Beritabanten.com – Tidak semua perjalanan menuju kursi gubernur dimulai dari perguruan tinggi atau lingkungan politik. Perjalanan Andra Soni justru memperlihatkan jalur yang bertahap: sekolah, bekerja, menabung untuk kuliah, kembali belajar, membangun karier, masuk politik, hingga akhirnya memimpin Provinsi Banten.
Kisah tersebut kembali disampaikan Andra saat membuka Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKBM) Universitas Bina Bangsa, Kota Serang, pada 16 September 2026. Di hadapan 4.966 mahasiswa baru, ia bercerita tentang pengalaman pendidikannya yang tidak berlangsung secara instan. Banten Provincial Website
Setelah lulus SMA sekitar 1995, Andra mengaku tidak bisa langsung kuliah karena kondisi ekonomi keluarga. Ia memilih bekerja sambil mengumpulkan uang untuk biaya pendidikan. Setahun kemudian, dengan menyisihkan gaji, ia mendaftar ke perguruan tinggi yang biayanya relatif terjangkau dan dapat dicicil.
Perjalanan akademiknya pun berlangsung panjang. Profil resmi Pemerintah Provinsi Banten mencatat Andra lulus D3 dari STIE Bhakti Pembangunan Jakarta pada 2001, menyelesaikan S1 di STIE Banten, S2 di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa pada 2023, dan kini menempuh pendidikan S3 di Universitas Padjadjaran.
Ada satu kalimat yang menjadi kunci dari cerita tersebut: pendidikan bagi Andra bukan sekadar urusan mendapatkan gelar, tetapi bagian dari perjuangan untuk mengubah kehidupan.
Di hadapan mahasiswa baru Uniba, Andra mengatakan pendidikan merupakan jalan utama untuk memutus mata rantai kemiskinan dan mengatasi kesulitan hidup. Ia juga mendorong generasi muda memiliki growth mindset, terbuka terhadap perubahan, tidak mudah menyerah dan melihat tantangan sebagai kesempatan untuk berkembang.
**Sekolah, Kerja dan Proses Belajar**
Profil resmi Pemprov Banten mencatat Andra menyelesaikan pendidikan dasar di SDN Gandaria Utara 03 Jakarta pada 1989, kemudian SMPN 240 Jakarta Selatan pada 1992 dan SMA 10 Nopember 1945 Bandung pada 1995\. Setelah itu, ia memasuki dunia kerja sebelum kembali melanjutkan pendidikan.
Fase bekerja sebelum kuliah menjadi bagian penting dari narasi perjalanan hidupnya. Andra tidak mengalami jalur pendidikan yang sepenuhnya lurus dari SMA menuju perguruan tinggi. Ia harus membangun kemampuan ekonominya terlebih dahulu sebelum kembali duduk di bangku kuliah.
Pengalaman tersebut membuat pendidikan dalam pandangan Andra memiliki dimensi yang sangat praktis. Belajar tidak hanya berlangsung di sekolah atau kampus, tetapi juga melalui pekerjaan, pengalaman hidup, pergaulan dan persoalan yang dihadapi sehari-hari.
Ia bahkan mengajak mahasiswa memahami prinsip lifelong learning atau belajar sepanjang hayat. Menurut Andra, di mana pun seseorang berada dan dengan siapa pun berinteraksi, selalu terdapat sesuatu yang dapat dipelajari.
Cara pandang tersebut menarik jika dikaitkan dengan perjalanan kariernya. Pendidikan formalnya berjalan bertahap, sementara pengalaman profesional dan politiknya berkembang pada saat yang sama.
**Dari Dunia Kerja ke Politik**
Sebelum menjadi gubernur, Andra memiliki pengalaman profesional yang cukup panjang. Profil resmi Pemprov Banten mencatat ia pernah menjadi Direktur PT Antaran Sukses sejak 2005 hingga 2014. Setelah itu, perjalanan politiknya berkembang melalui Partai Gerindra dan lembaga legislatif.
