Beritabanten.com – Sebuah rumah bergaya oriental di Perumahan Grand Serpong Residence tampak riuh dengan para jemaah yang mengikuti tahlilan pada Rabu malam 18 Juni 2025.
Perumahan tersebut terletak di Kelurahan Serua, Kecamatan Ciputat, Kota Tangsel, yang berdekatan dengan Resto Hokben di Bundaran Maruga Tangsel
Itu adalah rumah duka kaligrafer atau penulis indah huruf arab berpredikat internasional bernama Isep Misbah yang sedang berduka.
Ibu mertuanya bernama Eah Solehawati binti H. Endin Aminudin, menghembuskan nafas terakhir pada hari Rabu tanggal 11 Juni 2025, pukul 23.50 WIB di RS. Sari Asih Ciputat Kota Tangsel.
Kali ini dalam tahlilannya dihadiri oleh Sekum MUI Kota Tangsel KH Abdul Rojak bekesempatan ceramah tentang kematian.
“Kematian ini nyata terjadi setiap hari, biasa saja. Malam tidur dan pagi bangun,” katanya membuka ceramah, Rabu.
Status orang tidur sama dengan orang mati dalam konteks ruhnya dicabut dari raga, beda orang mati untuk selamanya, sementara yang tidur ruhnya akan kembali ketika bangun.
Jadi, KH Rojak mengajak para jemaah untuk merenungkan kembali makna kematian tersebut agar siap menghadapinya kapan pun nyawa dicabut.
“Dalam buku Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat berjudul Psikologi Kematian, akan terasa sekali kematian itu biasa saja. Itu pertanda otentik mati itu pasti ada,” ucapnya.
Meski demikian, banyak orang yang belum menyadari kepastian mati karena tidak pernah perduli pada amal perbuatannya.
Orang yang kerap melakukan perbuatan yang merugikan orang, dikatakan, sebagai yang tidak sadar bahwa kematian itu biasa saja dan pasti datang.
“Bahkan ada yang berharap pada seseorang untuk cepat mati, karena prilaku hidupnya menjadi ancaman. Kan begitu ya?,” tanya KH Rojak.
Karenanya, hikmah kematian adalah sikap positif pada semua orang yang pada gulirannya akan melahirkan penghargaan, bukan malah caci maki.
“Saya baru tahu, ternyata makam Sultan Hasanudin di Banten itu didoain oleh empat juta orang setiap tahun. Itu artinya sudah mati saja dikenang,” imbuh dia.
Dengan pandangan positif akan kematian tersebut lahir dari amal perbuatannya selama di muka bumi. Jika baik pasti akan dikenang sepanjang zaman.
“Kita ini pasti mati, tinggal persiapkan saja amal yang baik, pasti kita akan dikenang banyak orang meski tidak sebanyak yang ada pada para wali,” pinta dia.
KH Rojak akhirnya mendoakan semua amal perbuatan almarhum bisa menjadi pendorong keluarga bahkan jemaah untuk lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.
“Doakan yang terbaik buat orang tua kita, pasti sampai. Dan kita sendiri akhirnya menyadari pentingnya berbuat bagi selagi nyawa dikandung badan,” demikian KH Rojak. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan