Beritabanten.com — Ketika Gunung Anak Krakatau dan Gunung Semeru mengalami erupsi pada pagi yang sama, pertanyaan yang muncul adalah: apakah keduanya saling berhubungan? Secara teori vulkanologi, jawabannya belum tentu. Setiap gunung api memiliki sistem magma dan kondisi tekanan yang berbeda. Indonesia sendiri berada di zona pertemuan lempeng tektonik yang sangat aktif, sehingga memiliki banyak gunung api. Dengan jumlah gunung api aktif yang besar, secara statistik sangat mungkin beberapa gunung memasuki fase erupsi dalam waktu yang berdekatan tanpa harus mempunyai hubungan sebab-akibat langsung.

Teori tektonik lempeng menjelaskan mengapa Indonesia memiliki aktivitas vulkanik yang tinggi. Lempeng Indo-Australia bergerak menunjam ke bawah Lempeng Eurasia/Sunda di sebagian wilayah Indonesia, sementara sistem tektonik di kawasan timur Indonesia juga sangat kompleks. Proses penunjaman tersebut memungkinkan terbentuknya magma di kedalaman dan kemudian memasok sistem gunung api. Namun, Anak Krakatau dan Semeru berada pada sistem vulkanik yang berbeda, sehingga tidak tepat menyimpulkan bahwa tekanan magma dari Krakatau berpindah lalu menyebabkan Semeru meletus.

Ada pula konsep pemicu atau triggering dalam ilmu kebumian. Perubahan tekanan akibat gempa besar atau aktivitas tektonik tertentu secara teoritis dapat memengaruhi sistem magma yang sudah berada dalam kondisi kritis. Tetapi pengaruh semacam ini harus dibuktikan melalui data: apakah terjadi gempa atau perubahan tekanan yang waktunya sesuai, apakah terdapat perubahan kegempaan atau deformasi pada gunung, dan apakah mekanismenya secara fisik masuk akal. Tanpa bukti tersebut, mengatakan bahwa “Krakatau memicu Semeru” hanyalah dugaan.

Yang menarik adalah gunung api tidak harus menunggu gunung lain meletus untuk menjadi aktif. Sistem magma masing-masing terus mengalami perubahan tekanan, suhu, kandungan gas, dan pergerakan magma. Ketika kondisi internal sebuah gunung mencapai keadaan tertentu, erupsi dapat terjadi. Jika beberapa gunung kebetulan mencapai kondisi tersebut dalam periode yang sama, dari permukaan kita akan melihatnya sebagai “erupsi bersamaan”, padahal mekanismenya bisa berbeda-beda.

Karena itu, fenomena beberapa gunung api erupsi dalam satu pagi sebaiknya tidak langsung ditafsirkan sebagai tanda bahwa seluruh sistem vulkanik Indonesia sedang mengalami satu tekanan besar. Korelasi waktu bukan otomatis hubungan sebab-akibat. Dalam sains, para ahli perlu melihat data kegempaan, deformasi tubuh gunung, perubahan gas vulkanik, karakter abu dan magma, serta aktivitas tektonik regional sebelum menarik kesimpulan.

Pada akhirnya, justru di sinilah menariknya mempelajari gunung api: bumi bukan mesin yang bekerja dengan satu tombol pemicu. Indonesia adalah laboratorium alami dengan banyak sistem vulkanik yang aktif dan kompleks. Anak Krakatau dan Semeru bisa sama-sama erupsi pada hari yang sama, tetapi pertanyaan ilmiahnya bukan sekadar “mengapa bersamaan?”, melainkan apakah ada mekanisme yang menghubungkan keduanya, ataukah ini merupakan dua sistem yang secara kebetulan memasuki fase erupsi pada waktu berdekatan? Untuk saat ini, tanpa bukti hubungan langsung, penjelasan kedua jauh lebih hati-hati secara ilmiah. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com