Pada 2014, Andra menjadi anggota DPRD Provinsi Banten. Lima tahun kemudian, ia dipercaya menjadi Ketua DPRD Provinsi Banten untuk periode 2019–2024. Setelah melalui perjalanan di legislatif dan partai, ia kemudian menjadi Gubernur Banten periode 2025–2030.
Rangkaian tersebut memperlihatkan proses akumulasi pengalaman yang cukup panjang. Sekolah memberikan fondasi awal, dunia kerja mempertemukannya dengan persoalan praktis, pendidikan tinggi memperkuat pengetahuan, sedangkan politik memberikan ruang untuk mengelola kepentingan publik.
Karena itu, karier Andra tidak hanya dapat dibaca melalui jabatan yangariknya, ketika menjadi Gubernur Banten, pendidikan menjadi salah satu isu yang sangat sering disampaikan Andra. Pengalaman prib pernah dipegang. Ada proses panjang di belakangnya, termasuk pengalaman bekerja sebelum memperoleh pendidikan tinggi.
Menariknya, ketika menjadi Gubernur Banten, pendidikan menjadi salah satu isu yang sangat sering disampaikan Andra. Pengalaman pribadinya mengenai sulitnya akses pendidikan kemudian muncul beriringan dengan kebijakan pemerintah daerah mengenai akses sekolah.
Pemprov Banten menjalankan Program Sekolah Gratis untuk SMA, SMK, Madrasah Aliyah dan Sekolah Khusus swasta. Andra menyatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya membuka akses pendidikan bagi masyarakat.
Dalam dialog bersama mahasiswa, Andra juga menjelaskan Sekolah Gratis sebagai salah satu instrumen untuk membantu masyarakat keluar dari kemiskinan. Ia menekankan pentingnya memastikan anak-anak dapat menyelesaikan pendidikan setingkat SMA atau SMK sehingga memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan memasuki dunia kerja.
Di sini terlihat hubungan yang menarik antara pengalaman pribadi dan agenda pemerintahan. Andra pernah berada pada posisi seseorang yang harus bekerja terlebih dahulu sebelum mampu melanjutkan pendidikan. Kini, sebagai gubernur, ia berada pada posisi yang memungkinkan pemerintah daerah memperluas akses pendidikan bagi masyarakat.
Tentu, pengalaman pribadi tidak dapat otomatis disebut sebagai penyebab sebuah kebijakan. Kebijakan pemerintah lahir dari proses politik, perencanaan, anggaran dan kebutuhan masyarakat yang lebih luas.
Namun, pengalaman tersebut setidaknya menjadi bagian penting dari narasi yang digunakan Andra ketika menjelaskan mengapa akses pendidikan menjadi perhatian pemerintahannya.
Growth Mindset dan Cara Memimpin
Dalam pertemuan dengan 4.966 mahasiswa baru Uniba, Andra tidak hanya berbicara mengenai gelar akademik. Ia juga menekankan pentingnya growth mindset, critical thinking, problem solving, komunikasi, kolaborasi, kepemimpinan, kreativitas dan kemampuan beradaptasi.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan yang ingin ia dorong tidak berhenti pada kemampuan akademik. Ada pula kemampuan menghadapi perubahan dan menyelesaikan persoalan.
Hal tersebut relevan dengan perjalanan hidupnya sendiri. Ia pernah menghadapi jeda pendidikan, bekerja untuk mengumpulkan biaya, kembali belajar dan kemudian melanjutkan pendidikan hingga tingkat magister.
Kini, ketika sudah menjadi gubernur, ia bahkan masih melanjutkan pendidikan doktoral. Profil resmi Pemprov Banten mencatat pendidikan S3 Andra di Universitas Padjadjaran masih dalam proses.
Dengan demikian, konsep lifelong learning yang disampaikan kepada mahasiswa bukan hanya sebuah pesan di ruang kuliah. Dalam perjalanan akademiknya, Andra sendiri masih menjalani proses pendidikan ketika telah memasuki usia dan posisi profesional yang jauh berbeda dibandingkan saat duduk di bangku SMA.
Dari Murid Menjadi Pengambil Kebijakan
Perjalanan Andra memperlihatkan perubahan posisi yang menarik.
Dulu, ia adalah siswa yang menyelesaikan SMA dan kemudian harus bekerja. Setelah itu, ia menjadi mahasiswa yang melanjutkan pendidikan secara bertahap. Kemudian ia memasuki dunia profesional dan membangun karier politik.
Kini, posisinya berubah. Ia bukan lagi orang yang hanya menerima kebijakan pendidikan, tetapi berada di pihak yang ikut menentukan arah kebijakan pendidikan di Provinsi Banten.
Transformasi tersebut membuat pengalaman sekolah dan kuliahnya memiliki konteks baru. Apa yang dulu menjadi persoalan pribadi, seperti keterjangkauan biaya pendidikan, kini hadir sebagai persoalan kebijakan publik dengan skala masyarakat.
Karena itu, kisah pendidikan Andra Soni menjadi lebih dari sekadar cerita biografis. Ia menjadi bagian dari cara seorang kepala daerah menjelaskan pandangannya mengenai pendidikan, kemiskinan, kerja keras dan mobilitas sosial.
Karier Panjang dan Modal Kepemimpinan
Jika dirangkai dari awal, perjalanan Andra membentuk sebuah garis yang cukup jelas: sekolah, bekerja, kuliah, berkarier, berorganisasi politik, menjadi anggota DPRD, memimpin DPRD dan kemudian menjadi gubernur.
Profil resmi Pemprov Banten mencatat kariernya sebagai Direktur PT Antaran Sukses pada 2005–2014, anggota DPRD Banten pada 2014–2019, Ketua DPRD Banten pada 2019–2024 dan Gubernur Banten sejak 2025.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa pengalaman Andra tidak hanya terbentuk dari pendidikan formal. Ia juga memperoleh pengalaman manajerial, politik dan kelembagaan.
Karena itu, ketika ia berbicara kepada mahasiswa mengenai kerja keras, pendidikan dan keberanian menghadapi tantangan, pesan tersebut memiliki latar pengalaman hidup yang cukup panjang.
Dari perspektif kepemimpinan, pengalaman semacam itu menjadi bagian dari modal sosial dan profesional yang kemudian dibawa ke pemerintahan.
Pendidikan sebagai Cerita Perjalanan Hidup
Pada akhirnya, kisah Andra Soni memperlihatkan bahwa pendidikan tidak selalu berjalan dalam garis lurus.
Ada yang langsung masuk perguruan tinggi. Ada yang harus bekerja terlebih dahulu. Ada yang kembali kuliah setelah memiliki pengalaman kerja. Ada pula yang terus belajar setelah memasuki dunia profesional dan pemerintahan.
Andra berada dalam kategori perjalanan yang bertahap tersebut.
Ia lulus SMA pada 1995, bekerja dan menabung, kemudian menyelesaikan pendidikan diploma. Perjalanan akademiknya berlanjut hingga S1, S2 dan kini S3.
Cerita itu kemudian dibawa ke hadapan ribuan mahasiswa baru Uniba. Pesannya adalah agar anak muda tidak melihat keterbatasan sebagai akhir perjalanan, tetapi sebagai bagian dari proses.
Dalam konteks pemerintahan Banten, narasi tersebut bertemu dengan kebijakan pendidikan yang diarahkan untuk memperluas akses. Program Sekolah Gratis, misalnya, ditempatkan pemerintah daerah sebagai bagian dari upaya membantu masyarakat memperoleh pendidikan dan memutus mata rantai kemiskinan.
Dari bangku sekolah hingga ruang gubernur, perjalanan Andra Soni menunjukkan satu hal: pendidikan dapat menjadi proses panjang yang berjalan bersamaan dengan kerja, pengalaman dan perjuangan.
Dan bagi Andra, proses belajar itu tampaknya belum selesai.
Sebab, ketika sebagian besar orang melihat pendidikan sebagai tahapan menuju sebuah gelar, ia justru membawa gagasan belajar sepanjang hayat ke dalam perjalanan kariernya sebagai pemimpin daerah. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan