Beritabanten.con — Sebuah momen dalam peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor menarik perhatian. Presiden Prabowo Subianto hadir dalam peringatan satu abad Gontor dan berinteraksi dengan Pimpinan PMDG, KH Hasan Abdullah Sahal.
Gestur sederhana dalam foto tersebut kemudian dibaca sebagai gambaran hubungan ulama dan umara: tetap santun ketika berhadapan dengan pemimpin, tetapi tidak kehilangan keberanian untuk menyampaikan nasihat.
Kiai Hasan dikenal menyampaikan pesan dengan gaya lugas dan khas. Dalam kesempatan tersebut, ia meneg Netaskan pentingnya pendidikan dan peran Gontor dalam membangun umat, bangsa, serta peradaban.
Momen itu mendapat perhatian dari Ustadz Ahmad Tsauri. Dalam tulisannya diterima redaksi Selasa 22 September 2026, ia menggambarkan sikap KH Hasan Abdullah Sahal sebagai sosok yang tidak menjadikan kedekatan dengan penguasa sebagai tujuan.
“Ini baru kiyai. Top! Saya tidak pernah sekagum ini sama KH Sahal. Menasehati, santun, tidak menghujat, tidak juga menjilat.”
Ahmad Tsauri juga menuliskan sejumlah kalimat yang menggambarkan prinsip tersebut:
“Saya tidak butuh jabatan dari bapak. Saya tidak butuh bantuan untuk pondok. Saya tidak butuh uang bapak. Saya tidak butuh dapur MBG Pak. Saya tidak butuh kiriman mobil mewah. Saya tidak akan titip-titip orang. Saya tidak butuh kemudahan bagi kolega. Saya tidak akan nguras ngirus.”
Menurut Ahmad Tsauri, sikap tersebut menjadi contoh bahwa seorang kiai dapat berinteraksi dengan penguasa tanpa harus kehilangan independensi dan keberanian untuk memberikan nasihat.
“Menasehati, santun, tidak menghujat, tidak juga menjilat. Oase keteladanan. Keren kiyai,” tulisnya.
Pesan yang muncul dari momen ini bukan sekadar tentang pertemuan seorang presiden dengan pimpinan pesantren. Lebih jauh, ia menggambarkan pentingnya posisi ulama sebagai pemberi nasihat kepada pemimpin.
Dekat dengan kekuasaan tidak selalu berarti harus mengikuti semua perkataan penguasa. Sebaliknya, memberikan nasihat juga tidak harus dilakukan dengan permusuhan atau penghinaan.
Dalam konteks itulah, foto tersebut menjadi menarik: seorang pemimpin negara dan seorang ulama berdiri dalam satu ruang, dengan hubungan yang tetap dilandasi rasa hormat namun memberi ruang bagi nasihat dan prinsip.
Satu abad Gontor akhirnya bukan hanya menjadi perayaan perjalanan sebuah pesantren, tetapi juga menjadi momentum untuk mengingat kembali pentingnya pendidikan, keteladanan, pengabdian, dan keberanian menyampaikan kebenaran.
Satu gambar, seribu pesan.
Ulama menasihati umara, bukan sekadar membenarkan umara. (Red
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan