Beritabanten.com – Ketahanan pangan tak harus selalu dimulai dari lahan pertanian yang luas. Dari pekarangan rumah, lahan kosong, hingga sudut lingkungan RW, masyarakat bisa ikut mengambil peran dalam memastikan kebutuhan pangan tetap tersedia. Semangat itulah yang digerakkan puluhan Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kota Tangerang Selatan melalui Gerakan Tanam Serentak (Gertam).

Sebanyak 47 KWT ambil bagian dalam gerakan yang dipusatkan di KWT Kartini 07, Kelurahan Serua, Kecamatan Ciputat Timur, Selasa (3/11/2026). Para anggota KWT bersama pemerintah daerah melakukan pemindahan bibit hasil penyemaian ke media tanam, baik secara konvensional maupun menggunakan planter bag.

Gerakan ini bukan sekadar aktivitas menanam. Di balik bibit yang dipindahkan ke media tanam, tersimpan harapan agar masyarakat semakin mandiri memenuhi kebutuhan pangan sekaligus tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Ketua Forum KWT Kota Tangsel, Agustin, menjelaskan Gertam merupakan program rutin tahunan yang dilaksanakan melalui kolaborasi Forum KWT dengan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Tangsel.

Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak Oktober 2026 melalui penyemaian benih. Memasuki November, bibit yang telah tumbuh mulai dipindahkan untuk dibudidayakan oleh masing-masing kelompok.

Tanaman yang dikembangkan antara lain jagung pulut serta berbagai jenis cabai, mulai dari cabai rawit merah, cabai rawit hijau, cabai merah keriting, hingga cabai merah besar.

“Kurang lebih ada 47 KWT yang mengikuti kegiatan Gertam. Hari ini kami melakukan pemindahan semaian ke media tanam konvensional maupun planter bag,” ujar Agustin.

Menurut Agustin, gerakan tersebut juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat kerja sama antarkelompok wanita tani. Selain itu, masyarakat didorong agar lebih kreatif memanfaatkan lahan kosong dan pekarangan rumah menjadi area produktif.

Semangat itu semakin terlihat melalui bazar yang menampilkan hasil panen serta produk olahan pascapanen dari masing-masing KWT. Hasil pertanian tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga berpeluang memiliki nilai ekonomi ketika dipasarkan kepada masyarakat.

Saat ini, terdapat sekitar 72 KWT yang tersebar di berbagai wilayah Kota Tangsel. Jumlah tersebut berpotensi terus bertambah seiring meningkatnya minat warga terhadap pertanian perkotaan atau urban farming.

Agustin berharap, gerakan ini dapat memperkuat kolaborasi antarkelompok sekaligus mendukung program RW Mantap atau RW Mandiri Tahan Pangan. Dengan keterlibatan masyarakat, ketahanan pangan diharapkan tumbuh dari lingkungan terkecil, yakni keluarga dan RW.

Sementara itu, Asisten Daerah II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemkot Tangsel, Heru Agus Santoso, mengapresiasi keterlibatan masyarakat dalam mengembangkan pertanian perkotaan.

Heru menilai KWT Kartini 07 telah menunjukkan bahwa lahan terbatas bukan penghalang untuk menghasilkan pangan. Melalui pengelolaan yang konsisten, pekarangan dan lahan kosong dapat menjadi sumber sayuran serta kebutuhan dapur warga.

Bahkan, hasil budidaya anggota KWT di lingkungan RW 07 disebut telah membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat setempat. Mereka juga rutin menggelar bazar secara daring menjelang masa panen.

“Alhamdulillah, dari laporan pengurus KWT, hasil tanaman mereka bisa memenuhi kebutuhan warga RW 07. Mereka juga rutin mengadakan bazar secara online setiap menjelang panen,” ungkap Heru.

Heru menegaskan, ketahanan pangan tidak cukup hanya diukur dari tersedianya bahan pokok. Ada tiga aspek penting yang harus dijaga, yakni ketersediaan pangan, keterjangkauan harga, dan kelancaran distribusi.

Karena itu, produksi pangan di tingkat lingkungan menjadi semakin penting. Ketika daerah pemasok mengalami gagal panen atau distribusi terganggu akibat cuaca ekstrem dan bencana, masyarakat setidaknya memiliki dukungan pangan dari hasil budidaya sendiri.

Pemkot Tangsel pun mendorong agar lahan kosong maupun lahan tidur tidak dibiarkan terbengkalai. Lahan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara produktif sehingga memberikan manfaat ekonomi sekaligus membantu memenuhi kebutuhan pangan warga.

Gerakan tanam serentak ini menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan bukan hanya urusan pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Ketika 47 KWT bergerak, puluhan kelompok lainnya tumbuh, dan setiap RW mulai menanam, kemandirian pangan bukan lagi sekadar wacana.

Dari pekarangan rumah, gerakan besar itu bisa dimulai. Sebab, kota yang tangguh menghadapi ancaman pangan adalah kota yang warganya ikut menanam, merawat, memanen, dan saling menguatkan. (Red)

Kata Kunci: KWT Tangsel, Gerakan Tanam Serentak, ketahanan pangan, urban farming, Pemkot Tangsel, RW Mantap, pertanian perkotaan, Ciputat Timur, Agustin, Heru Agus Santoso.

Keterangan Foto:

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com