Beritabanten.com – Perbedaan antara demonstrasi Agustus 2025 dan 27 Agustus 2026 tidak cukup dijelaskan hanya dengan melemahnya isu atau menurunnya semangat publik. Yang terjadi justru lebih dalam: perubahan cara kemarahan publik bekerja. Jika pada 2025 kemarahan itu terkonsolidasi dan meledak dalam satu arah yang jelas, maka pada 2026 ia justru tersebar, terpecah, dan kehilangan titik tekan. Ini bukan sekadar soal jumlah massa, tetapi soal bagaimana energi sosial itu diproduksi, disalurkan, dan dihabiskan.

Dalam kerangka masyarakat jaringan yang dijelaskan Manuel Castells, gerakan sosial modern memang tidak lagi terpusat. Ia cair, cepat, dan terkoneksi melalui ruang digital. Ini menjelaskan bagaimana pada 2025 berbagai kelompok bisa menyatu dalam satu momentum besar. Namun sifat jaringan yang cair itu juga membuatnya rapuh. Tanpa pusat yang kuat, gerakan mudah terpecah ketika terlalu banyak kepentingan masuk. Pada 2026, kita melihat jaringan yang sama tidak lagi menyatu, melainkan berubah menjadi fragmen-fragmen kecil dengan isu masing-masing, sehingga tidak ada lagi satu tekanan politik yang dominan.

Kondisi ini diperparah oleh logika attention economy yang diperkenalkan Herbert A. Simon. Dalam dunia yang dibanjiri informasi, perhatian menjadi sumber daya yang paling langka. Ketika terlalu banyak isu hadir dalam satu aksi, perhatian publik terpecah. Media tidak lagi fokus pada tuntutan utama, melainkan pada kericuhan, konflik kecil, atau peristiwa yang lebih sensasional. Akibatnya, pesan politik kehilangan daya dorongnya. Demonstrasi tetap terjadi, tetapi tidak lagi efektif sebagai alat tekanan.

Namun perubahan paling signifikan justru terjadi pada cara kemarahan publik disalurkan. Dalam konsep “affective publics” dari Zizi Papacharissi, emosi kolektif di era digital tidak lagi harus diwujudkan dalam aksi fisik. Kemarahan bisa disalurkan melalui media sosial—melalui unggahan, komentar, video, dan tagar yang viral. Proses ini menciptakan semacam katarsis instan: publik merasa sudah bersuara, sudah berpartisipasi, tanpa harus turun ke jalan.

Akibatnya, terjadi pergeseran dari mobilisasi ke ekspresi. Jika pada 2025 kemarahan mendorong orang untuk berkumpul secara fisik dan menciptakan tekanan nyata, maka pada 2026 sebagian energi itu sudah “habis” di ruang digital. Kemarahan tidak hilang, tetapi tidak terakumulasi. Ia muncul cepat, viral, lalu menguap. Fenomena ini sering disebut sebagai slacktivism, di mana partisipasi cukup dilakukan secara simbolik tanpa menghasilkan dampak struktural.

Dalam konteks politik, kondisi ini menciptakan situasi yang paradoks. Di satu sisi, publik terlihat sangat aktif—isu terus bergulir, kritik terus muncul, percakapan tidak pernah berhenti. Namun di sisi lain, tekanan terhadap negara justru melemah karena tidak pernah terkonsolidasi dalam satu kekuatan nyata. Energi sosial terdispersi, bukan terakumulasi. Demonstrasi tidak lagi menjadi “ledakan”, melainkan sekadar “gema” yang cepat hilang.

Dengan demikian, perbedaan antara 2025 dan 2026 bukan soal besar atau kecilnya kemarahan, tetapi soal bagaimana kemarahan itu bekerja. Pada 2025, ia bersatu dan menekan. Pada 2026, ia tersebar dan teredam oleh kebisingan. Dalam politik modern, kebisingan sering kali lebih mudah dikelola daripada ledakan. Karena kebisingan tidak pernah benar-benar mengarah, sementara ledakan selalu memiliki tujuan.

Pada akhirnya, kita tidak sedang menyaksikan melemahnya rakyat, tetapi transformasi cara mereka berekspresi. Dari jalanan ke layar, dari aksi ke algoritma. Dan dalam perubahan itu, pertanyaan besarnya menjadi jelas: apakah kemarahan yang selesai di media sosial masih cukup kuat untuk mengubah realitas, atau justru menjadi mekanisme baru yang tanpa sadar meredamnya? (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com