Beritabanten.com – Ada ironi kecil di tengah mimpi besar menuju Indonesia Emas 2045. Negara ingin mencetak generasi unggul, tetapi di saat yang sama anggaran untuk tempat masyarakat mencari ilmu justru mengecil.

Anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada 2026 dikabarkan turun dari Rp721,68 miliar pada 2025 menjadi Rp377,99 miliar. Akibatnya, sejumlah program literasi seperti bantuan buku, penguatan perpustakaan daerah, hingga pengembangan taman bacaan masyarakat ikut terdampak.

Seolah-olah pesan yang muncul adalah: perut harus segera diisi, tetapi pikiran bisa menunggu.

Padahal, bangsa besar tidak hanya dibangun dengan masyarakat yang sehat secara fisik, tetapi juga dengan warga yang mampu membaca, memahami informasi, dan berpikir kritis.

Perut Kenyang, Buku Menghilang?

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tentu memiliki tujuan mulia. Anak-anak membutuhkan asupan gizi agar tumbuh sehat dan memiliki kemampuan belajar yang lebih baik.

Namun, manusia bukan hanya kumpulan perut yang perlu diisi. Ada juga pikiran yang membutuhkan makanan. Dan makanan bagi pikiran adalah ilmu pengetahuan.

Apa jadinya jika anak-anak mendapatkan menu bergizi setiap hari, tetapi semakin sulit menemukan buku untuk dibaca? Tubuh mungkin tumbuh sehat, tetapi daya pikir bisa berjalan tertatih.

Sebab, bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang mampu mengatasi kelaparan, tetapi juga bangsa yang mampu melawan kebodohan.

Literasi Bukan Kemewahan

Persoalan literasi Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Berbagai asesmen internasional, termasuk Programme for International Student Assessment (PISA), menunjukkan kemampuan membaca pelajar Indonesia masih menghadapi tantangan.

Literasi bukan sekadar bisa mengeja kata atau membaca kalimat. Literasi adalah kemampuan memahami informasi, memilah fakta dan opini, serta mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan.

Karena itu, perpustakaan bukan sekadar ruangan penuh rak buku yang berdebu. Ia adalah pintu masuk pengetahuan bagi banyak masyarakat, terutama di daerah yang akses pendidikannya masih terbatas.

Ketika anggaran perpustakaan dipangkas, yang berkurang bukan hanya jumlah buku. Yang ikut berkurang adalah peluang seorang anak menemukan ide baru, mengenal dunia lebih luas, dan membangun masa depan.

Indonesia Emas Jangan Hanya dengan Perut Emas

Efisiensi anggaran memang menjadi kewenangan pemerintah. Tetapi efisiensi juga perlu mempertimbangkan mana yang benar-benar bisa dikurangi dan mana yang justru menjadi fondasi pembangunan.

Gizi dan literasi bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya harus berjalan bersama. Anak yang sehat membutuhkan pengetahuan agar mampu mengembangkan potensi dirinya.

Indonesia Emas 2045 tidak cukup diisi oleh generasi yang bebas dari lapar, tetapi juga harus dihuni oleh generasi yang bebas dari keterbatasan wawasan.

Jangan sampai negara berhasil membuat rakyat kenyang, tetapi lupa memberi mereka bahan untuk berpikir.

Sebab bangsa yang perutnya terisi tetapi pikirannya kosong akan sulit berdiri sejajar dengan bangsa maju. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com