Beritabanten.com – Deretan bibit mangrove yang ditanam di pesisir Desa Cibungur, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang, Minggu (26/7/2026), menjadi simbol kepedulian generasi muda terhadap kelestarian lingkungan. Di tengah ancaman abrasi dan terus berkurangnya kawasan hutan mangrove, ratusan mahasiswa dan komunitas pecinta alam memilih turun langsung ke lapangan untuk menjadi bagian dari solusi.
Melalui kegiatan Mangrove Camp Vol. 3 yang digelar Pusat Koordinasi Daerah (PKD) Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Provinsi Banten, sekitar 100 peserta dari berbagai Mapala, Siswa Pecinta Alam (Sispala), hingga komunitas lingkungan bersama-sama menanam 1.000 bibit mangrove sebagai upaya menjaga kawasan pesisir.
Bagi para peserta, kegiatan tersebut bukan sekadar aksi menanam pohon. Penanaman mangrove juga menjadi momentum membangun kesadaran bahwa menjaga alam merupakan tanggung jawab bersama, terutama di tengah meningkatnya ancaman kerusakan lingkungan.
Ketua Panitia Mangrove Camp Vol. 3, Rifki Gozali, mengatakan kondisi hutan mangrove di Banten memerlukan perhatian serius. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) serta Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Banten, sekitar 60 persen dari total kawasan mangrove seluas 2.600 hektare mengalami kerusakan akibat alih fungsi lahan dan abrasi.
Menurutnya, pesisir di sejumlah wilayah, seperti Teluk Banten dan Kabupaten Serang, termasuk kawasan yang mengalami dampak cukup besar sehingga upaya rehabilitasi perlu terus dilakukan.
“Kegiatan Mangrove Camp ini bertujuan melestarikan alam, mencegah abrasi, dan menanamkan kesadaran pentingnya menjaga lingkungan. Harapannya, semua elemen masyarakat punya kesadaran yang sama dalam menjaga lingkungan,” ujar Rifki.
Selain aksi penanaman mangrove, kegiatan tersebut juga menghadirkan berbagai agenda edukatif, mulai dari talkshow pengelolaan produk olahan mangrove, diskusi lingkungan, pertunjukan seni budaya Banten, pembacaan puisi bertema alam, hingga pelatihan teknik penanaman mangrove.
Peserta dari Skala Mapala Cilegon, Anisa Hermawati atau yang akrab disapa Semes, menilai kegiatan seperti ini mampu memberikan pengalaman langsung kepada generasi muda tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Ia berharap gerakan serupa dapat terus berkembang sehingga semakin banyak masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam menjaga kelestarian alam, khususnya kawasan mangrove yang memiliki peran penting dalam melindungi garis pantai.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari Pemerintah Kabupaten Pandeglang. Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang, Mia Maulani Rizki, menilai kegiatan pelestarian lingkungan dapat menjadi bagian dari pengembangan wisata berbasis edukasi.
Menurutnya, aksi penanaman mangrove tidak hanya berdampak pada upaya konservasi alam, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan wisata yang mengedepankan edukasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Di tengah berbagai tantangan perubahan iklim dan kerusakan kawasan pesisir, langkah sederhana seperti menanam mangrove menjadi pengingat bahwa menjaga alam tidak selalu harus dimulai dengan kebijakan besar. Kepedulian, kolaborasi, dan aksi nyata dari masyarakat menjadi fondasi penting untuk mewariskan lingkungan yang lebih baik kepada generasi mendatang. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan