Beritabanten.com – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Selasa, 3 November 2026, kembali menghadirkan narasi tentang ketahanan dan stabilitas perekonomian Indonesia. Pemerintah bersama otoritas keuangan berusaha meyakinkan publik bahwa kondisi fundamental ekonomi nasional masih terjaga. Memang, Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengakui adanya peningkatan tekanan ekonomi memasuki Oktober. Namun, secara umum pesan yang ingin disampaikan tetap bahwa perekonomian Indonesia memiliki daya tahan menghadapi gejolak global.
Persoalannya, apakah masyarakat cukup diyakinkan hanya dengan pernyataan bahwa ekonomi masih kuat dan stabil? Sebab, pada hari yang sama, pasar saham Indonesia justru memberikan sinyal yang tidak bisa diabaikan. IHSG anjlok 3,78 persen dan ditutup pada level 4.904,29. Indeks bahkan sudah tertekan hingga menembus level psikologis 5.000. Ini bukan sekadar angka di layar perdagangan. Ini merupakan gambaran bagaimana pasar sedang merespons berbagai ketidakpastian dan risiko ekonomi.
Suahasil sendiri mengakui bahwa tekanan ekonomi meningkat akibat eskalasi konflik geopolitik, kenaikan harga energi, pengetatan kebijakan moneter sejumlah negara, serta semakin ketatnya likuiditas. Ia juga menyinggung persoalan MSCI, tekanan nilai tukar, dan arus keluar dari pasar saham. Artinya, pemerintah sebenarnya mengetahui bahwa ada persoalan yang sedang berlangsung. Pertanyaannya, seberapa serius persoalan tersebut dan bagaimana dampaknya terhadap perekonomian nasional ke depan?
Di sinilah persoalan komunikasi pemerintah menjadi penting. Ada kecenderungan bahwa pejabat negara lebih nyaman menyampaikan optimisme daripada menjelaskan secara terbuka seberapa besar risiko yang sedang dihadapi. Kalimat seperti stabilitas terjaga, fundamental kuat, ketahanan ekonomi solid, dan koordinasi berjalan baik hampir selalu menjadi bagian dari komunikasi resmi pemerintah. Padahal, mengakui adanya tekanan bukan berarti harus menyatakan ekonomi sedang runtuh. Keduanya adalah hal yang berbeda.
Dunia sedang menghadapi ketidakpastian. Konflik geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan, pergerakan harga energi, arus modal internasional, dan kebijakan suku bunga negara-negara besar dapat memberikan dampak langsung kepada Indonesia. Kita tidak mungkin mengisolasi perekonomian nasional dari perkembangan tersebut. Karena itu, masyarakat membutuhkan penjelasan yang lebih konkret, bukan sekadar jaminan bahwa semuanya masih terkendali.
Pemerintah juga perlu membedakan antara stabilitas sistem keuangan dan kondisi ekonomi masyarakat. Perbankan yang masih memiliki ketahanan bukan berarti seluruh dunia usaha sedang baik-baik saja. Pasar modal yang masih beroperasi bukan berarti investor tidak sedang menghadapi risiko. Begitu pula pertumbuhan ekonomi yang positif tidak otomatis berarti daya beli masyarakat, kesempatan kerja, dan kemampuan dunia usaha berada dalam kondisi ideal.
Pemerintah tentu perlu menjaga kepercayaan pasar dan masyarakat. Tetapi kepercayaan tidak bisa dibangun hanya melalui konferensi pers yang dipenuhi optimisme. Kepercayaan justru lahir dari keterbukaan, keberanian mengakui persoalan, dan kemampuan menjelaskan langkah konkret untuk mengatasinya. Masyarakat tidak membutuhkan pemerintah yang selalu mengatakan semuanya baik-baik saja. Masyarakat membutuhkan pemerintah yang berani mengatakan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Sebab, masalah ekonomi tidak akan selesai hanya dengan meyakinkan publik bahwa keadaan masih baik-baik saja. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan