Beritabanten.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah SD Muhammadiyah 1 Trenggalek atau yang dikenal sebagai SD Inovatif Trenggalek memutuskan untuk tidak melanjutkan keikutsertaannya pada tahun ajaran 2026/2027.

Keputusan tersebut diambil setelah sekolah mengikuti program pemerintah tersebut sejak November 2025. Selama hampir sepuluh bulan pelaksanaan, pihak sekolah melakukan evaluasi internal sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali menggunakan sistem penyediaan makanan secara mandiri.

Kepala SD Inovatif Trenggalek, Ikhsan Nur Wahyudi, menjelaskan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil pembahasan bersama antara pihak sekolah, guru, dan pengurus. Menurutnya, langkah tersebut bukan bentuk penolakan terhadap tujuan program MBG, melainkan hasil pertimbangan terhadap kondisi dan kebutuhan sekolah.

Salah satu alasan yang menjadi perhatian adalah waktu pelaksanaan distribusi makanan yang dinilai berdampak terhadap kegiatan pembelajaran. Pihak sekolah menyebut proses pembagian hingga konsumsi makanan membutuhkan waktu sekitar 30 menit setiap hari, sehingga perlu menjadi bahan evaluasi agar tidak mengurangi efektivitas jam belajar siswa.

Selain itu, sekolah juga mempertimbangkan aspek ketepatan sasaran penerima manfaat. Berdasarkan kondisi peserta didik di SD Inovatif Trenggalek, mayoritas siswa berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang dinilai cukup. Karena itu, pihak sekolah berpandangan bahwa program bantuan pangan sebaiknya lebih difokuskan kepada anak-anak yang membutuhkan dukungan gizi secara lebih mendesak.

Faktor lain yang turut menjadi pertimbangan adalah persoalan sisa makanan. Sekolah menemukan masih terdapat makanan yang tidak habis dikonsumsi siswa dan berakhir menjadi limbah. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian agar pelaksanaan program berskala nasional dapat berjalan lebih efektif dan mengurangi potensi pemborosan.

Meski memilih keluar dari program MBG, pihak sekolah menegaskan tetap mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak Indonesia. Mereka berharap pelaksanaan program dapat terus dievaluasi agar semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat di berbagai daerah.

Sebagai langkah selanjutnya, SD Inovatif Trenggalek kembali menerapkan sistem katering mandiri seperti yang dilakukan sebelum adanya program MBG. Melalui pola tersebut, sekolah memiliki ruang lebih besar dalam menentukan menu makanan, menyesuaikan kebutuhan siswa, serta melakukan pengawasan langsung terhadap kualitas makanan yang diberikan.

Keputusan SD Inovatif Trenggalek menjadi salah satu contoh bahwa pelaksanaan program nasional dapat menghadapi berbagai tantangan di tingkat lapangan. Keberhasilan program tidak hanya bergantung pada tujuan besar yang ingin dicapai, tetapi juga pada efektivitas pelaksanaan, karakteristik penerima manfaat, serta kesiapan masing-masing satuan pendidikan.

Sementara itu, Program Makan Bergizi Gratis masih terus berjalan di berbagai wilayah Indonesia. Di Kabupaten Trenggalek sendiri, program tersebut telah menjangkau ratusan ribu penerima manfaat melalui sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Evaluasi dari berbagai pihak, termasuk sekolah yang mengikuti program, dapat menjadi bahan pertimbangan untuk penyempurnaan kebijakan di masa mendatang. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com