Beritabanten.com — Penutupan Bandara Soekarno-Hatta akibat sebaran abu vulkanik Anak Krakatau pada 6 September 2026 membuat perjalanan udara dari Bali menuju Jakarta terganggu. Pengalaman tersebut dirasakan langsung oleh Denny JA yang bersama rombongannya tertahan di Bali setelah penerbangan menuju Jakarta dibatalkan.
Denny JA menuturkan melalui akun Facebook-nya, sekitar 30 menit setelah meninggalkan Bali, pesawat yang ditumpanginya harus berbalik arah dan kembali mendarat di Denpasar.
Menurut Denny JA, kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa kecanggihan teknologi manusia tetap memiliki batas ketika berhadapan dengan kekuatan alam.
“Untuk menyadari betapa kecilnya manusia, kadang kita hanya memerlukan sebuah gunung yang mengembuskan abu,” ujar Denny JA.
Menurut Denny JA, aktivitas Anak Krakatau pada awal September 2026 berdampak terhadap jalur penerbangan di sekitar Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian Sumatra. Abu vulkanik yang mencapai ketinggian puluhan ribu kaki membuat sejumlah penerbangan terganggu dan memaksa banyak penumpang menunda perjalanan.
Bagi Denny JA, gangguan penerbangan tersebut bukan sekadar persoalan angka atau jadwal penerbangan. Di balik pembatalan penerbangan terdapat orang tua yang menunggu anak, keluarga yang gagal bertemu, hingga berbagai agenda pekerjaan yang harus ditunda.
Ia sendiri akhirnya harus memperpanjang masa tinggal di Bali karena belum memungkinkan untuk kembali ke Jakarta.
Denny JA mengatakan rombongannya sempat mempertimbangkan berbagai alternatif perjalanan. Pilihan tersebut antara lain terbang ke Surabaya kemudian melanjutkan perjalanan dengan kereta, melalui Yogyakarta atau Semarang, hingga menggunakan jalur laut dan darat.
Namun, malam itu mereka memilih menunggu kondisi membaik.
“Ke Jakarta Aku Kan Kembali”
Situasi tersebut membuat Denny JA teringat pada lagu “Kembali ke Jakarta” dari Koes Plus.
Penggalan lirik “Ke Jakarta aku kan kembali” yang biasanya dimaknai sebagai ungkapan kerinduan, malam itu menurutnya berubah menjadi sebuah harapan sederhana untuk dapat kembali ke ibu kota dengan selamat.
Bagi Denny JA, pengalaman tertahan akibat abu vulkanik tersebut juga memperlihatkan bagaimana manusia pada akhirnya harus menyesuaikan diri dengan kondisi alam.
Manusia dapat merancang perjalanan, membeli tiket, mengatur jadwal, dan menentukan tujuan. Namun, ketika kondisi alam berubah, seluruh rencana tersebut dapat berubah dalam hitungan menit.
Abu Vulkanik dan Keselamatan Penerbangan
Denny JA menilai keputusan menghentikan penerbangan ketika terdapat risiko abu vulkanik tidak semestinya dipandang sebagai bentuk kepanikan.
Menurutnya, abu vulkanik dapat membahayakan mesin pesawat karena material tersebut dapat meleleh pada temperatur tinggi dan menempel pada komponen mesin.
Ia mengingatkan bahwa sejarah penerbangan telah menunjukkan bahaya tersebut. Salah satunya adalah insiden British Airways 009 pada 1982 yang memasuki awan abu vulkanik Gunung Galunggung dan mengalami kehilangan daya pada keempat mesinnya.
Menurut Denny JA, pengalaman akibat aktivitas Anak Krakatau juga memperlihatkan paradoks kehidupan modern.
Manusia mampu mengatur perjalanan lintas pulau hanya dalam hitungan jam dengan bantuan teknologi. Namun, sebuah gunung yang mengeluarkan abu dapat membuat seluruh jadwal tersebut berubah dalam waktu singkat.
“Ekonomi dapat dipulihkan. Jadwal dapat disusun kembali. Tiket dapat diterbitkan ulang. Tetapi nyawa yang hilang tidak pernah dapat diterbitkan kembali,” kata Denny JA.
Ia menegaskan, kemajuan bukan hanya soal kemampuan manusia menaklukkan jarak dan waktu, tetapi juga kemampuan untuk mengetahui kapan perjalanan harus dihentikan demi keselamatan.
“Kita boleh menentukan ke mana hendak pulang. Tetapi sesekali alamlah yang menentukan kapan langit membuka jalan.” (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan