Beritabanten.com – Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Juli 2026 memperlihatkan perubahan menarik dalam dinamika politik nasional.

Jika dirunut dari perolehan elektabilitas, Dedi Mulyadi tampil sebagai figur dengan dukungan tertinggi sebesar 35 persen, disusul Presiden Prabowo Subianto 14,5 persen, sementara Anies Baswedan berada di angka 8,2 persen.

Urutan tersebut menarik karena menunjukkan bahwa pergeseran dukungan publik tidak berlangsung secara linear.

Penurunan elektabilitas petahana ternyata tidak otomatis menguntungkan tokoh oposisi atau pesaing utama pada pemilu sebelumnya.

Fenomena pertama terlihat pada lonjakan elektabilitas Dedi Mulyadi. Dari perspektif ilmu politik, kenaikan tersebut dapat dijelaskan melalui konsep issue ownership yang diperkenalkan John Petrocik.

Dalam beberapa bulan terakhir, Dedi konsisten membangun citra sebagai pemimpin yang dekat dengan masyarakat melalui aktivitas lapangan, penyelesaian persoalan warga, hingga komunikasi intensif di media sosial.

Dedi Mulyadi memberikan respons humoris soal keluhan Rafathar tentang ibunya, Nagita Slavina. Foto: Net

KDM Sering Interaksi Langsung

Ketika isu ekonomi, pelayanan publik, dan kesejahteraan menjadi perhatian utama masyarakat, citra tersebut tampaknya lebih mudah diterima pemilih.

Selain itu, teori political presence menjelaskan bahwa kedekatan dengan publik pada era digital tidak hanya ditentukan oleh jabatan, tetapi juga frekuensi kehadiran di ruang publik.

Dedi hampir setiap hari muncul melalui berbagai konten yang memperlihatkan interaksi langsung dengan masyarakat. Intensitas tersebut memperkuat persepsi bahwa dirinya aktif bekerja dan mudah dijangkau.

Pemilih evaluasi pemerintah Prabowo Subianto berdasarkan kinerja yang mereka rasakan.

Penurunan Kepuasan Publik Terhadap Prabowo

Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto mengalami penurunan elektabilitas menjadi 14,5 persen. Penurunan ini sejalan dengan turunnya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintah dalam survei yang sama.

Menurut teori retrospective voting dari Morris Fiorina, pemilih akan mengevaluasi pemerintah berdasarkan kinerja yang mereka rasakan, terutama dalam aspek ekonomi, biaya hidup, lapangan pekerjaan, dan pelayanan publik.

Ketika persepsi terhadap kondisi tersebut memburuk, sebagian pemilih cenderung menarik dukungannya dari petahana.

Namun, teori tersebut juga menegaskan bahwa pemilih tidak otomatis berpindah kepada tokoh oposisi. Mereka akan memilih figur lain yang dianggap paling mampu menjawab persoalan yang sedang dihadapi.

Di sinilah posisi Anies Baswedan menjadi menarik. Secara teori, berkurangnya dukungan terhadap petahana seharusnya membuka ruang bagi figur alternatif. Namun survei SMRC menunjukkan Anies justru berada di angka 8,2 persen dan belum mengalami kenaikan berarti.

Kondisi ini dapat dijelaskan melalui konsep issue ownership. Selama beberapa tahun terakhir, Anies lebih banyak diasosiasikan dengan isu perubahan, demokrasi, dan tata kelola pemerintahan.

Sementara itu, perhatian masyarakat saat ini lebih banyak tertuju pada persoalan ekonomi dan kebutuhan sehari-hari.

Anies Baswedan dan Susilo Bambang Yudhoyono – Net.

Anies Tanpa Panggung Pemerintahan

Faktor lain adalah berkurangnya political presence. Setelah tidak lagi menjabat sebagai gubernur, Anies tidak memiliki panggung pemerintahan yang menghasilkan eksposur rutin sebagaimana dimiliki kepala daerah aktif.

Dalam teori agenda-setting, tokoh yang lebih sering muncul dalam pemberitaan mengenai isu yang sedang menjadi perhatian publik memiliki peluang lebih besar memengaruhi preferensi masyarakat.

Meski demikian, penting membedakan antara fakta dan interpretasi. Fakta yang ditunjukkan survei adalah Dedi Mulyadi memimpin elektabilitas dengan 35 persen, Prabowo berada di 14,5 persen, dan Anies memperoleh 8,2 persen.

Adapun penjelasan mengenai penyebab pergeseran tersebut merupakan analisis berdasarkan teori politik yang masih memerlukan dukungan data lanjutan, seperti survei mengenai alasan perpindahan pemilih, citra kandidat, dan isu yang paling memengaruhi pilihan masyarakat.

Dengan demikian, hasil survei SMRC tidak menunjukkan bahwa basis pendukung Anies hilang. Survei ini lebih menggambarkan bahwa ruang politik yang muncul akibat melemahnya dukungan terhadap Presiden Prabowo saat ini lebih banyak diisi oleh Dedi Mulyadi.

Sementara Anies masih menghadapi tantangan untuk mengubah modal popularitas dan citra perubahan menjadi dukungan elektoral yang lebih luas. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com