ketika pepohonan baru mulai tumbuh, ekosistem yang sebelumnya terbentuk selama bertahun-tahun belum tentu langsung kembali seperti semula.
Sebuah pohon besar juga bukan sekadar bagian dari pemandangan. Di dalam dan sekitarnya bisa terdapat kehidupan berbagai jenis burung, serangga, mamalia, hingga tumbuhan lainnya.
Ketika pohon yang membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh habis terbakar dalam hitungan jam, yang hilang bukan hanya kayunya. Sebuah ruang kehidupan ikut lenyap.
Karena itu, kerugian akibat kebakaran hutan tidak cukup dihitung berdasarkan luas lahan yang terbakar atau nilai ekonomi yang hilang.
Ada kerugian ekologis yang jauh lebih sulit dihitung.
Berapa banyak sarang yang musnah? Berapa banyak anak satwa yang tidak sempat menyelamatkan diri? Berapa banyak sumber makanan yang hilang? Dan berapa lama ekosistem membutuhkan waktu untuk kembali berfungsi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali tenggelam ketika pembahasan karhutla hanya berpusat pada dampaknya terhadap manusia.
Padahal sebagian besar penghuni hutan tidak pernah memiliki pilihan dalam menentukan nasib habitatnya. Mereka tidak ikut memutuskan apakah sebuah lahan akan dibuka, dibakar, atau dimanfaatkan.
Mereka hanya menerima akibat dari keputusan yang dibuat manusia.
Karena itu, kebakaran hutan tidak seharusnya selalu dipandang sebagai persoalan alam semata.
Ketika kebakaran berkaitan dengan kelalaian atau aktivitas manusia, tanggung jawab harus dicari. Siapa yang membuka lahan? Bagaimana api muncul? Siapa yang menguasai atau mengelola kawasan tersebut? Apakah terjadi kelalaian atau terdapat unsur kesengajaan?
Pertanyaan tersebut penting agar penanganan karhutla tidak berhenti pada pemadaman api.
Pencegahan, pengawasan, pemulihan lingkungan, dan penegakan hukum harus berjalan bersamaan.
Pembangunan dan kebutuhan ekonomi memang tidak dapat dihindari. Lahan dibutuhkan untuk pertanian, perkebunan, permukiman, dan berbagai kegiatan lainnya.
Namun, kebutuhan tersebut tidak berarti alam dapat diperlakukan sebagai ruang kosong tanpa kehidupan.
Setiap kawasan hutan memiliki ekosistem yang terbentuk melalui proses panjang dan menjadi tempat bergantung bagi berbagai makhluk hidup.
Ironisnya, perhatian terhadap kebakaran sering kali meningkat setelah asap mulai masuk ke wilayah permukiman.
Ketika jarak pandang terganggu, sekolah diliburkan, penerbangan terdampak, atau kesehatan masyarakat mulai terganggu, barulah besarnya persoalan terasa.
Padahal sebelum asap mencapai kota, kehancuran mungkin sudah terjadi jauh lebih dahulu di dalam hutan.
Hutan yang terbakar bukan hanya persoalan pohon yang menjadi arang.
Ada rantai kehidupan yang terputus, habitat yang hilang, dan keseimbangan ekologis yang terganggu. Dampaknya mungkin tidak selalu terlihat dalam hitungan hari atau bulan, tetapi dapat dirasakan dalam waktu yang jauh lebih panjang.
Sudah saatnya kebakaran hutan dipandang sebagai persoalan kemanusiaan sekaligus persoalan kehidupan.
Satwa tidak mampu berbicara di ruang sidang. Tumbuhan tidak mampu meminta perlindungan. Ekosistem juga tidak memiliki suara untuk menolak ketika habitatnya dihancurkan.
Yang tersisa adalah tanggung jawab manusia untuk melindungi kehidupan yang tidak mampu membela dirinya sendiri.
Sebab ketika sebuah hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan.
Ada rumah yang musnah, kehidupan yang terputus, dan masa depan sebuah ekosistem yang ikut terbakar. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan