Beritabanten.com – Bantahan GRIB yang menyatakan tidak turun ke jalan dalam kerusuhan 27 Agustus tidak bisa dipahami sebagai penutup persoalan. Justru dalam logika analisis konflik, bantahan tersebut membuka ruang pertanyaan yang lebih besar mengenai siapa aktor sebenarnya di balik mobilisasi massa yang terjadi di lapangan.

Fakta adanya rombongan yang datang menggunakan truk menunjukkan bahwa peristiwa ini bukan sekadar kerumunan spontan, melainkan memiliki unsur pengorganisasian yang jelas. Dalam konteks ini, teori resource mobilization menegaskan bahwa setiap aksi kolektif berskala besar selalu membutuhkan sumber daya—baik manusia, logistik, maupun koordinasi. Dengan kata lain, keberadaan truk dan massa dalam jumlah signifikan adalah indikator adanya struktur mobilisasi yang tidak mungkin terjadi tanpa penggerak.

Ketika organisasi yang dikaitkan justru membantah keterlibatan, maka analisis bergeser ke konsep plausible deniability, yaitu strategi di mana aktor menjaga jarak formal dari tindakan di lapangan untuk menghindari tanggung jawab langsung. Dalam banyak kasus politik dan konflik sosial, fenomena ini bukan hal baru.

Sebuah organisasi atau jaringan bisa saja tidak mengeluarkan perintah resmi, namun tetap memiliki keterhubungan dengan dinamika di lapangan melalui simpatisan, jaringan informal, atau aktor-aktor tingkat bawah. Di sinilah muncul ambiguitas antara “tidak terlibat secara resmi” dan “tidak memiliki hubungan sama sekali”.

Lebih jauh, kondisi ini menciptakan apa yang disebut sebagai accountability vacuum, yaitu kekosongan pertanggungjawaban dalam ruang publik. Tidak ada pihak yang secara terbuka mengakui peran, sementara dampak dari mobilisasi tersebut nyata—terjadi benturan, perusakan, bahkan eskalasi konflik. Dalam situasi seperti ini, publik dipaksa menerima narasi yang terfragmentasi: satu pihak membantah, pihak lain menuding, sementara fakta dasar tentang siapa yang menggerakkan massa justru tidak terjawab.

Fenomena ini dalam praktik sering disebut sebagai “pasukan gelap”, bukan dalam arti konspiratif, tetapi sebagai istilah untuk menggambarkan mobilisasi massa tanpa identitas penggerak yang transparan. Dalam kerangka contentious politics (Tilly dan Tarrow), kondisi seperti ini membuka ruang bagi aktor-aktor yang mampu memanfaatkan momentum konflik untuk mengintervensi arah situasi tanpa harus tampil sebagai pihak resmi. Akibatnya, konflik yang awalnya memiliki agenda tertentu bisa bergeser menjadi chaos yang tidak lagi terkontrol.

Karena itu, jika GRIB secara resmi membantah keterlibatan, maka konsekuensinya bukanlah penyelesaian, melainkan peningkatan beban investigatif. Kepolisian memiliki tanggung jawab untuk menelusuri siapa yang mengorganisir mobilisasi tersebut, siapa yang menyediakan truk, dan siapa yang memicu eskalasi hingga terjadi perusakan. Tanpa proses ini, negara berisiko membiarkan terbentuknya pola mobilisasi tanpa akuntabilitas, di mana aktor-aktor tak terlihat dapat terus beroperasi di ruang publik tanpa pernah dimintai pertanggungjawaban.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berbahaya bagi demokrasi. Ketika mobilisasi massa bisa terjadi tanpa identitas yang jelas, maka ruang publik tidak lagi menjadi arena transparan, melainkan wilayah abu-abu yang rentan dimanipulasi. Kepercayaan publik pun tergerus, karena tidak ada kejelasan siapa yang harus bertanggung jawab. Oleh karena itu, peristiwa 27 Agustus seharusnya tidak berhenti pada bantahan organisasi, tetapi menjadi momentum untuk mengungkap struktur mobilisasi yang sesungguhnya—siapa penggeraknya, siapa pendananya, dan siapa yang diuntungkan dari eskalasi konflik tersebut. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com