Beritabanren.com – Politik Indonesia kembali memperlihatkan bagaimana nama keluarga dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju kekuasaan. Dari keluarga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga keluarga Joko Widodo (Jokowi), anak-anak presiden memasuki arena politik dengan jalur yang berbeda, tetapi membawa satu kesamaan: mereka tumbuh di tengah sorotan publik dan ekspektasi besar masyarakat.

Kedua keluarga tersebut sama-sama berasal dari kultur Jawa, sebuah latar budaya yang dalam sejarah politik Indonesia memiliki pengaruh kuat terhadap cara kekuasaan dibangun. Jaringan sosial, simbol kepemimpinan, loyalitas, serta legitimasi publik menjadi bagian dari perjalanan politik para elite.

Namun, cara kedua keluarga membangun regenerasi politik menunjukkan perbedaan yang menarik.

Pada keluarga SBY, perjalanan politik anak-anaknya lebih banyak dibangun melalui jalur institusi. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berkembang melalui Partai Demokrat hingga dipercaya menjadi ketua umum partai dan menduduki posisi menteri di pemerintahan. Sementara Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menempuh jalur legislatif dan struktur organisasi partai hingga menjadi salah satu tokoh penting di DPR.

Pola tersebut menunjukkan bagaimana pengaruh politik keluarga dibangun melalui mesin organisasi. Nama besar SBY menjadi modal awal, tetapi kendaraan utamanya adalah partai politik, kaderisasi, dan struktur kelembagaan.

Berbeda dengan keluarga Jokowi yang menunjukkan pola lebih cepat melalui jalur figur dan popularitas. Gibran Rakabuming Raka memulai perjalanan politik dari kursi Wali Kota Solo sebelum kemudian mencapai posisi Wakil Presiden Republik Indonesia. Sementara Kaesang Pangarep, yang sebelumnya dikenal sebagai pengusaha muda dan figur publik, masuk ke dunia politik, memimpin partai politik, dan menyiapkan langkah menuju kursi DPR RI pada Pemilu 2029.

Jika dilihat dari perspektif modal politik, kedua keluarga sama-sama memiliki keuntungan berupa nama besar seorang presiden. Namun, cara mengubah modal tersebut menjadi kekuatan politik berjalan melalui jalur yang berbeda.

Keluarga SBY lebih mengandalkan modal organisasi berupa partai, jaringan kader, dan pengalaman politik kelembagaan. Sementara keluarga Jokowi lebih banyak memanfaatkan modal popularitas, citra generasi muda, media sosial, serta momentum politik yang berkembang.

Meski berbeda strategi, keduanya memperlihatkan satu gambaran yang sama tentang politik Indonesia: pengaruh keluarga masih menjadi aset penting dalam membangun karier politik.

Dalam budaya politik Jawa, simbol dan hubungan sosial memiliki peran besar dalam membangun kepercayaan publik. Namun dalam sistem demokrasi modern, simbol tersebut tetap harus diuji melalui pemilu, dukungan masyarakat, serta kemampuan menjalankan jabatan publik.

Karena itu, perbandingan keluarga SBY dan Jokowi bukan hanya tentang anak presiden yang masuk politik. Lebih jauh, fenomena tersebut menggambarkan bagaimana proses regenerasi elite politik berlangsung di Indonesia.

Satu sisi menunjukkan model pewarisan pengaruh melalui institusi partai. Sisi lain menunjukkan model politik berbasis figur, popularitas, dan percepatan elektoral.

Pada akhirnya, nama keluarga mungkin dapat membuka pintu menuju kekuasaan, tetapi keberlanjutan pengaruh politik tetap bergantung pada kemampuan membangun kepercayaan publik. Demokrasi akan menjadi ruang pembuktian apakah modal keluarga mampu bertahan ketika berhadapan dengan pilihan rakyat. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com