Beritabanten.com.– Pernyataan Dedi Mulyadi bahwa dirinya tidak tertarik maju dalam pemilihan presiden, di saat yang sama tetap aktif di media sosial dan intens berkeliling daerah, menghadirkan satu fenomena yang dalam ilmu politik dapat disebut sebagai politik dua kaki. Di satu sisi, ia menegaskan loyalitas kepada Prabowo Subianto sebagai figur utama dalam struktur kekuasaan saat ini. Di sisi lain, ia terus membangun visibilitas dan memperluas basis dukungan yang justru menjadi prasyarat utama bagi seorang kandidat nasional. Fenomena ini bukan kontradiksi, melainkan strategi yang dapat dijelaskan melalui beberapa pendekatan teoretis.
Pendekatan signaling theory juga membantu membaca situasi ini. Dalam teori ini, setiap pernyataan publik dipahami sebagai sinyal yang dikirimkan kepada audiens tertentu. Ketika KDM menyatakan tidak tertarik maju, ia mengirim sinyal kepada elite politik bahwa dirinya tidak menjadi ancaman dalam jangka pendek. Sinyal ini penting untuk menjaga stabilitas hubungan dengan pusat kekuasaan. Namun, aktivitasnya di media sosial dan di lapangan mengirim sinyal yang berbeda kepada publik luas: bahwa ia adalah figur yang aktif, dekat dengan masyarakat, dan layak diperhitungkan. Dengan demikian, dua kaki tersebut bekerja pada dua audiens yang berbeda, tetapi saling melengkapi.
Selanjutnya, dalam kerangka political branding, aktivitas yang dilakukan KDM dapat dilihat sebagai upaya membangun identitas politik yang konsisten. Media sosial menjadi instrumen untuk memperluas jangkauan pesan, sementara kunjungan ke berbagai daerah memperkuat legitimasi sosial. Branding politik tidak selalu harus diiringi dengan deklarasi ambisi. Bahkan, dalam banyak kasus, citra sebagai figur yang “tidak ambisius” justru menjadi daya tarik tersendiri. Politik dua kaki memungkinkan proses branding ini berjalan tanpa memicu resistensi dari dalam struktur kekuasaan.
Fenomena ini juga dapat dijelaskan melalui konsep permanent campaign. Dalam politik modern, kampanye tidak lagi terbatas pada periode pemilu. Politisi terus-menerus membangun popularitas dan menjaga kedekatan dengan pemilih. Aktivitas KDM di media sosial dan di lapangan mencerminkan praktik kampanye yang berlangsung secara berkelanjutan. Pernyataan tidak tertarik maju tidak menghentikan proses ini, karena dalam logika permanent campaign, yang terpenting adalah menjaga keberadaan di ruang publik.
Dari sudut pandang dramaturgical analysis ala Erving Goffman, politik dua kaki juga dapat dilihat sebagai pengelolaan peran antara “panggung depan” dan “panggung belakang”. Di panggung depan, KDM menampilkan diri sebagai figur yang loyal dan tidak ambisius. Ini adalah citra yang ditujukan untuk konsumsi publik dan elite sekaligus. Namun di panggung belakang, proses akumulasi kekuatan tetap berjalan: memperluas jaringan, meningkatkan popularitas, dan membangun basis dukungan. Perbedaan antara apa yang ditampilkan dan apa yang dikerjakan menjadi bagian dari strategi, bukan inkonsistensi.
Lebih jauh, konsep agenda-setting menjelaskan bagaimana narasi “tidak tertarik maju” dapat mengalihkan fokus publik. Alih-alih terus berspekulasi soal pencalonan, perhatian publik diarahkan pada aspek lain, seperti loyalitas dan kinerja. Sementara itu, proses konsolidasi politik tetap berlangsung tanpa sorotan berlebihan. Dalam hal ini, politik dua kaki juga berfungsi sebagai mekanisme pengendalian narasi.
Dengan menggabungkan berbagai pendekatan tersebut, terlihat bahwa politik dua kaki bukanlah bentuk keraguan, melainkan strategi yang terstruktur. Kaki pertama menjaga stabilitas—loyalitas, keamanan posisi, dan hubungan dengan elite. Kaki kedua bergerak membangun masa depan—popularitas, jaringan, dan legitimasi publik. Keduanya berjalan bersamaan, bukan saling meniadakan.
Pada akhirnya, dalam lanskap politik yang kompleks, kemampuan untuk berdiri dengan dua kaki justru menjadi keunggulan. Pernyataan yang meredam ambisi tidak berarti ketiadaan ambisi, melainkan cara untuk mengelolanya. Dalam konteks ini, Dedi Mulyadi tidak sedang keluar dari arena politik nasional, tetapi memilih untuk tetap berada di dalamnya dengan pendekatan yang lebih berhitung. Dalam politik, sering kali yang paling menentukan bukan siapa yang paling cepat melangkah, tetapi siapa yang paling tepat memilih waktu. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan