Beritabanten.com Nama Sekretaris Kabinet Mayor Teddy Indra Wijaya kembali menjadi sorotan setelah perubahan tajam angka kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto dalam sejumlah survei terbaru.

Beberapa bulan lalu, Mayor Teddy tampil dengan penuh keyakinan membawa narasi kuat tentang legitimasi politik pemerintahan Prabowo. Ia menyebut lebih dari 96 juta pemilih pada Pilpres 2024 menjadi bukti bahwa rakyat memberikan kepercayaan besar kepada Presiden Prabowo dibandingkan berbagai kritik dari para pengamat.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo masih berada di angka tinggi. Saat itu, hasil sejumlah lembaga survei yang menunjukkan tingkat kepuasan mendekati 80 persen kerap dijadikan sebagai indikator bahwa pemerintah mendapatkan dukungan luas dari masyarakat.

Namun, peta persepsi publik berubah dalam beberapa bulan terakhir. Survei SMRC Juli 2026 mencatat tingkat kepuasan terhadap Presiden Prabowo turun menjadi 51,1 persen, sementara angka ketidakpuasan mencapai 46,9 persen.

Perubahan angka tersebut memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana sikap pemerintah membaca dinamika opini publik. Sebab, ketika survei menunjukkan angka positif, hasil tersebut digunakan sebagai bukti kepercayaan rakyat. Kini, ketika tren bergerak turun, publik menunggu penjelasan apakah pemerintah akan melihatnya sebagai bahan evaluasi atau sekadar dinamika politik biasa.

Dalam komunikasi politik, konsistensi menjadi salah satu kunci membangun kepercayaan publik. Survei bukan hanya penting ketika hasilnya menguntungkan pemerintah, tetapi juga menjadi instrumen untuk membaca kegelisahan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan.

Turunnya tingkat kepuasan tidak selalu berarti hilangnya dukungan politik. Namun, angka tersebut menjadi sinyal bahwa masyarakat menginginkan hasil yang lebih nyata, terutama terkait persoalan ekonomi, lapangan kerja, harga kebutuhan pokok, hingga pelaksanaan program pemerintah.

Mayor Teddy dan jajaran pemerintah kini menghadapi tantangan komunikasi yang berbeda. Jika sebelumnya pemerintah menjadikan tingginya survei sebagai bukti keberhasilan, maka perubahan angka saat ini menuntut jawaban mengenai langkah konkret untuk memperbaiki persepsi publik.

Pada akhirnya, kekuatan politik sebuah pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh besarnya dukungan saat pemilu, tetapi juga kemampuan menjaga kepercayaan masyarakat selama menjalankan kekuasaan. Survei yang naik maupun turun sama-sama menjadi pesan publik yang perlu dibaca secara serius. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com