Beritabanten.com — Penemuan uang sebesar 240 ribu dolar AS di dalam mobil box yang terparkir di basement Sentul milik Dadan Hindayana bukan sekadar kabar kriminal biasa. Ini adalah simbol telanjang dari bagaimana kekuasaan, uang, dan moralitas bisa berkelindan dalam satu ruang gelap—secara harfiah maupun metaforis. Uang itu tidak disimpan di rekening resmi, tidak pula di brankas institusi, melainkan di dalam kendaraan. Cara penyimpanan ini sendiri sudah menjadi sinyal kuat bahwa ada sesuatu yang tidak ingin terlihat.

Kasus ini menjadi jauh lebih serius karena tidak berdiri sendiri. Ia terkait dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah kebijakan yang secara moral ditempatkan di level tertinggi: menyangkut anak-anak, gizi, dan masa depan bangsa. Ketika program seperti ini terseret dugaan korupsi, yang rusak bukan hanya keuangan negara, tetapi juga kepercayaan publik terhadap niat baik negara itu sendiri.

Dalam perspektif teori korupsi, ini mencerminkan apa yang disebut sebagai “moral hazard dalam kebijakan populis”. Program dengan anggaran besar, legitimasi moral tinggi, dan pengawasan yang belum matang seringkali menjadi ladang empuk bagi aktor-aktor oportunistik. Mereka bersembunyi di balik retorika kesejahteraan, tetapi bekerja dengan logika rente. Uang disalurkan, proyek dijalankan, tetapi sebagian mengalir ke kantong pribadi melalui mekanisme yang sengaja dibuat kabur.

Cara menyimpan uang di mobil juga membuka pertanyaan lain: apakah ini bagian dari praktik ekonomi bayangan (shadow economy) di dalam birokrasi? Uang tunai dalam jumlah besar biasanya berkaitan dengan transaksi yang tidak ingin tercatat. Dalam konteks pejabat publik, ini bisa berarti suap, komisi proyek, atau pengamanan aliran dana tertentu. Apapun itu, semuanya menunjukkan satu hal: sistem pengawasan gagal bekerja secara efektif.

Namun, di tengah kemarahan publik, penting untuk tetap menjaga garis antara fakta hukum dan opini politik. Menyebut seseorang sebagai “pengkhianat” terhadap figur politik tertentu adalah ekspresi emosi, bukan kesimpulan hukum. Kasus ini harus dilihat sebagai ujian terhadap sistem, bukan sekadar individu. Jika hanya berhenti pada satu orang, maka ada risiko besar bahwa ini hanyalah puncak gunung es.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah implikasi jangka panjangnya. Program MBG yang seharusnya menjadi instrumen pengentasan masalah gizi justru berpotensi kehilangan legitimasi. Publik bisa mulai mempertanyakan: apakah makanan yang diberikan benar-benar sampai ke anak-anak, atau sebagian anggarannya justru berakhir di tempat parkir basement?

Dalam konteks politik kekuasaan, kasus ini juga menguji komitmen pemerintah terhadap pemberantasan korupsi. Apakah akan ditindak sampai ke akar, atau berhenti pada level teknis? Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa banyak kasus besar akhirnya berhenti di tengah jalan, ketika mulai menyentuh kepentingan yang lebih tinggi.

Akhirnya, skandal ini bukan hanya tentang uang 240 ribu dolar. Ini tentang bagaimana negara mengelola kepercayaan. Ketika uang publik disembunyikan di mobil, yang ikut disembunyikan sebenarnya adalah integritas. Dan ketika integritas mulai diparkir di basement, maka yang terancam bukan hanya satu program, tetapi fondasi kepercayaan antara rakyat dan negara itu sendiri. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com