Beritabanten.com – Pemerintah Indonesia mulai mengebut pembahasan mekanisme pembayaran utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh dengan pemerintah China.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan membahas persoalan tersebut secara langsung dengan Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China (NDRC) dalam kunjungannya ke China pada 15–18 September 2026.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah Indonesia mempercepat penyelesaian persoalan struktur utang proyek Whoosh yang selama ini menjadi perhatian.

“Kita tidak bisa membiarkan persoalan ini berlarut-larut karena akan merugikan kita. Harus ada tindak lanjut secara teknis,” kata Luhut kepada ANTARA di Beijing, Jumat (18/9/2026).

Luhut bertemu dengan Ketua NDRC Zheng Shanjie untuk membahas mekanisme pembayaran utang tersebut.

Menurut Luhut, pemerintah China tidak menyampaikan keberatan terhadap mekanisme pembayaran yang telah diusulkan Indonesia.

Di dalam negeri, pembahasan tersebut juga disebut telah mendapatkan dukungan dari pemerintah. Presiden Prabowo Subianto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Menteri Keuangan Suahasil Nazara telah mendapatkan penjelasan mengenai perkembangan negosiasi.

“Presiden sudah memberikan lampu hijau. Sekarang tinggal pelaksanaannya,” ujar Luhut.

Luhut mengatakan DEN ikut membantu mempercepat proses pembahasan dengan pemerintah China, terutama karena hubungan Indonesia dan China dinilai menjadi modal penting dalam proses negosiasi.

## Skema Cicilan Bisa Sampai 80 Tahun

Pembahasan mengenai restrukturisasi utang Whoosh sebelumnya juga mengemuka setelah mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut skema pembayaran dapat dibuat lebih ringan.

Dalam skema yang dibahas, cicilan tahunan disebut berada di kisaran Rp1 triliun dengan tenor pembayaran yang dapat mencapai hingga 80 tahun.

Skema tersebut masih menjadi bagian dari proses restrukturisasi dan pembahasan teknis antara pihak-pihak terkait.

## Pemerintah Siapkan Akuisisi 60 Persen Saham KCIC

Selain persoalan utang, pemerintah Indonesia juga tengah menyiapkan langkah untuk mengambil alih 60 persen kepemilikan pada PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), perusahaan yang mengoperasikan layanan Whoosh.

Rencananya, 60 persen saham tersebut akan berada di pihak Indonesia, sedangkan 40 persen sisanya tetap dimiliki konsorsium China melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd.

Kementerian Keuangan saat ini melakukan proses due diligence serta valuasi terhadap saham yang akan dialihkan.

CEO Danantara, Rosan Roeslani, juga menyatakan proses pengalihan pengelolaan KCIC kepada Kementerian Keuangan masih berjalan sesuai jadwal.

## Whoosh Didorong Lanjut ke Surabaya

Di tengah pembahasan utang dan kepemilikan KCIC, pemerintah juga mulai melihat pengembangan jaringan kereta cepat ke wilayah lain.

Luhut menyebut keberhasilan Whoosh mengubah pola mobilitas masyarakat antara Jakarta dan Jawa Barat telah memunculkan permintaan agar jaringan kereta cepat diperpanjang hingga Surabaya, Jawa Timur.

Usulan tersebut bahkan telah disampaikan Luhut dalam pertemuannya dengan pejabat pemerintah China.

Jika terealisasi, jalur kereta cepat Jakarta–Surabaya akan menjadi kelanjutan dari jaringan yang saat ini menghubungkan Jakarta dan Bandung.

## Siapa yang Akan Mengawal Kelanjutan Proyek?

Ke depan, Presiden Prabowo disebut akan menunjuk seorang menteri koordinator untuk mengawal kelanjutan proyek kereta cepat sekaligus memastikan kesinambungan program.

Salah satu nama yang disebut Luhut adalah Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono.

Namun, penunjukan tersebut merupakan kewenangan Presiden.

Kunjungan Luhut ke China berlangsung pada 15–18 September 2026. Selain menghadiri China Economic and Social Forum 2026 di Hangzhou, Luhut juga memberikan kuliah umum di Tsinghua University, Beijing.

Dalam kunjungan tersebut, Luhut turut melakukan pertemuan bilateral dengan sejumlah pejabat tinggi China, termasuk Menteri Luar Negeri China Wang Yi.

Pembahasan utang Whoosh menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian pertemuan tersebut.

Kini, pemerintah Indonesia menghadapi dua agenda besar sekaligus: menyelesaikan restrukturisasi utang Whoosh dan menyiapkan skema kepemilikan serta pengelolaan KCIC.

Di sisi lain, wacana memperpanjang kereta cepat hingga Surabaya mulai masuk dalam pembahasan sebagai langkah lanjutan pengembangan jaringan kereta cepat di Indonesia. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com