Beritabanten.com – Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode 5–19 Juli 2026 menunjukkan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) masih memiliki kekuatan elektoral yang cukup stabil di tingkat nasional.
Dalam survei tersebut, PKB memperoleh elektabilitas sebesar 5,4 persen. Angka itu membuat PKB tetap masuk dalam jajaran partai dengan basis dukungan nasional, meski posisinya harus turun ke peringkat kelima setelah disalip Partai Demokrat yang memperoleh 8,1 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan dua hal yang berbeda bagi PKB. Di satu sisi, partai tetap mampu mempertahankan basis pemilihnya. Namun di sisi lain, posisi yang berhasil direbut Demokrat menjadi tanda bahwa persaingan politik semakin ketat dan basis tradisional saja belum tentu cukup untuk meningkatkan dukungan.
PKB selama ini dikenal memiliki fondasi pemilih yang relatif kuat melalui hubungan historis dengan Nahdlatul Ulama (NU), jaringan pesantren, serta peran para tokoh agama. Ikatan sosial tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat PKB mampu bertahan di tengah perubahan dinamika politik.
Dalam kajian ilmu politik, kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui teori social cleavage yang dikembangkan Seymour Martin Lipset dan Stein Rokkan. Teori ini menjelaskan bahwa partai politik yang memiliki hubungan kuat dengan kelompok sosial tertentu cenderung memiliki basis dukungan yang lebih stabil.
Dalam konteks Indonesia, kedekatan historis PKB dengan komunitas keagamaan tertentu menjadi salah satu modal penting yang menjaga loyalitas pemilih.
Selain faktor basis sosial, kepemimpinan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin juga menjadi bagian dari perjalanan politik PKB. Selama memimpin partai, Cak Imin mampu menjaga konsolidasi internal dan mempertahankan posisi PKB sebagai salah satu kekuatan politik nasional.
Namun, keberhasilan Demokrat menyalip PKB memberikan gambaran bahwa stabilitas elektoral belum tentu sama dengan pertumbuhan politik.
Demokrat dinilai mampu memperluas dukungan melalui kombinasi faktor organisasi, figur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), serta strategi komunikasi politik yang lebih mampu menjangkau kelompok pemilih tertentu.
Dari perspektif party institutionalization atau pelembagaan partai, kekuatan sebuah partai tidak hanya ditentukan oleh basis lama, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.
Pemilih saat ini, terutama generasi muda, semakin banyak memperoleh informasi melalui ruang digital dan tidak selalu menentukan pilihan berdasarkan hubungan historis atau kedekatan kelompok. Mereka juga mempertimbangkan figur, program, citra partai, serta kemampuan menjawab persoalan publik.
Karena itu, hasil survei SMRC dapat menjadi evaluasi bagi PKB. Partai tersebut masih memiliki modal besar berupa basis pemilih yang loyal, jaringan organisasi, dan pengalaman politik nasional.
Namun, untuk kembali bersaing di posisi empat besar, PKB membutuhkan strategi yang lebih luas. Penguatan komunikasi digital, pembaruan narasi politik, serta kemampuan menarik pemilih di luar basis tradisional menjadi tantangan yang harus dijawab.
Survei SMRC menunjukkan bahwa PKB belum kehilangan kekuatan politiknya. Tetapi posisi yang disalip Demokrat menjadi pengingat bahwa dalam politik elektoral, mempertahankan basis tidak selalu cukup tanpa kemampuan memperluas dukungan..(Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan