Beritabanten.com – Matahari belum lama terbit ketika perahu-perahu kayu mulai meninggalkan bibir Pantai Labuan, Kabupaten Pandeglang. Mesin tempel meraung memecah tenangnya laut, sementara di kejauhan siluet Gunung Anak Krakatau berdiri kokoh dengan status aktivitas yang kini meningkat menjadi Level III atau Siaga.
Bagi sebagian orang, status siaga menjadi alasan untuk menjauh. Namun bagi para nelayan kecil di pesisir Pandeglang, laut tetap menjadi tempat mencari kehidupan.
Setiap hari mereka berangkat dengan harapan yang sederhana: membawa pulang ikan agar dapur tetap mengepul. Ancaman aktivitas vulkanik memang mereka dengar, tetapi kebutuhan hidup terasa jauh lebih nyata.
“Kami tetap melaut. Yang penting tetap hati-hati dan mengikuti imbauan dari pemerintah,” ujar Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Ranting Labuan, Jumami, dalam keterangan tersiar luas, dikutip Senin 6 Juli 2026.
Menurutnya, hingga kini belum ada larangan resmi bagi nelayan untuk melaut. Selama kondisi perairan masih dinilai aman, aktivitas mencari ikan tetap berjalan seperti biasa.
Di balik ketenangan itu, para nelayan sebenarnya menyimpan kegelisahan. Bukan semata karena Gunung Anak Krakatau, melainkan ketidakpastian penghasilan jika suatu saat mereka benar-benar diminta menghentikan aktivitas di laut.
“Kalau dilarang melaut, siapa yang menjamin kehidupan nelayan?” katanya.
Pertanyaan itu menggambarkan realitas masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari hasil tangkapan harian. Berbeda dengan pekerja yang memiliki penghasilan tetap, nelayan hanya memperoleh pendapatan ketika mereka bisa berlayar dan membawa pulang ikan.
Meski demikian, masyarakat pesisir mengaku tidak asing menghadapi aktivitas Gunung Anak Krakatau. Erupsi demi erupsi telah mereka saksikan selama bertahun-tahun. Pengalaman itu membuat mereka lebih memilih meningkatkan kewaspadaan daripada menghentikan pekerjaan.
“Kekhawatiran tentu ada, tetapi kami sudah beberapa kali mengalami kondisi seperti ini,” ujar Jumami.
Ironisnya, persoalan terbesar yang kini dirasakan nelayan justru bukan berasal dari gunung api. Musim paceklik membuat hasil tangkapan terus menurun hingga sekitar 5 sampai hampir 10 persen. Dampaknya langsung terasa pada pendapatan keluarga nelayan yang semakin menipis.
Karena itu, selama belum ada pembatasan resmi dari pemerintah, mereka memilih tetap melaut. Bagi nelayan Pandeglang, laut bukan sekadar ruang mencari ikan, tetapi juga ruang mempertahankan harapan.
Di tengah bayang-bayang Anak Krakatau yang terus dipantau aktivitasnya, perahu-perahu itu masih berlayar. Sebab bagi mereka, risiko alam dapat dihadapi dengan kewaspadaan, tetapi kebutuhan hidup tidak bisa menunggu. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan