Beritabanten.com – Ada kalanya seorang pria tidak langsung pergi ketika sedang terluka. Ia justru tetap berada di samping pasangannya, menjalankan kewajiban, membantu berbagai keperluan, dan berusaha terlihat seperti tidak terjadi apa-apa. Dari luar, semuanya mungkin tampak normal, tetapi di dalam dirinya bisa saja sedang berlangsung pergulatan yang tidak pernah ia ceritakan.

Pria yang pendiam bukan berarti tidak memiliki perasaan atau tidak mengingat apa yang pernah membuatnya kecewa. Sebagian pria memang terbiasa menyimpan masalah sendiri karena tidak ingin terlihat lemah atau tidak ingin memperpanjang pertengkaran. Namun, perasaan yang terus disimpan tetap dapat menumpuk dan pada akhirnya memengaruhi cara seseorang memandang hubungan.

Ada perbedaan antara diam untuk menenangkan diri dan diam karena sudah tidak memiliki tenaga untuk menjelaskan. Diam yang pertama bisa menjadi cara seseorang mengendalikan emosi sebelum kembali berbicara dengan pasangannya. Sementara diam yang kedua dapat menunjukkan adanya kelelahan emosional, terutama jika seseorang sudah berkali-kali menyampaikan hal yang sama tetapi merasa tidak didengarkan.

Dalam kajian hubungan pasangan, John Gottman menggunakan istilah stonewalling untuk menggambarkan pola ketika seseorang menarik diri dari interaksi konflik dan berhenti memberikan respons emosional yang berarti. Pola tersebut termasuk salah satu dari empat perilaku komunikasi yang menurut penelitian Gottman dapat merusak hubungan apabila menjadi kebiasaan. Karena itu, perubahan seorang pria dari yang sebelumnya komunikatif menjadi semakin tertutup patut dilihat sebagai bagian dari dinamika hubungan, bukan sekadar dianggap sebagai sifat pendiam.

Hal lain yang sering disalahpahami adalah pria yang penyayang dianggap tidak membutuhkan perhatian. Padahal, pria yang setiap hari melayani pasangannya, bekerja keras untuk keluarga, atau selalu berusaha memenuhi kebutuhan orang yang dicintainya tetap memiliki kebutuhan emosional. Ia juga ingin didengarkan, dihargai, diperhatikan, dan sesekali merasakan bahwa dirinya tidak selalu harus menjadi pihak yang kuat.

Dalam teori attachment yang dikembangkan dari pemikiran John Bowlby dan kemudian diterapkan pada hubungan romantis oleh Cindy Hazan dan Phillip Shaver, hubungan dekat dapat menjadi sumber rasa aman dan dukungan emosional bagi seseorang. Artinya, seseorang yang terlihat mandiri sekalipun tetap dapat membutuhkan kedekatan dengan orang yang dicintainya. Karena itu, pria yang selalu terlihat mampu mengurus semuanya bukan berarti tidak ingin sesekali dimanjakan oleh pasangannya.

Ketika perhatian dan pengorbanan seseorang terus dianggap sebagai sesuatu yang memang sudah menjadi kewajibannya, perlahan dapat muncul rasa tidak dihargai. Ia mungkin tidak langsung mengeluh karena sudah terbiasa melakukan banyak hal tanpa meminta balasan. Namun, jika keadaan tersebut berlangsung terus-menerus, bukan tidak mungkin ia mulai mempertanyakan apakah keberadaannya benar-benar dihargai dalam hubungan tersebut.

Dalam hubungan yang sehat, perbedaan pendapat sebenarnya merupakan hal yang wajar. Dua orang yang hidup bersama tentu tidak selalu memiliki cara berpikir, kebutuhan, dan harapan yang sama. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana keduanya menghadapi konflik, terutama ketika rasa kecewa berubah menjadi kebiasaan saling merendahkan, menyalahkan, atau mengabaikan.

John Gottman banyak membahas pola komunikasi yang dapat memperburuk hubungan, termasuk kritik yang menyerang pribadi, penghinaan, sikap defensif, dan menarik diri dari percakapan. Pola-pola tersebut dapat membuat konflik yang awalnya sederhana menjadi semakin sulit diselesaikan. Ketika pasangan terus berada dalam pola yang sama tanpa memperbaiki cara berkomunikasi, jarak emosional dapat terbentuk secara perlahan.

Karena itu, pria yang terlihat kasar juga tidak bisa langsung disimpulkan hanya berdasarkan satu perilaku. Kemarahan seseorang dapat dipengaruhi banyak hal, termasuk konflik yang berkepanjangan, frustrasi, pengalaman masa lalu, atau ketidakmampuan mengelola emosi. Namun, memahami latar belakang perilaku tidak berarti membenarkan kekerasan, ancaman, intimidasi, maupun penghinaan terhadap pasangan.

Seseorang tetap bertanggung jawab atas cara dirinya memperlakukan orang lain ketika sedang marah. Perasaan terluka mungkin dapat menjelaskan mengapa seseorang kehilangan kendali, tetapi tidak membuat tindakan menyakiti pasangan menjadi benar. Karena itu, baik pria maupun wanita tetap membutuhkan batas yang sehat dalam hubungan agar konflik tidak berubah menjadi perilaku yang membahayakan.

Ada perbedaan antara pria yang sedang marah dan pria yang mulai menyerah terhadap hubungan. Ketika seseorang masih marah, biasanya masih ada sesuatu yang ingin ia sampaikan atau perjuangkan. Ia masih bertanya, masih meminta penjelasan, masih berharap ada perubahan, dan masih menunjukkan bahwa persoalan tersebut penting baginya.

Sebaliknya, seseorang yang sudah terlalu lelah dapat mulai berhenti melakukan semua hal tersebut. Ia tidak lagi memperdebatkan masalah yang sama, tidak lagi meminta penjelasan, dan tidak lagi berusaha membuat pasangannya memahami perasaannya. Kondisi seperti ini bukan selalu berarti masalah telah selesai, karena bisa saja yang berkurang sebenarnya adalah keinginannya untuk terus memperjuangkan hubungan.

Kepergian seseorang pun sering kali tidak dimulai ketika ia benar-benar meninggalkan rumah. Dalam beberapa hubungan, proses tersebut dapat dimulai jauh sebelumnya ketika keterlibatan emosional perlahan berkurang. Seseorang masih duduk bersama pasangannya, masih menjalankan kewajiban, dan masih berbicara seperlunya, tetapi sudah tidak memiliki keinginan yang sama untuk berbagi cerita dan membangun kedekatan.

Perubahan semacam itu tentu tidak hanya terjadi pada pria dan tidak dapat digunakan sebagai aturan untuk semua hubungan. Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi konflik dan rasa sakit. Namun, ketika perubahan perilaku berlangsung terus-menerus, pasangan sebaiknya melihatnya sebagai kesempatan untuk memahami apa yang sedang terjadi, bukan sekadar menunggu sampai semuanya menjadi lebih buruk.

Jika seorang pria yang biasanya banyak berbicara mulai lebih sering diam, mungkin ada sesuatu yang sedang ia proses dalam dirinya. Jika pria yang biasanya meminta perhatian mulai tidak meminta apa pun, mungkin ada kebutuhan emosional yang sudah lama tidak tersampaikan. Dan jika pria yang biasanya berusaha mempertahankan hubungan mulai terlihat tidak peduli, penting untuk melihat apakah ia sedang menenangkan diri atau justru mulai menarik diri secara emosional.

Hubungan yang baik bukan hanya tentang siapa yang paling banyak memberi atau siapa yang paling lama bertahan. Hubungan juga membutuhkan rasa dihargai, didengarkan, dan diperhatikan dari kedua belah pihak. Pria juga memiliki kebutuhan untuk merasa dicintai, sebagaimana wanita juga memiliki kebutuhan untuk merasa aman dan dihargai dalam hubungan.

Karena itu, sebelum bertanya apakah pasangan masih mencintai kita, mungkin ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting. Apakah selama ini ia merasa dicintai, dihargai, dan didengarkan ketika sedang menyampaikan sesuatu yang membuatnya terluka? Sebab seseorang bisa saja masih mencintai pasangannya, tetapi pada saat yang sama sudah merasa terlalu lelah dengan pola hubungan yang terus berulang.

Jangan menunggu seseorang benar-benar pergi untuk menyadari bahwa selama ini ada luka yang tidak pernah diselesaikan. Perhatikan perubahan kecil dalam cara pasangan berbicara, berkomunikasi, dan menunjukkan perhatian. Terkadang, yang dibutuhkan bukan pertengkaran yang lebih besar, melainkan percakapan yang lebih jujur sebelum jarak di antara dua orang menjadi semakin sulit dipulihkan.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan semata-mata tentang pria atau wanita. Ini tentang dua manusia yang sama-sama memiliki kebutuhan emosional, batas kesabaran, dan cara berbeda dalam menghadapi rasa sakit. Seseorang bisa bertahan cukup lama karena cinta, tetapi cinta saja tidak selalu cukup jika rasa hormat, komunikasi, dan perhatian terus-menerus hilang dari sebuah hubungan. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com