Beritabanten.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengunjungi Pondok Pesantren Al Muhajirin, di Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat pada Kamis 5 Februari 2026.

Dia menegaskan bahwa keunggulan pesantren dibandingkan yang lainnya adalah mampu lahirkan integrasi antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas, menyeimbangkan antara olah nalar atau akal dan olah batin.

Para santri, dikatakan, siang hari mengaktifkan otak kiri yang bersifat skeptis dan rasional untuk memecahkan persoalan.

Sementara malam hari hari, shalat tahajud dan kontemplasi yang menggerakkan otak kanan sehingga mendekatkan diri pada Yang Kuasa.

“Di pondok pesantren terjadi integrasi antara Iqra dan Bismi Rabbik (pendekatan ketuhanan). Inilah yang menciptakan keseimbangan antara ilmu dan ma’rifah,” ujar Menag.

Manag Nasurudin berbagi jurus pada santri agar memiliki kecerdasan yang berkah, dengan  menukil kitab Ihya Ulumuddin kaya Imam Ghozali.

Shock Therapy Ilmiah

Katanya,  wudhu sebagai bentuk shock therapy ilmiah yang dapat menurunkan getaran otak dari gelombang Beta (kondisi tidak fokus) ke gelombang Alpha atau Teta yang sangat baik untuk menghafal dan belajar.

“Pusat saraf itu berkumpul di kepala, tangan, dan kaki. Membasuhnya dengan air sejuk melalui wudhu akan menenangkan pikiran. Orang yang tidak khusyuk wudhunya, akan susah mendapatkan kekhusyukan dalam shalat maupun belajar,” tambah Menag.

Terus, santri juga diminta untuk tidak hanya membaca Basmalah saat makan nasi, tetapi juga saat “makan” makanan rohani, misalnya ketika membaca kitab atau belajar.

Nantinya, ilmu yang diserap tidak tercampur dengan gangguan ego atau godaan setan yang bisa membuat seseorang menjadi pintar namun kurang ajar.

“Hadirkan nama Allah di dalam benak saat membaca Basmalah. Insyaallah ilmu yang didapat akan menjadi vitamin yang berkah, mencerdaskan memori, dan menuntun ananda semua menjadi pemimpin umat di masa depan,” pungkasnya.

Semangat Menuntut Ilmu ke Luar Negeri

Menag menitipkan harapan besar agar para santri terus bersemangat menuntut ilmu hingga ke luar negeri.

Para santri agar menjaga adab, terutama dengan selalu mendoakan guru-guru mereka sebagai bentuk takzim kepada sosok yang telah mengajarkan ilmu.

“Saya menaruh harapan besar kepada anak-anakku semua, teruslah bersemangat menuntut ilmu bahkan sampai ke luar negeri. Insya Allah kalau diamalkan caranya, pasti bisa,” kata dia.

“Namun, saya berpesan, jangan pernah lupakan adab. Selalu doakan guru-guru kita. Itu adalah bentuk takzim kita kepada mereka yang telah memberikan ilmu,” demikian Menag Nasarudin tambahkan.

Menemani Manag Nasarudin pendiri Ponpes Al Muhajirin KH. Abun Bunyamin, Ketua Yayasan Al Muhajirin Euis Marfu’ah, Ustadz Hariri, Staf Khusus Menteri Agama Ismail Cawidu dan Gugun Gumilar, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, Direktur Pondok Pesantren Kemenag Basnang Said, Kakanwil Kemenag Jabar Dudu Rohman, Plt. Kakankemenag Kab. Purwakarta Ahmad Fathoni, serta jajaran pejabat Kemenag dan pengurus Ponpes Al Muhajirin. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com