Beritabanten.com.– Pernyataan Dedi Mulyadi bahwa dirinya tidak tertarik maju dalam pemilihan presiden menjadi menarik justru karena bertabrakan dengan perilaku politiknya sendiri: tetap sangat aktif di media sosial dan intens turun ke berbagai daerah. Dalam politik, yang menentukan bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi apa yang dilakukan. Dan di titik inilah muncul pertanyaan: jika benar tidak tertarik, mengapa aktivitas politiknya justru menyerupai kandidat nasional?

Dalam perspektif political branding, aktivitas di media sosial dan kunjungan ke daerah bukan sekadar rutinitas pejabat publik. Itu adalah proses membangun identitas politik di hadapan publik. Media sosial berfungsi sebagai alat untuk memperluas jangkauan pesan, sementara kunjungan lapangan memperkuat kedekatan dengan pemilih. Kombinasi keduanya adalah ciri khas dari figur yang sedang memperluas basis dukungan, bukan figur yang menarik diri dari kontestasi.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep permanent campaign. Dalam teori ini, politisi modern tidak lagi berkampanye hanya menjelang pemilu, tetapi terus-menerus membangun popularitas dan citra sepanjang waktu. Aktivitas di media sosial, produksi konten, hingga kunjungan ke daerah menjadi bagian dari kampanye yang berlangsung tanpa jeda. Dengan demikian, keaktifan KDM dapat dibaca sebagai upaya menjaga visibilitas politik, terlepas dari pernyataan bahwa ia tidak tertarik maju.

Selain itu, terdapat pula logika name recognition dalam politik elektoral. Semakin sering seorang tokoh muncul di ruang publik, semakin tinggi tingkat pengenalannya di mata pemilih. Dalam banyak kasus, tingkat pengenalan ini menjadi modal awal yang sangat menentukan dalam kontestasi politik. Aktivitas yang konsisten di media sosial dan di lapangan memperkuat posisi ini, sekaligus membuka peluang jika momentum politik berubah.

Di sisi lain, pernyataan “tidak tertarik” dapat dilihat sebagai bagian dari strategi komunikasi. Dalam konteks ini, terdapat upaya untuk membangun citra sebagai figur yang tidak ambisius, sekaligus menghindari tekanan politik yang muncul ketika seseorang dianggap terlalu dini masuk dalam arena kompetisi nasional. Dengan kata lain, ada pemisahan antara narasi publik dan praktik politik.

Kontradiksi antara pernyataan dan tindakan ini bukan hal baru. Dalam banyak kasus, politisi memilih untuk meredam ekspektasi secara verbal, sambil tetap melakukan konsolidasi kekuatan secara faktual. Aktivitas di media sosial dan kunjungan ke daerah menjadi cara untuk menjaga relevansi dan memperluas jaringan, tanpa harus secara terbuka menyatakan ambisi.

Dengan demikian, jika pertanyaannya adalah mengapa tetap aktif meski mengaku tidak tertarik, jawabannya terletak pada logika politik itu sendiri. Keaktifan tersebut bukan kontradiksi, melainkan bagian dari strategi: menjaga peluang tetap terbuka, tanpa harus mengambil posisi yang terlalu berisiko di awal. Pada akhirnya, dalam politik modern, pernyataan bisa meredam, tetapi aktivitas justru mengungkap arah sebenarnya. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com