Beritabanten.com – Aksi demonstrasi yang berlangsung pada Kamis (27/8/2026) dan bertahan hingga malam bahkan dini hari menyisakan persoalan yang lebih besar daripada sekadar kapan massa akan membubarkan diri. Di tengah situasi yang semakin larut, perhatian justru tertuju pada komposisi massa yang terlihat banyak diisi remaja dan anak-anak usia sekolah, termasuk pelajar SMA. Fenomena ini patut menjadi perhatian karena demonstrasi yang pada awalnya merupakan ruang penyampaian aspirasi politik dan sosial berubah menjadi kerumunan malam dengan tingkat risiko yang jauh lebih tinggi bagi anak-anak yang seharusnya masih berada dalam pengawasan keluarga.
Munculnya banyak remaja di tengah aksi malam tidak serta-merta berarti seluruhnya memiliki tujuan yang sama dengan massa demonstrasi utama. Sebagian bisa saja benar-benar datang untuk menyampaikan aspirasi, tetapi sebagian lainnya mungkin terdorong oleh rasa penasaran, ajakan teman, pengaruh konten media sosial, atau sekadar ingin melihat langsung situasi yang sedang ramai. Ketika sebuah aksi menjadi viral dan menampilkan video kericuhan, kepadatan massa, aparat yang berhadapan dengan demonstran, maupun berbagai kejadian dramatis lainnya, daya tariknya bagi kelompok usia muda dapat meningkat karena mereka merasa sedang menjadi bagian dari sebuah peristiwa besar yang sedang dibicarakan banyak orang.
Dalam psikologi sosial, kondisi seperti ini dapat dibaca melalui konsep perilaku kerumunan atau crowd behavior, ketika individu mengalami perubahan perilaku setelah berada dalam kelompok besar. Seseorang yang dalam kondisi normal mungkin tidak akan berteriak, melempar benda, mengejar orang lain, atau melakukan tindakan berisiko, dapat mengalami perubahan keberanian ketika berada di tengah kerumunan karena merasa tidak sendirian dan identitas pribadinya menjadi lebih samar. Pada kelompok remaja, kondisi tersebut dapat menjadi lebih kompleks karena kemampuan mengendalikan impuls dan memperhitungkan konsekuensi jangka panjang masih berkembang.
Ada pula fenomena yang dikenal sebagai crowd contagion, yaitu ketika emosi, keberanian, kepanikan, atau kemarahan menyebar dari satu orang kepada orang lain di dalam kerumunan. Remaja yang pada awalnya mungkin hanya menjadi penonton dapat terbawa suasana ketika melihat massa berteriak, berlari, berhadapan dengan aparat, atau melakukan tindakan tertentu. Dalam situasi yang sudah tegang, keputusan individu dapat berubah sangat cepat karena orang tersebut mengikuti respons kelompok di sekitarnya tanpa sempat mempertimbangkan risiko secara matang.
Persoalannya menjadi semakin serius ketika aksi berlangsung hingga dini hari. Pada kondisi seperti itu, faktor kelelahan, emosi, minimnya pengawasan, dan situasi yang semakin sulit diprediksi dapat meningkatkan risiko bagi siapa pun yang berada di lokasi, terlebih anak-anak dan pelajar. Mereka bisa terjebak ketika massa bergerak, terpapar gas air mata apabila terjadi pembubaran, mengalami cedera ketika terjadi kericuhan, atau bahkan terseret ke dalam tindakan yang memiliki konsekuensi hukum meskipun sejak awal hanya datang karena penasaran atau mengikuti teman.
Karena itu, fenomena banyaknya remaja dan pelajar di lokasi demonstrasi pada malam hari tidak cukup dijawab dengan menyalahkan anak-anak tersebut. Ada persoalan yang jauh lebih luas mengenai bagaimana informasi dan ajakan aksi menyebar melalui media sosial, bagaimana anak-anak memahami sebuah demonstrasi, serta sejauh mana orang tua mengetahui keberadaan dan aktivitas anak mereka ketika situasi di jalan sudah tidak lagi aman. Media sosial dapat menjadi sarana penting untuk menyampaikan informasi dan aspirasi, tetapi algoritma juga dapat membuat konten kericuhan berulang kali muncul di hadapan pengguna muda sehingga menciptakan kesan bahwa berada di tengah konflik merupakan sesuatu yang menarik atau bahkan membanggakan.
Sekolah juga memiliki tanggung jawab dalam memberikan pemahaman mengenai hak menyampaikan pendapat sekaligus batas-batasnya. Pelajar perlu memahami bahwa kebebasan menyampaikan aspirasi merupakan bagian dari kehidupan demokratis, tetapi kebebasan tersebut tidak berarti seseorang bebas melakukan perusakan, menyerang orang lain, mengganggu fasilitas publik, atau menempatkan dirinya sendiri dalam situasi yang membahayakan. Pendidikan kewarganegaraan seharusnya tidak berhenti pada teori mengenai demokrasi di ruang kelas, tetapi juga mengajarkan bagaimana menjadi warga negara yang kritis tanpa kehilangan kemampuan untuk mengendalikan diri.
Di sisi lain, aparat juga menghadapi tantangan besar ketika berhadapan dengan massa yang komposisinya tidak lagi jelas. Ketika dalam satu kerumunan terdapat demonstran, warga yang sekadar ingin melihat, jurnalis, pengguna jalan, dan remaja yang datang karena ajakan media sosial, penanganan situasi harus dilakukan dengan sangat terukur. Kesalahan dalam membaca massa dapat menimbulkan risiko terhadap orang-orang yang sebenarnya tidak terlibat dalam tindakan kekerasan.
Pemerintah juga perlu melihat persoalan ini sebagai sinyal bahwa komunikasi publik terhadap generasi muda belum sepenuhnya efektif. Ketika anak-anak usia sekolah merasa tertarik datang ke lokasi demonstrasi hingga larut malam, ada kebutuhan untuk memahami apa yang sebenarnya mendorong mereka. Jangan hanya melihat mereka sebagai “massa”, tetapi cari tahu bagaimana informasi mengenai aksi tersebut sampai kepada mereka, apa yang mereka pahami tentang tuntutannya, dan mengapa mereka merasa perlu hadir secara langsung.
Tentu tidak adil jika semua remaja yang berada di lokasi langsung dicap sebagai pembuat kerusuhan. Banyak anak muda memiliki kepedulian terhadap persoalan bangsa dan ingin menyampaikan pendapat. Semangat tersebut sebenarnya merupakan sesuatu yang positif dalam kehidupan demokrasi. Yang menjadi masalah adalah ketika keberanian menyampaikan pendapat tidak diimbangi dengan pengetahuan, kedewasaan, dan kesadaran terhadap risiko.
Demonstrasi pada akhirnya merupakan bagian dari demokrasi, bukan arena untuk menguji keberanian atau mencari sensasi. Aspirasi yang kuat tidak membutuhkan kekerasan untuk menjadi berarti, sementara kritik yang tajam tidak harus diwujudkan melalui tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Karena itu, ketika aksi 27 Agustus bertahan sampai dini hari dan terlihat banyak remaja serta pelajar berada di tengah kerumunan, persoalan ini seharusnya menjadi evaluasi bersama. Orang tua perlu lebih memperhatikan aktivitas anak, sekolah perlu memperkuat pendidikan demokrasi dan literasi digital, pemerintah perlu memperbaiki komunikasi publik, sementara aparat harus memastikan pengamanan dilakukan secara proporsional dan melindungi masyarakat yang tidak terlibat.
Yang paling mengkhawatirkan bukan sekadar anak-anak berada di jalan pada tengah malam, tetapi ketika mereka masuk ke dalam situasi yang semakin panas tanpa memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi dan apa konsekuensinya. Jangan sampai keberanian anak muda untuk menyampaikan aspirasi justru berubah menjadi keberanian yang tidak terukur, lalu masa depan mereka harus dibayar dengan luka, trauma, atau persoalan hukum. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan