Beritabanten.com.– Pernyataan Dedi Mulyadi di media sosial bahwa dirinya tidak tertarik maju dalam pemilihan presiden, disertai dukungan kepada Prabowo Subianto untuk melanjutkan kepemimpinan dua periode, dapat dibaca sebagai praktik komunikasi politik yang lebih kompleks daripada sekadar sikap pribadi. Dalam konteks politik kontemporer, terutama di era digital, pernyataan seperti ini sering kali merupakan bagian dari pengelolaan citra dan persepsi publik.

Pendekatan dramaturgi politik dari Erving Goffman membantu menjelaskan fenomena ini. Dalam perspektif ini, kehidupan sosial—termasuk politik—dipahami sebagai panggung pertunjukan. Aktor politik menampilkan diri mereka di “front stage” untuk membentuk kesan tertentu di hadapan publik, sementara di “back stage” mereka tetap menyusun strategi yang mungkin berbeda dari apa yang ditampilkan.Dalam kerangka tersebut, pernyataan “tidak tertarik maju Pilpres” dapat dipahami sebagai bagian dari front stage performance. Ia membangun citra sebagai figur yang tidak ambisius, rendah hati, dan loyal terhadap kepemimpinan yang ada. Citra ini penting, karena dalam banyak kasus, publik cenderung lebih menerima figur yang tampak tidak agresif dalam mengejar kekuasaan. Namun, di sisi lain, “back stage” politik tidak pernah benar-benar berhenti. Sebagai figur dengan eksposur nasional yang terus meningkat, Dedi Mulyadi tetap berada dalam dinamika persaingan politik yang lebih luas. Dengan kata lain, penolakan di ruang publik tidak serta-merta menghapus kemungkinan dalam praktik politik yang sesungguhnya.

Selain dramaturgi, konsep agenda-setting dalam studi komunikasi politik juga relevan untuk memahami situasi ini. Teori ini menyatakan bahwa aktor politik tidak selalu menentukan apa yang harus dipikirkan publik, tetapi mereka dapat memengaruhi apa yang dianggap penting untuk dipikirkan. Dengan mengangkat narasi “tidak tertarik maju”, perhatian publik dialihkan dari spekulasi pencalonan menuju isu loyalitas dan posisi politik saat ini.

Pendekatan lain yang juga dapat digunakan adalah signaling theory. Dalam teori ini, pernyataan publik dipandang sebagai sinyal yang dikirimkan kepada audiens tertentu. Dukungan terhadap dua periode kepemimpinan dapat menjadi sinyal kepada elite politik bahwa aktor tersebut berada dalam garis yang sama, sementara pernyataan tidak tertarik maju dapat menjadi sinyal kepada publik bahwa dirinya bukan figur yang haus kekuasaan. Kedua sinyal ini bekerja secara bersamaan, meskipun ditujukan kepada audiens yang berbeda. Dari sudut pandang ini, pernyataan di media sosial bukan sekadar refleksi sikap, melainkan bagian dari strategi komunikasi yang dirancang untuk mencapai beberapa tujuan sekaligus: menjaga hubungan dengan elite, mengelola persepsi publik, dan tetap mempertahankan ruang gerak politik di masa depan.

Dengan demikian, sikap yang ditunjukkan Dedi Mulyadi tidak dapat dipahami hanya sebagai penolakan terhadap peluang politik. Ia lebih tepat dilihat sebagai praktik pengelolaan peran di atas panggung politik yang kompleks. Apa yang ditampilkan di depan publik adalah bagian dari konstruksi citra, sementara dinamika yang lebih strategis tetap berlangsung di belakang layar. Pada akhirnya, dalam politik modern, yang terlihat sering kali hanyalah sebagian dari keseluruhan proses. Pernyataan yang tampak sederhana dapat berfungsi sebagai alat untuk mengatur persepsi, mengirim sinyal, dan menjaga keseimbangan posisi dalam struktur kekuasaan yang terus bergerak..(Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com