Beritabanten.com — Di tengah derap pembangunan Kota Tangerang Selatan, masa depan kota tidak hanya ditentukan oleh megahnya gedung, panjangnya jalan, atau pesatnya pertumbuhan ekonomi. Ada kekuatan lain yang tak kalah penting: generasi muda yang berani berpikir, mau bergerak, dan bersedia mengambil tanggung jawab atas lingkungan tempat mereka tumbuh.
Semangat itulah yang kembali mengemuka dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di halaman Balai Kota Tangerang Selatan, Rabu, 28 Oktober 2026. Pemerintah Kota Tangerang Selatan mengangkat tema “Patriotik, Gigih, dan Berempati: Pemuda untuk Indonesia”. Tema ini bukan sekadar rangkaian kata seremonial, melainkan pengingat bahwa pembangunan membutuhkan anak muda yang tidak berhenti pada gagasan, tetapi mampu menerjemahkannya menjadi tindakan nyata.
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie membacakan amanat Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir. Pesan yang disampaikan menekankan pentingnya kecintaan terhadap tanah air, kegigihan menghadapi tantangan, dan empati terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut relevan bagi Tangsel, kota yang terus berkembang dengan beragam persoalan perkotaan dan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks.
Bagi pemuda Tangsel, mencintai Indonesia dapat dimulai dari mencintai kota sendiri. Kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, keselamatan di jalan, ruang publik, pendidikan, hingga kehidupan sosial merupakan bentuk patriotisme yang dekat dengan keseharian. Semangat kebangsaan tidak harus selalu hadir dalam pidato besar. Ia bisa tumbuh dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Di lingkungan permukiman, misalnya, pemuda dapat menjadi penggerak kegiatan sosial, membantu anak-anak yang membutuhkan pendampingan belajar, mengembangkan komunitas olahraga, serta menghidupkan kembali budaya gotong royong. Di ruang digital, mereka bisa memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat, mengembangkan usaha kreatif, dan membantu masyarakat mengakses layanan publik.
Tantangan Tangsel sebagai kota urban juga membutuhkan keterlibatan generasi muda. Pertumbuhan penduduk, kepadatan lalu lintas, persoalan sampah, keterbatasan ruang terbuka, dan kesenjangan akses kesempatan menjadi isu yang tidak bisa diselesaikan pemerintah sendirian. Pemuda dapat ikut menawarkan gagasan, membangun gerakan warga, serta menyampaikan kritik yang berbasis data dan disertai solusi.
Namun, partisipasi pemuda tidak cukup jika hanya dimaknai sebagai tenaga sukarela dalam kegiatan seremonial. Mereka juga perlu memperoleh ruang untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Pemerintah daerah dapat memperkuat forum dialog pemuda, membuka ruang konsultasi kebijakan, dan mendorong kolaborasi antara komunitas, perguruan tinggi, pelaku usaha, serta organisasi kepemudaan.
Keterlibatan tersebut penting agar kebijakan pembangunan tidak hanya berbicara tentang kebutuhan generasi muda, tetapi juga mendengar langsung pengalaman dan gagasan mereka. Anak muda bukan sekadar penerima manfaat pembangunan. Mereka merupakan warga kota yang memiliki hak, pengetahuan, kreativitas, dan kemampuan untuk ikut menentukan arah masa depan Tangsel.
Karakter gigih yang ditekankan dalam amanat Sumpah Pemuda juga memiliki arti penting. Generasi muda menghadapi persaingan kerja, perubahan teknologi, dan tuntutan keterampilan yang terus berkembang. Karena itu, pendidikan, pelatihan, literasi digital, kewirausahaan, dan pengembangan ekonomi kreatif perlu menjadi bagian dari ekosistem yang mendukung mereka bertumbuh.
Pada saat yang sama, empati menjadi modal sosial yang tidak boleh diabaikan. Kemajuan kota akan kehilangan makna jika hanya dinikmati kelompok tertentu. Pemuda perlu membangun kepedulian kepada warga yang menghadapi keterbatasan ekonomi, penyandang disabilitas, anak-anak yang membutuhkan perlindungan, serta kelompok masyarakat yang belum memperoleh kesempatan setara.
Semangat berempati juga berarti menolak perundungan, kekerasan, diskriminasi, dan penyebaran kebencian. Di tengah derasnya arus informasi, generasi muda dituntut tidak sekadar cepat membagikan kabar, tetapi juga cermat memeriksa kebenarannya. Kecakapan digital harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial.
Pesan dalam amanat Menteri Pemuda dan Olahraga yang dibacakan Benyamin mengingatkan bahwa generasi muda harus berani memimpin sekaligus bersedia melayani. Dua hal ini saling melengkapi. Kepemimpinan tidak hanya diukur dari kemampuan mengarahkan orang lain, tetapi juga dari kesediaan mendengarkan, bekerja bersama, dan hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 semestinya menjadi titik tolak untuk memperluas ruang kontribusi anak muda di Tangsel. Pemerintah dapat membuka kesempatan, komunitas menghadirkan inisiatif, perguruan tinggi menyumbangkan pengetahuan, dan dunia usaha mendukung pengembangan keterampilan serta kewirausahaan. Kolaborasi semacam ini dapat membuat energi kepemudaan bergerak lebih terarah.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan peringatan Sumpah Pemuda bukan terletak pada meriahnya upacara, melainkan pada perubahan yang lahir sesudahnya. Apakah semakin banyak anak muda terlibat menyelesaikan persoalan lingkungan? Apakah gagasan mereka mendapat ruang dalam kebijakan publik? Apakah kesempatan pendidikan dan ekonomi semakin terbuka? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk memastikan semangat kepemudaan tidak berhenti sebagai slogan.
Tangsel membutuhkan generasi muda yang patriotik dalam pengabdian, gigih dalam perjuangan, dan berempati dalam pergaulan. Mereka tidak harus menunggu menjadi pejabat atau tokoh besar untuk berbuat sesuatu. Dari kampus, sekolah, tempat kerja, komunitas, hingga lingkungan tempat tinggal, setiap anak muda memiliki kesempatan untuk memberi arti bagi kotanya.
Sumpah Pemuda telah diwariskan oleh generasi yang berani menyatukan perbedaan demi cita-cita bersama. Kini, tantangan generasi muda Tangsel adalah meneruskan semangat itu dalam bentuk yang sesuai dengan zamannya: membangun kota yang lebih manusiawi, inklusif, kreatif, dan memberi kesempatan bagi semua warganya. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan