Beritabanten.com – Empat tiang utama atau saka guru di Masjid Agung Demak bukan sekadar penyangga bangunan. Dalam tradisi masyarakat, keempat tiang tersebut dikaitkan dengan empat tokoh Wali Songo, yakni Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga.

Keberadaan empat saka guru itu menjadi salah satu bagian paling menarik dari sejarah Masjid Agung Demak. Bangunan yang dikenal sebagai salah satu peninggalan penting perkembangan Islam di Jawa tersebut menyimpan perpaduan antara arsitektur tradisional Jawa, sejarah Kesultanan Demak dan tradisi dakwah para wali.

Menurut tradisi yang berkembang di lingkungan Masjid Agung Demak, masing-masing saka memiliki kaitan dengan tokoh wali tertentu. Namun, secara historis, tidak terdapat bukti sezaman yang cukup kuat untuk memastikan bahwa keempat Sunan tersebut secara langsung membuat masing-masing tiang.

Karena itu, kisah empat saka guru lebih tepat dipahami sebagai bagian dari tradisi sejarah dan ingatan kolektif masyarakat Demak.

Saka guru sendiri mempunyai fungsi utama sebagai penyangga struktur atap. Penggunaan empat tiang utama menunjukkan kuatnya pengaruh arsitektur Jawa dalam pembangunan masjid pada masa awal perkembangan Islam.

Bentuk bangunan Masjid Agung Demak juga memperlihatkan proses akulturasi. Atap bertingkat tiga, penggunaan kayu jati dan struktur tiang tradisional memperlihatkan bahwa Islam di Jawa berkembang dengan berinteraksi dengan kebudayaan yang telah lebih dahulu hidup di tengah masyarakat.

Salah satu tiang yang paling terkenal adalah saka tatal yang dalam tradisi dikaitkan dengan Sunan Kalijaga. Kisah yang berkembang menyebutkan tiang tersebut dibuat dari potongan-potongan kayu yang disatukan.

Cerita itu kemudian melahirkan filosofi tentang persatuan. Potongan-potongan kecil yang berbeda dapat menjadi satu kekuatan besar ketika disatukan.

Namun, dalam penulisan sejarah, legenda dan fakta perlu ditempatkan secara berbeda. Cerita mengenai pembuatan saka tatal merupakan bagian dari tradisi yang diwariskan, sementara bukti mengenai proses pembuatannya secara persis masih menjadi persoalan yang perlu dikaji melalui sumber sejarah dan arkeologi.

Empat nama Sunan yang melekat pada saka guru pada akhirnya menjadi sebuah pertanda sejarah. Bukan hanya pertanda tentang siapa yang dipercaya masyarakat berperan dalam perkembangan Islam di Jawa, tetapi juga tentang bagaimana generasi berikutnya mengingat proses lahirnya Demak sebagai pusat kekuasaan dan dakwah Islam.

Empat tiang tersebut pun memiliki makna yang lebih luas. Secara fisik, ia menyangga bangunan. Secara simbolis, ia seakan menjadi penyangga ingatan masyarakat mengenai Wali Songo dan perjalanan Islamisasi Jawa.

Di sinilah Masjid Agung Demak menjadi lebih dari sekadar bangunan ibadah.

Ia merupakan ruang pertemuan antara sejarah, tradisi, arsitektur dan ingatan masyarakat.

Dan empat saka guru yang hingga kini tetap berdiri menjadi saksi bisu bagaimana kisah para wali terus diwariskan dari generasi ke generasi. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com